Tampilkan postingan dengan label setengah baya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label setengah baya. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Februari 2017

Disetubuhi Anak Kecil

Namaku Veronika. Aku adalah seorang ibu rumah tangga. Usiaku 42 tahun. Suamiku namanya Prasetyo, umur 47 tahun, seorang pegawai pemerintahan di kota B. Aku bahagia dengan suami dan kedua anakku. Suamiku seorang laki-laki yang gagah dan bertubuh besar, biasalah dulu dia seorang tentara. Penampilanku sendiri walaupun sudah berumur tapi sangat terawat karena aku rajin ke salon, fitnes dan yoga. Kata orang, aku mirip seperti Donna Harun. Tubuhku masih bisa dikatakan langsing, walaupun payudaraku termasuk besar karena sudah punya anak 2.




Anakku yang pertama bernama Rika, seorang gadis remaja yang beranjak dewasa. Dia baru saja masuk ke PTN Favorit. Yang kedua namanya Sangga, masih sekolah SMA kelas 2. Si Rika walaupun tinggal serumah dengan kami tapi lebih sering menghabiskan waktu di tempat kosnya di kawasan Gejayan. Kalau si Sangga, karena cowok remaja, lebih sering berkumpul dengan teman-temannya atau pun sibuk berkegiatan di sekolahnya.

Semenjak tidak lagi sibuk mengurusi anak-anak, kehidupan sex ku semakin tua justru semakin menjadi-jadi. Apalagi suamiku selain bertubuh kekar, juga orang yang sangat terbuka soal urusan sex. Akhir-akhir ini, setelah anak-anak besar, kami berlangganan internet. Aku dan suamiku sering browsing masalah-masalah sex, baik video, cerita, atau pun foto-foto. Segala macam gaya berhubungan badan kami lakukan.

Kami bercinta sangat sering, minimal seminggu 3 kali. Entah mengapa, semenjak kami sering berseluncur di internet, gairah seksku semakin menggebu. Sebagai pejabat, suamiku sering tidak ada di rumah, tapi kalau pas di rumah, kami langsung main kuda-kudaan, hehehe.

Sudah lama kami memutuskan untuk tidak punya anak lagi. Tapi aku sangat takut untuk pasang spiral. Dulu aku pernah mencoba suntik dan pil KB. Tapi sekarang kami lebih sering pakai kondom, atau lebih seringnya suamiku ‘keluar’ di luar. Biasanya di mukaku, di payudara, atau bahkan di dalam mulutku. Pokoknya kami sangat hati-hati agar Sangga tidak punya adik lagi. Dan tenang saja, suamiku sangat jago mengendalikan muncratannya, jadi aku tidak khawatir dia muncrat di dalam rahimku.

Sebagai wanita berumur, tubuhku termasuk sintal dan seksi. Payudaraku memang sudah agak melorot, tapi tentu saja lumrah seperti itu karena ukurannya yang memang termasuk besar. Tapi yang jelas, bodiku masih semlohai karena aku masih punya pinggang walapun pantatku termasuk besar. Aku sadar, kalau tubuhku masih tetap sanggup membuat para pria menelan air liurnya. Apalagi aku termasuk ibu-ibu yang suka pakai baju yang agak ketat. Sudah kebiasaan sih dari remaja. Apalagi sekarang susuku tambah besar.

Suamiku termasuk seorang pejabat yang baik. Dia ramah pada setiap orang. Di kampung dia termasuk aparat yang disukai oleh para tetangga. Apalagi suamiku juga banyak bergaul dengan anak-anak muda kampung. Kalau pas di rumah, suamiku sering mengajak anak-anak muda untuk bermain dan bercakap-cakap di teras rumah.

Semenjak setahun yang lalu, di halaman depan rumah kami dibangun semacam gazebo untuk nongkrong para tetangga. Setelah membeli televisi baru, televisi lama kami taruh di gazebo itu sehingga para tetangga betah nongkrong di situ. Yang jelas, banyak bapak-bapak yang curi-curi pandang ke tubuhku kalau pas aku bersih-bersih halaman atau ikutan nimbrung sebentar di tempat itu. Maklumlah, aku khan ibu-ibu yang semlohai, hehehe.

Selain bapak-bapak, ada juga pemuda dan remaja yang sering bermain di rumah. Salah satunya karena gazebo itu juga dipergunakan sebagai perpustakaan untuk warga. Salah satu anak kampung yang paling sering main ke rumah adalah Eki, yang masih SMP kelas 2. Dia anak tetangga kami yang berjarak 3 rumah dari tempat kami. Anaknya baik dan ringan tangan. Sama suamiku dia sangat akrab, bahkan sering membantu suamiku kalau lagi bersih-bersih rumah, atau membelikan kami sesuatu di warung. Sejak masih anak-anak, Eki dekat dengan anak-anak kami, mereka sering main karambol bareng di gazebo. Bahkan kadang-kadang Eki menginap di situ, karena kalau malam gazebo itu diberi penutup oleh suamiku, sehingga tidak terasa dingin.

Pada suatu malam, aku dan suamiku sedang bermesraan di kamar kami. Semenjak sering melihat adegan blowjob di internet, aku jadi kecanduan mengulum kontol suamiku. Apalagi kontol suamiku adalah kontol yang paling gagah sedunia bagiku. Tidak kalah dengan kontol-kontol yang biasa kulihat di BF. Padahal dulu waktu masih manten muda aku selalu menolak kalau diajak blowjob. Entah kenapa sekarang di usia yang sudah lebih 42, aku justru tergila-gila mengulum batang suamiku. Bahkan aku bisa orgasme hanya dengan mengulum batang besar itu. Tiap nonton film blue pun mulutku serasa gatal. Kalau pas tidak ada suamiku, aku selalu membawa pisang kalau nonton film-film gituan. Biasalah, sambil nonton sambil makan pisang, hehehe.

Malam itu pun aku dengan rakus menjilati kontol suamiku. Bagi mas Prasetyo, mulutku adalah tempik keduanya. Dengan berseloroh, dia pernah bilang kalau sebenarnya dia sama saja sudah poligami, karena dia punya dua lubang yang sama-sama hotnya untuk dimasuki. Ucapan itu ada benarnya, karena mulutku sudah hampir menyerupai tempik, baik dalam mengulum maupun dalam menyedot. Karena kami menghindari kehamilan, bahkan sebagian besar sperma suamiku masuk ke dalam mulutku.

Malam itu kami lupa kalau Eki tidur di gazebo depan. Seperti biasa, aku teriak-teriak pada waktu kontol suamiku mengaduk-aduk isi memekku. Suamiku sangat kuat. Malam itu aku sudah berkali-kali orgasme, sementara suamiku masih segar bugar dan menggenjotku terus-menerus. Tiba-tiba kami tersentak ketika kami mendengar suara berisik di jendela.
Segera suami mencabut batangnya dan membuka jendela. Di luar nampak Eki dengan wajah kaget dan gemetaran ketahuan mengintip kami. Suamiku nampak marah dan melongokkan badannya keluar jendela. Eki yang kaget dan ketakutan meloncat ke belakang. Saking kagetnya, kakinya terantuk selokan kecil di teras rumah. Eki terjerembab dan terjungkal ke belakang. Suamiku tak jadi marah, tapi dia kesal juga.

“Walah, Ndun! Kamu itu ngapain?” bentaknya.

Eki ketakutan setengah mati. Dia sangat menghormati kami. Suamiku yang tadinya kesal pun tak jadi memarahinya. Eki gelagepan. Wajahnya meringis menahan sakit, sepertinya pantatnya terantuk sesuatu di halaman.

Aku tadinya juga sangat malu diintip anak ingusan itu. Tapi aku juga menyayangi Eki, bahkan seperti anakku sendiri. Aku juga sadar, sebenarnya kami yang salah karena bercinta dengan suara segaduh itu. Aku segera meraih dasterku dan ikut menghampiri Eki.

“Aduh, mas. Kasian dia, gak usah dimarahin. Kamu sakit Ndun?” Aku mendekati Eki dan memegangi tangannya. Wajah

Eki sangat memelas, antara takut, sakit, dan malu.

“Sudah gak papa. Kamu sakit, Ndun?” tanyaku. “Sini coba kamu berdiri, bisa gak?”

Karena gemeteran, Eki gagal mencoba berdiri, dia malah terjerembab lagi. Secara reflek, aku memegang punggungnya, sehingga kami berdua menjadi berpelukan. Dadaku menyentuh lengannya, tentu saja dia dapat merasakan lembutnya gundukan besar dadaku karena aku hanya memakai daster tipis yang sambungan, sementara di dalamnya aku tidak memakai apa-apa lagi.

“Aduh sorri, Ndun,” pekikku.

Tiba-tiba suamiku tertawa. Agak kesal aku meliriknya, kenapa dia menertawai kami? “Aduh, Mas ini. Ada anak jatuh kok malah ketawa,”

“Hahaha.. lihat itu, Dik. Si Eki ternyata udah gede, hahaha…” kata suamiku sambil menunjuk selangkangan Eki.

Weitss… ternyata mungkin tadi Eki mengintip kami sambil mengocok, karena di atas celananya yang agak melorot, batang kecilnya terlihat mencuat ke atas. Kontol kecil itu terlihat sangat tegang dan berwarna kemerah-merahanan. Malu juga aku melihat adegan itu, apalagi si Eki. Dia tambah gelagepan.

“Hussh, Mas. Kasihan dia, udah malu tuh,” kataku yang justru menambah malu si Eki.
“Kamu suka lihat barusan, Ndun? Wah, hayooo… kamu nafsu ya lihat Bu Veronika?” goda suamiku. Dia malah ketawa-ketawa sambil berdiri di belakangku.

Tentu saja wajah Eki jadi tambah memerah, walaupun tetap saja kontol kecilnya tegak berdiri. Kesal juga aku sama suamiku. Udah gak menolonng malah menertawakan anak ingusan itu.

“Huh, Mas… mbok jangan godain dia, mbok tolongin nih, angkat dia!”
“Lha dia khan udah berdiri.. ya tho, Ndun? Wakakak,” kata suamiku.

Aku sungguh tidak tega melihat muka anak itu yang merah padam karena malu. Aku segera berdiri mengangkang di depannya dan memegangi dua tangannya untuk menariknya berdiri. Berat juga badannya. Kutarik kuat-kuat, akhirnya dia terangkat juga. Tapi baru setengah jalan, mungkin karena dia masih gemetar dan aku juga kurang kuat, tiba-tiba justru aku yang jatuh menimpanya.

Ohhh… aku berusaha untuk menahan badanku agar tidak menindih anak itu, tapi tanganku malah menekan dada Eki dan membuatnya jatuh terlentang sekali lagi. Bahkan kali ini, aku ikut jatuh terduduk di pangkuannya. Dan… ohhhh!

Sleppp… terasa sesuatu masuk tepat di tempikku.

Waah…!! Aku tersentak dan sesaat bingung apa yang terjadi, begitu juga dengan Eki, wajahnya nampak sangat ketakutan. “Aduuuhhh!” teriakku. Sementara suamiku justru tertawa melihat kami jatuh lagi.

Tiba-tiba aku sadar apa yang masuk tepat di lobang tempikku, ternyata kontol kecil si Eki! Kontol itu dengan mudah masuk ke tempikku karena di samping tempikku masih basah sisa persetubuhanku dengan suamiku, juga karena aku tidak mengenakan apa-apa di balik daster pendekku.

Ohhhhh… apa yang terjadi? pikirku. Mungkin juga karena kontol Eki yang masih imut dan lobang tempikku yang biasa digagahi kontol besar suami, jadinya sangat mudah diselipin batang kecil itu.

“Ohhh.. Masss?!!” desisku pada suamiku. Kali ini suamiku berhenti tertawa dan agak mendongal kaget.
“Kenapa, Dek?” tanyanya heran.

Kami bertiga sama-sama kaget, suamiku nampaknya juga menyadari apa yang terjadi. Dia mendekati kami, dan melihat bahwa batang Eki sudah amblas di lobang tempikku. Beberapa saat kami bertiga terdiam bingung dengan apa yang terjadi. Aku merasakan kontol Eki berdenyut-denyut di dalam lobangku. Lobangku juga segera meresponnya, mengingat rasa tanggung setelah persetubuhanku dengan suamiku yang tertunda.

Aku mencoba bangkit, tapi entah kenapa, kakiku jadi gemetar dan kembali selangkanganku menekan tubuh si Eki. Tentu saja kontolnya kembali menusuk lobangku. Ohhh… aku merasakan sensasi yang biasa kutemui kala sedang bersetubuh.

“Ohhh…” desisku.
“Ahhh…” Eki ikut terpekik tertahan. Wajahnya memerah. Tapi aku merasakan pantatnya sedikit dinaikkan merespon selangkanganku.

Slepppp…!! kembali kontol itu menusuk ke dalam lobangku. Yang mengherankan, suamiku diam saja, entah karena dia kaget atau apa. Hanya aku lihat wajahnya ikut memerah dan sedikit membuka mulutnya, mungkin bingung juga untuk bereaksi dengan situasi aneh ini.

Aku diam saja menahan napas sambil menguatkan tanganku yang menahan tubuhku. Tanganku berada di sisi kanan dan kiri si Eki. Sementara Eki dengan wajah merah padam menatap mukaku dengan panik. Agak mangkel juga aku lihat mukanya, panik, takut, tapi kok kontolnya tetap tegang di dalam tempikku. Dasar anak mesum, pikirku.

Tapi aneh juga, aku justru merasakan sensasi yang luar biasa dengan adanya kontol anak yang sudah kuanggap saudaraku sendiri itu di dalam tempikku. Agak kasihan juga melihat mukanya, dan juga muncul rasa sayang. Pikirku, kasihan juga anak ini, dia sangat bernafsu mengintip kami, dan juga apalagi yang dikawatirkan, karena kontolnya sudah terlanjur menusuk ke dalam tempikku.

Aku melirik suamiku sambil tetap duduk di pangkuan si Eki. Suamiku tetap diam saja. Agak kesal juga aku lihat respon mas Prasetyo. Tiba-tiba pikiran nakal menyelimuti. Kenapa tidak kuteruskan saja persetubuhanku dengan Eki, toh kontolnya sudah menancap di tempikku. Apalagi kalau lihat muka hornynya yang sudah di ubun-ubun, kasihan lihat Eki kalau tidak diteruskan.

Dengan nekat aku pun kembali menekan pantatku ke depan. Tempikku meremas kontol Eki di dalam.
Merasakan remasan itu, Eki terpekik kaget. Suamiku mendengus kaget juga.

“Dik, a-a-apa yang kau lakukan?” kata suamiku gagap.

Aku diam saja, hanya saja aku mulai menggoyang pantatku maju mundur.

Suamiku melongo sekarang. Wajahnya mendekat melihat mukaku setengah tak percaya. Eki tidak berani melihat suamiku.

Dia menatap wajahku keheranan dan penuh nafsu.

“Mas… aku teruskan saja ya, kasihan si Eki. Apalagi khan sudah terlanjur masuk, toh sama saja…” bisikku berani.

Aku tak bisa lagi menduga perasaan suamiku. Kecelakaan ini benar-benar di luar perkiraan kami semua. Tapi suamiku memegang pundakku, yang kupikir mengijinkan kejadian ini. Entah apa yang ada di pikiranku, aku tiba-tiba sangat ingin menuntaskan nafsu si Eki.

“Ahh… hh.. hh… ughh!!” Si Eki mengerang-erang sambil tetap berbaring di rerumputan di halaman rumah kami.

Kembali aku memaju-mundurkan pantatku sambil meremas-remas kontol kecil itu di dalam lobangku. Remasanku selalu bikin suamiku tak tahan karena aku rajin ikut senam. Apalagi ini si Eki, anak ingusan yang tidak berpengalaman.

Tiba-tiba, karena sensasi yang aneh ini, aku merasakan orgasme di dalam vaginaku. Jarang aku orgasme secepat itu. Aku merintih dan mengerang sambil memegang erat lengan suamiku. Banjir mengalir dalam lobangku. Otomatis remasan dalam tempikku menguat, dan kontol kecil si Eki dijepit dengan luar biasa.

Eki meringis dan mengerang. Pantatnya melengkung naik dan… crooooott-crooooott-crooooott…!! Cairan panasnya meledak membanjiri rahimku.

Aku seperti hilang kendali, semua tiba-tiba gelap dan aku diserbu oleh badai kenikmatan… Ohh, aku terkulai lemas sambil menunduk menahan tubuhku dengan kedua tangan. Nafasku terengah-engah tidak karuan. Sejenak aku diam tak tahu harus bagaimana.

Aku dan suamiku saling berpandangan. “Dik, I-Eki gak p-pakai kondom.” kata suamiku terbata-bata.
Kami sama-sama kaget menyadari bahwa percintaan itu tanpa pengaman sama sekali, dan aku telah menerima banyak sekali sperma dalam rahimku, sperma si anak ingusan. Ohh… tiba-tiba aku sadar akan risiko dari persetubuhan ini. Aku dalam masa subur, dan sangat bisa jadi aku bakalan mengandung anak dari Eki, bocah SMP yang masih ingusan. Oohhhh…

Pelan-pelan aku berdiri dan mencabut kontol Eki dari tempikku. Kontol itu masih setengah berdiri dan berkilat basah oleh cairan kami berdua. Aku dan suamiku menghela nafas. Cepat-cepat aku memperbaiki dasterku. Dengan gugup, Eki juga menaikkan celananya dan duduk ketakutan di rerumputan.

“Ma-ma’af, Bu..” akhirnya keluar juga suaranya.

Aku menatap Eki dengan wajah seramah mungkin. Suamiku yang akhirnya pegang peranan.

“Sudahlah, Ndun. Sana kamu pulang, mandi dan cuci-cuci!” perintahnya tegas.

“Iya, om. Ma-maaf ya, Om,” kata Eki sambil menunduk.

Segera dia meluncur pergi lewat halaman samping.

“Masuk!” suamiku melihat ke arahku dengan suara agak keras.

Gemetar juga aku mendengar suamiku yang biasanya halus dan mesra padaku. Aduuh, apa yang akan terjadi?
Kami berdua masuk ke rumah, aku tercekat tidak bisa mengatakan apa-apa. Tiba-tiba pikiran-pikiran buruk menderaku, jangan-jangan suamiku tak memaafkanku. Ohh, apa yang bisa kulakukan?

Di dalam kamar tangisanku pecah. Aku tak berani menatap suamiku. Selama ini aku adalah istri yang setia dan bahagia bersama suamiku, tapi malam ini… tiba-tiba aku merasa sangat-sangat kotor dan hina. Agak lama suamiku membiarkanku menangis. Pada akhirnya dia mengelus pundakku.

“Sudahlah bu, ini khan kecelakaan.” katanya.

Hatiku sangat lega. Aku menatap suamiku, dan mencium bibirnya. Tiba-tiba aku menjadi sangat takut kehilangan dia. Kami berpelukan lama sekali.

“Tapi, mas… kalau aku hamil… gimana?” tanyaku memberanikan diri.
“Ah.. mana mungkin, dia khan masih ingusan. Dan kalau pun Dik Idah hamil, khan gak papa, si Sangga juga sudah siap kalau punya adik lagi,” kata suamiku.

Jawaban itu sedikit menenangkan hatiku. Akhirnya kami bercinta lagi. Kurasakan suamiku begitu mengebu-gebu mengerjaiku. Apa yang ada di pikirannya, aku tak tahu, padahal dia barusan saja melihat istrinya disetubuhi anak muda ingusan. Sampai-sampai aku kelelehan melayani suamiku. Pada orgasme yang ketiga aku pun menyerah.

“Mas, keluarin di mulutku saja ya… aku tak kuat lagi,” bisikku pada orgasme ketigaku ketika kami dalam posisi doggy.

Suamiku mengeluarkan kontolnya dan menyorongkannya ke mulutku. Sambil terbaring aku menyedot-nyedot kontol besar itu. Sekitar setengah jam kemudian, mulutku penuh dengan sperma suamiku. Dengan penuh kasih sayang aku menelan semua cairan kental itu.

Hari-hari selanjutnya berlalu dengan biasa. Aku dan suamiku tetap dengan kemesraan yang sama. Kami seolah-olah melupakan kejadian malam itu. Hanya saja, Eki belum berani main ke rumah. Agak kangen juga kami dengan anak itu. Sebenarnya rumah kami dekat dengan rumah Eki, tapi aku juga belum berani untuk melihat keadaan anak itu. Hanya saja aku masih sering ketemu ibunya, dan sering iseng-iseng nanya keadaan Eki. Katanya sih dia baik-baik saja, hanya sekarang lagi sibuk persiapan mau naik kelas 3 SMP.

Seminggu sebelum bulan puasa, Eki datang ke rumah mengantarkan selamatan keluarganya. Wajahnya masih kelihatan malu-malu ketemu aku. Aku sendiri dengan riang menemuinya di depan rumah.

“Hai, Ndun, kok kamu jarang main ke rumah?” tanyaku.
“Eh.. iya, bu. Gak papa kok, Bu,” jawabnya sambil tersipu.
“Bilang ke mamamu, makasih ya,”
“Iya, bu,” jawab Eki dengan canggung. Dia bahkan tak berani menatap wajahku.

Entah kenapa aku merasa kangen sekali sama anak itu. Padahal dia jelas masih anak ingusan, dan bukan type-type anak SMP yang populer dan gagah kayak yang jago-jago main basket. Jelas si Eki tidak terlalu gagah, tapi ukuran sedang untuk anak SMP. Hanya badannya memang tinggi.

“Ayo masuk dulu. Aku buatin minum ya,” ajakku.

Eki tampak masih agak malu dan takut untuk masuk rumah kami. Siang itu suamiku masih dinas ke Kulonprogo. Anak-anak juga tidak ada yang di rumah. Kami bercakap-cakap sebentar tentang sekolahnya dan sebagainya. Sekali-kali aku merasa Eki melirik ke badanku. Wah, gak tahu kenapa, aku merasa senang juga diperhatiin sama anak itu. Waktu itu aku mengenakan kaos agak ketat karena barusan ikut kelas yoga bersama ibu-ibu Candra Kirana. Tentunya dadaku terlihat sangat menonjol.

Akhirnya tidak begitu lama, Eki pamit pulang. Dia kelihatan lega sikapku padanya tidak berubah setelah kejadian malam itu.

Hingga pada bulan selanjutnya, aku tiba-tiba gelisah. Sudah hampir lewat dua minggu aku belum datang bulan. Tentu saja kejadian waktu itu membuatku bertambah panik. Gimana kalau benar-benar jadi? Aku belum berani bilang pada Mas Prasetyo. Untuk melakukan test saja aku sangat takut. Takutnya kalau positif.

Hingga pada suatu pagi aku melakukan test kehamilan di kamar mandi. Dan, deg! Hatiku seperti mau copot. Lembaran kecil itu menunjukkan kalau aku positif hamil.
Oh, Tuhan!!

Aku benar-benar kaget dan tak percaya. Jelas ini bukan anak suamiku. Kami selalu bercinta dengan aman. Dan jelas sesuai dengan waktu kejadian, ini adalah anak Eki, si anak SMP yang belum cukup umur. Aku benar-benar bingung.
Seharian aku tidak dapat berkonsentrasi. Pikiranku berkecamuk tidak karuan. Bukan saja karena aku tidak siap untuk punya anak lagi, tapi juga bagaimana reaksi suamiku bahwa aku hamil dari laki-laki lain. Itulah yang paling membuatku bingung.

Hari itu aku belum berani untuk memberi tahu suamiku. Dua hari berikutnya, justru suamiku yang merasakan perbedaan sikapku.

“Dik Idah, ada apa? Kok sepertinya kurang sehat?” tanyanya penuh perhatian.

Waktu itu kami sedang tidur bedua. Aku tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Yang kulakukan hanya memeluk suamiku erat-erat. Suamiku membalas pelukanku.

“Ada apa sayang?” tanyanya. Badan kekarnya memelukku mesra. Aku selalu merasa tenang dalam pelukan laki-laki perkasa itu.

Aku tidak berani menjawab. Suamiku memegang mukaku, dan menghadapkan ke mukanya. Sepertinya dia menyadari apa yang terjadi. Sambil menatap mataku, dia bertanya,

“Benarkah?”

Aku mengangguk pelan sambil menangis,

“Aku hamil, mas…”

Jelas suamiku juga kaget. Dia diam saja sambil tetap memelukku. Lalu dia menjawab singkat,

“Besok kita ke dokter Merlin.”

Aku mengangguk, lalu kami saling berpelukan sampai pagi tiba.

Hari selanjutnya, sore-sore kami berdua menemui dokter Merlin. Setelah dilakukan test, dokter cantik itu memberi selamat pada kami berdua.

“Selamat, Pak dan Bu Prasetyo. Anda akan mendapatkan anak ketiga,” kata dokter itu riang.
Kami mengucapkan terimakasih atas ucapan itu, dan sepanjang jalan pulang tidak berkata sepatah kata pun.

Setelah itu suamiku tidak menyinggung masalah itu lagi, bahkan dia memberi tahu pada anak-anak kalau mereka akan punya adik baru. Anak-anak ternyata senang juga karena sudah lama tidak ada anak kecil di rumah. Bagi mereka, adik kecil akan menyemarakkan rumah yang sekarang sudah tidak lagi ada suara anak kecilnya.

Malamnya, setelah tahu aku hamil, suamiku justru menyetubuhiku dengan ganas. Aku tidak tahu apakah dia ingin agar anak itu gugur atau karena dia merasa sangat bernafsu padaku. Yang jelas aku menyambutnya dengan tak kalah bernafsu. Bahkan kami baru tidur menjelang jam 3 dini hari setelah sepanjang malam kami bergelut di atas kasur. Aku tidak tahu lagi bagaimana wujud mukaku malam itu karena sepanjang malam mulutku disodok-sodok terus oleh kontol suamiku, dan dipenuhi oleh muncratan spermanya yang sampai tiga kali membasahi muka dan mulutku.

Aku hampir tidak bisa bangun pagi harinya karena seluruh tubuhku seperti remuk dikerjain suamiku. Untungnya esok itu hari libur, jadi aku tidak harus buru-buru menyiapkan sekolah anak-anak.

Hari-hari selanjutnya berlalu dengan luar biasa. Suamiku bertambah hot setiap malam. Aku juga selalu merasa horny. Wah, beruntung juga kalau semua ibu-ibu ngidamnya kontol suami seperti kehamilanku kali ini. Hamil kali ini betul-betul beda dengan kehamilanku sebelumnya yang biasanya pakai ngidam gak karuan. Hamil kali ini justru aku merasa sangat santai dan bernafsu birahi tinggi.

Setiap malam tempikku terasa senut-senut, ada atau tak ada suamiku. Kalau pas ada ya enak, aku tinggal naik dan goyang-goyang pinggang. Kalau pas gak ada, aku yang jadi kebingungan dan akhirnya mencari-cari film-film porno di internet. Sesudah itu pasti aku mainin tempekku pakai pisang, yang jadi langgananku di pasar setiap pagi, hehehe.
Yang jadi masalah adalah perlukah aku memberi tahu si Eki bahwa aku hamil dari benihnya? Aku tidak berani bertanya pada suamiku. Dia mendukung kehamilanku saja sudah sangat membahagiakanku. Aku menjadi bahagia dengan kehamilan ini. Di luar dugaanku, ternyata kami sekeluarga sudah siap menyambut anggota baru keluarga kami. Itulah hal yang sangat aku syukuri.

Pas bulan puasa, tiba-tiba suamiku melakukan sesuatu yang mengherankan. Dia mengajak Eki untuk membantu bersih-bersih rumah kami. Tentu saja aku senang karena suamiku sudah bisa menerima kejadian waktu itu. Aku senang melihat mereka berdua bergotong-royong membersihkan halaman dan bagian dalam rumah.

Eki dan Mas Prasetyo nampak sudah bersikap biasa sebagaimana sebelum kejadian malam itu. Bahkan sesekali Eki kembali menginap di gazebo kami, karena kami merasa sepi juga tanpa kehadiran anak-anak. Si Rika semakin sibuk dengan urusan kampusnya, sementara si Sangga hanya pada malam hari saja menunjukkan mukanya di rumah.
Semenjak itu, suasana di rumah kami menjadi kembali seperti sediakala. Tetap saja gazebo depan rumah sering ramai dikunjungi orang. Cuma sekarang Eki tidak pernah lagi menginap di sana. Mungkin karena hampir ujian, jadi dia harus banyak belajar di rumah.

Beberapa bulan kemudian, tubuhku mulai berubah. Perutku mulai terlihat membuncit. Kedua payudara membesar. Memang kalau hamil, aku selalu mengalami pembengkakan pada kedua payudaraku. Hormonku membuatku selalu bernafsu.
Mas Prasetyo pun seolah-olah ikut mengalami perubahan hormon. Nafsu seksnya semakin menggebu melihat perubahan di tubuhku. Kalau pas di rumah, setiap malam kami bertempur habis-habisan. Gawatnya, payudaraku yang memang sebelumnya sudah besar menjadi bertambah besar. Semua bra yang kucoba sudah tidak muat lagi, padahal bra yang kupakai adalah ukuran terbesar yang ada di toko. Kata yang jual, aku harus pesan dulu untuk membeli bra yang pas di ukuran dadaku sekarang.

Akhirnya aku nekat kalau di rumah jarang memakai bra. Kecuali kalau keluar, itupun aku menjadi tersiksa karena pembengkakan payudaraku. Aku menjadi seperti mesin seks. Dadaku besar dan pantatku membusung. Seolah tak pernah puas dengan bercinta setiap malam. Suamiku mengimbangiku dengan nafsunya yang juga bertambah besar.

Eki akhirnya tahu juga kehamilanku. Dia sering curi-curi pandang melihat perutku yang mulai membuncit. Aku tidak tahu, apakah dia sadar kalau anak dalam kandunganku adalah hasil dari perbuatannya. Yang jelas, Eki menjadi sangat perhatian padaku. Setiap sore dia ke rumah untuk membantu apa saja.

Pada suatu malam, Mas Prasetyo harus pergi dinas ke luar kota. Malam itu kami membiarkan Eki sampai malam di rumah kami, sambil membantu menjaga rumah. Aku harus ikut pengajian dengan ibu-ibu kampung. Jam setengah sepuluh malam aku baru pulang. Sampai di rumah, aku lihat Eki masih mengerjakan tugas sekolahnya di ruang tamu.

“Ndun, Sangga sudah pulang?” tanyaku sambil menaruh payung karena malam itu hujan turun cukup deras.
“Belum, Bu,”

Aku lalu menelpon anak itu. Ternyata dia sedang mengerjakan tugas di rumah temannya. Aku percaya dengan Sangga, karena dia tidak seperti anak-anak yang suka hura-hura. Dia tipe anak yang sangat serius dalam belajar. Apalagi sekolahnya adalah sekolah teladan di kota kami. Jadi kubiarkan saja dia menginap di rumah temannya itu.

Aku lalu berkata ke Eki,

“Kamu nginap sini aja ya, aku takut nih, hujan deres banget dan Mas Prasetyo gak pulang malam ini.” Memang aku selalu gak enak hati kalau cuaca buruk tanpa mas Prasetyo. Takutnya kalau ada angin besar dan lampu mati. Apalagi kami sudah tidak ada lagi masalah dengan kejadian waktu itu.

“Iya, bu, sekalian aku ngerjain tugas di sini,” jawab Eki.

Aku melepas kerudungku dan duduk di depan tivi di ruang keluarga. Agak malas juga aku ganti daster, dan juga ada si Eki, gak enak kalau dia nanti keingat kejadian dulu. Sambil masih tetap pakai baju muslim panjang aku menyelonjorkan kakiku di sofa, sementara si Eki masih sibuk mengerjakan kalkulus di ruang tamu.

Bajuku baju panjang terusan. Agak gerah juga karena baju panjang itu, akhirnya aku masuk kamar dan melepas bra yang menyiksa payudara bengkakku. Aku juga melepas cd ku karena lembab yang luar biasa di celah tempikku. Maklum ibu hamil. Kalau kalian lihat aku malam itu mungkin kalian juga bakalan nafsu deh, soalnya walaupun pakai baju panjang, tapi seluruh lekuk tubuhku pada keliatan karena pantat dan payudaraku memang membesar.

Acara tivi gak ada yang menarik. Akhirnya aku ingat untuk membuatkan Eki minuman. Sambil membawa kopi ke ruang tamu aku duduk menemani anak itu.

“Wah.. makasih, Bu. Kok repot-repot?” katanya sungkan.
“Gak papa, kok.”

Aku duduk di depannya sambil tak sengaja mengelus perutku. Eki malu-malu melihat perutku.

“Bu, udah berapa bulan ya?” tanyanya kemudian sambil meletakkan penanya.
“Menurutmu berapa bulan? Masak nggak tahu?” tanyaku iseng menggodanya.

Tiba-tiba mukanya memerah. Eki lalu menunduk malu. “Ya nggak tahu, bu… Kok saya bisa tahu darimana?” jawabnya tersipu.

Tiba-tiba aku sangat ingin memberi tahunya, kabar gembira yang sewajarnya juga dirasakan oleh bapak kandung dari anak dalam kandunganku ini. Dengan santai aku menjawab, “Lha bapaknya masak gak tahu umur anaknya?”
Eki kaget, gak menyangka aku akan menjawab sejelas itu. Dia langsung gelagapan, hehehe. Apa yang kau harap dari seorang anak ingusan yang tiba-tiba akan menjadi bapak? Wajahnya melongo menatapku takut-takut. Dia tidak tahu akan menjawab apa. Aku jadi tambah ingin menggodanya.

“Kamu sih bapak yang gak bertanggung jawab. Sudah menghamili pura-pura tidak tahu lagi,” kataku sambil melirik menggodanya.

Aku mengelus-elus perutku. Geli juga lihat wajah Eki saat itu. Antara kaget dan bingung serta perasaan-perasaan yang tidak dimengertinya.

“Aku… eee… maaf, Bu… aku tidak tahu…” Eki menyeka keringat dingin di dahinya.
“Memangnya kamu tidak suka anak dalam perutku ini anakmu?” tanyaku.
“Eh… aku suka banget, Bu.. Aku seneng…” Eki benar-benar kalut.
“Ya udah.. kalau benar-benar seneng, sini kamu rasakan gerakannya,” kataku manja sambil mengelus perutku.
“Boleh, Bu, aku pegang?” tanyanya khawatir.
“Ya, sini, kamu rasakan aja. Biar kalian dekat,” perutku terlihat sangat membuncit karena baju muslim yang kupakai hampir tidak muat menyembunyikan bengkaknya.

Eki bergeser dan duduk di sebelahku. Matanya menunduk melihat ke perutku. Takut-takut tangannya menuju ke perutku. Dengan tenang kupegang tangan itu dan kudaratkan ke bukit di perutku. Sebenarnya aku berbohong, karena umur begitu gerakan bayi belum terasa, tapi Eki mana tahu. Dengan hati-hati dia meletakkan telapaknya di perutku.

“Maaf ya, bu,” ijinnya.

Aku membiarkan telapaknya menempel ketat di perutku. Dia diam seolah-olah mencoba mendengar apa yang ada di dalam rahimku. Aku merasa senang sekali karena biar bagaimanapun anak ingusan ini adalah bapak dari anak dalam kandunganku ini.

“Kamu suka punya anak, Ndun?” tanyaku.
“Aku suka sekali, Bu, punya anak dari Ibu. Ohh.. Bu, maafkan saya ya, Bu,” jawab Eki hampir tak kedengaran.

Tangannya gemetar di atas perutku. Eki terlihat sangat kebingungan, tak tahu harus berbuat apa.
Aku juga ikut bingung, dengan perasaan campur aduk. Antara bahagia, bingung, geli, dan macam-macam rasa gak jelas.

Tiba-tiba dadaku berdebar-debar menatap anak muda itu. Anak itu sendiri masih takut-takut melihat mukaku. Kami berdua tiba-tiba terdiam tanpa tahu harus melakukan apa. Tangan Eki terdiam di atas perutku.

“Ndun, gimana perasaanmu lihat ibu-ibu yang lagi bengkak-bengkak kayak aku?” tanyaku memecah kesunyian.
“Saya suka sekali, Bu..” jawabnya.
“Kenapa?”
“Ibu jadi makin cantik.” jawabnya dengan muka memerah.
“Ihh.. cantik dari mana? Aku khan udah tua, dan lagian sekarang badanku kayak gini..” jawabku.

Eki mengangkat wajahnya pelan dan menatapku malu-malu.

“Gak kok, Ibu tetep cantik banget…” jawabnya lirih. Tangannya mulai mengelus-elus perutku lagi. Aku merasa geli, yang tiba-tiba jadi sedikit horny. Apalagi tadi malam Mas Prasetyo belum sempat menyetubuhiku.

“Kok waktu itu kamu tegang ngintip aku sama Mas Prasetyo?” tanyaku manja. Mukaku memerah. Aku benar-benar bernafsu.

Aneh juga, anak kecil ini pun sekarang membuatku pengen disetubuhi. Apa yang salah dengan diriku?

“Aku nafsu lihat badan Ibu…” kali ini Eki menatap wajahku. Mukanya merah. Jelas dia bernafsu. Aku tahu banget muka laki-laki yang nafsu lihat aku.

“Kalau sekarang, masa masih nafsu juga? Aku khan sudah membukit kayak gini..”

Eki blingsatan.

“Sekarang masih iya..” jawabnya sambil membetulkan celana.
“Idiiih…. mana, coba lihat?” godaku.

Eki makin berani. Tangannya gemetar membuka celananya. Dari dalam celananya tersembul keluar sebatang kontol jauh lebih kecil dari punya suamiku. Yang jelas, kontol itu sudah sangat tegang.

“Wah, kok sudah tegang banget. Pengen nengok anakmu ya?” godaku.

Eki sudah menurunkan semua celananya. Tapi dia tidak tahu harus melakukan apa. Lucu lihat batang kecil itu tegak menantang. Aku sudah sangat horny. Tempikku sudah mulai basah. Tak tahu kenapa bisa senafsu itu dekat dengan anak SMP ini. Dengan gemes aku pegang kontol Eki.

“Mau dimasukin lagi?” tanyaku gemetaran.
“Iya, bu.. mau banget!”

Tanpa menunggu lagi aku menaikkan baju panjangku dan mengangkangkan kakiku. Segera tempikku terpampang jelas di depan Eki. Rambut hitam tempikku serasa sangat kontras dengan kulit putihku. Segera kubimbing kontol anak itu ke dalam lobang tempikku. Eki mengerang pelan, matanya terbeliak melihat kontolnya pelan-pelan masuk ditelan oleh tempikku.

“Ohhhh…. Buuu…” desisnya.

Bless!! Segera kontol itu masuk seluruhnya ke dalam lobang tempikku. Aku sendiri merasakan kenikmatan yang aneh. Entah kenapa, aku sangat ingin mengisi lobangku dengan batang kecil itu.

“Diemin dulu di dalam sebentar, biar kamu gak cepat keluar,” perintahku.
“I-iya, Bu..” erangnya. Eki mendongakkan kepalanya menahan kenikmatan yang luar biasa baginya. Sengaja pelan-pelan

kuremas kontol itu dengan vaginaku, sambil kulihat reaksinya.

“Ohhh…” Eki mengerang sambil mendongak ke atas.

Kubiarkan dia merasakan sensasi itu. Pelan-pelan tanganku meremas pantatnya. Eki menunduk menatap wajahku di bawahnya. Pelan-pelan dia mulai bisa mengendalikan diri. Tampak nafasnya mulai agak teratur. Kupegang leher anak itu dan kuturunkan mukanya. Muka kami semakin berdekatan. Bibirku lalu mencium bibirnya.

“Hssh..” kami berdua melenguh, lalu saling mengulum dan bermain lidah.

Tangannya meremas dadaku. Aku merasakan kenikmatan yang tiada tara. Segera kuangkat sedikit pantatku untuk merasakan seluruh batang itu semakin ambles ke dalam tempikku.

“Ndun, ayo gerakin maju mundur pelan-pelan..” perintahku.

Eki mulai memaju-mundurkan pantatnya. Kontolnya walaupun kecil, kalau sudah keras ternyata begitu nikmat sekali di dalam tempikku. Aku mengerang-erang sekarang. Tempikku sudah basah sekali. Banjir mengalir sampai ke pantatku, bahkan mengenai sofa ruang tamu. Aku mengarahkan tangan Eki untuk meremas-remas payudaraku lagi. Dengan hati-hati dia berusaha tidak mengenai perutku karena takut akan menyakiti kandunganku.
Ohhh… aku sudah sangat bernafsu!

Sekitar 15 menit Eki memaju-mundurkan pantatnya. Aku tidak mengira dia sekarang sekuat itu. Mungkin dulu dia panik dan belum terbiasa. Aku tiba-tiba merasakan orgasme yang luar biasa.

“Ohhhh…” teriakku. Tubuhku melengkung ke atas. Eki terdiam dengan tetap menancapkan kontolnya dalam lobangku. “Aku sampai, Ndunnnn…” kataku terengah-engah. Sambil tetap membiarkan kontolnya di dalam tempikku, aku memeluk

pria kecil itu. Badannya penuh keringat. Kami terdiam selama berepa menit sambil berpelukan. Kontol Eki masih keras dan tegang di dalam tempikku.

“Ndun, pindah ke kamar yuk,” ajakku.

Eki mengangguk. Dicabutnya penisnya dan berdiri di depanku. Aku ikut berdiri gemetar karena dampak dari orgasme yang menggebu-gebu barusan. Kemudian aku membimbing tangan anak itu, membawanya ke kamarku.

Di dalam, aku meminta dia melepaskan bajuku karena agak repot melepas baju muslim panjang ini. Di depan pemuda itu aku kini telanjang bulat. Eki juga melepas bajunya. Sekarang kami berdua telanjang dan saling berpelukan. Aku lihat kontolnya masih tegak mengacung ke atas. Aku rebahkan pemuda itu di kasur, lalu aku naik ke atas dan kembali memasukkan kontolnya ke tempikku. Kali ini aku yang menggenjotnya maju mundur. Tangan Eki meremas-remas susuku.
Ohh, nikmat sekali.

Kontol kecil itu benar-benar hebat. Dia berdiri tegak terus tanpa mengendor sedikit pun. Aku sengaja memutar-mutar pantatku supaya kontol itu cepat muncrat. Tapi tetap saja posisinya sama. Aku kembali orgasme, bahkan sampai dua kali lagi.

Orgasme ketiga aku sudah didera kelelahan yang luar biasa. Aku peluk pemuda itu dan kupegang kontolnya yang masih tegak mengacung. Kami berpelukan di tengah ranjang yang biasa kupakai bercinta dengan suamiku.

“Aduuuh, Ndun.. kamu kuat juga ya. Kamu masih belum keluar ya?”
“Gak papa, Bu…” jawabnya pelan.

Tiba-tiba aku punya ide untuk membantu Eki. Kuraih batang kecil itu dan kembali kumasukkan dalam tempikku. Kali ini kami saling berpelukan sambil berbaring bersisian.

“Ndun, Ibu udah lelah banget. Batangmu dibiarin aja ya di dalam, sampai kamu keluar…” bisikku.

Eki mengangguk. Kami kembali berpelukan bagai sepasang kekasih. Tempikku berkedut-kedut menerima batang itu. Kubiarkan banjir mengalir membasahi tempikku, Eki juga membiarkan kontolnya tersimpan rapi dalam tempikku. Karena kelelahan, aku tertidur dengan sebatang kontol ada di dalam tempikku.

Gak tahu berapa jam aku tertidur dengan kontol Eki masih tertanam dalam-dalam, ketika jam 1 malam tiba-tiba hapeku menerima sms. Aku terbangun dan melihat Eki masih menatap wajahku sambil membiarkan kontolnya diam dalam lobangku.

“Aduh, Ndun. Kamu belum bisa bobok? Aduuuh, soriiii ya…” kataku sambil meremas kontolnya dengan tempikku.
“Gak papa kok, Bu. Aku seneng banget di dalam..” kata Eki.

Tanpa merubah posisi aku meraih hp yang ada di meja samping ranjang. Kubuka sms, ternyata dari Mas Prasetyo:

“Hai Say, udah bobok? Kalau belum, aku pengen telp.”

Aku segera balas:

“Baru terbangun, telp aja, kangen.”

Segera setelah kubalas sms, Mas Prasetyo menelponku. Aku menerima teleponnya sambil berbaring dan membiarkan kontol Eki tetap berada di dalam tempikku.

“Hei… Sorii ganggu, udah bobok belum?” tanyanya.
“Gak papa, Mas, kangen. Kapan jadinya balik?” tanyaku.
“Lusa, Dik, ini aku masih di jalan. Lagi ada pembekalan masyarakat. Gimana anak-anak?”
“Hmmm…. “ aku agak menggeliat.

Eki memajukan pantatnya, takut lepas kontolnya dari lobangku. Aku meletakkan jariku di bibirnya agar dia tak bersuara. Eki mengangguk sambil tersenyum.

“Baik, mereka oke-oke saja kok. Udah pada makan dan bobok nyenyak dari jam 9 tadi. Aku kangen, mas…”
“Sama.. pengen nih,” kata suamiku.
“Sini, mau di mulut apa di bawah?” tanyaku nakal.
“Mana aja boleh,”
“Nih, pakai mulutku aja. Udah lama gak dikasih. Udah gatel, hihi…” godaku.
“Aduh, Dik. Aku lagi di kampung sepi. Malah jadi kangen sama kamu. Gimana hayooo?” rengek suamiku. Kami memang biasa saling terbuka soal kebutuhan seks kami.
“Kocok aja, Mas. Aku juga mau,” kataku manja.

Kemudian aku menggeser Eki agar menindih di atas tubuhku. Sambil tanganku menutup hp, aku berbisik ke Eki,

“Sekarang kamu genjot aku sekencang-kencangnya sampai keluar ya. Sekuat-kuatnya!”

Eki mengangguk. Aku lalu menjawab telepon suamiku lagi,

“Ayo, mas, buka celananya..” Aku mengambil cd milikku yang ada di samping ranjang lalu kujejalkan ke mulut Eki.

Eki tahu maksudku agar dia tidak bersuara.

“Oke, Dik. Aku sudah menghunus rudalku..”

Sambil menjawab mesra, aku menekan pantat Eki agar segera memaju-mundurkan kontolnya dalam tempikku. Eki segera membalasnya dan mulai menggenjotku. Aku menyuruhnya untuk menurunkan kakinya ke samping ranjang sehingga perutku tidak tertindih badannya. Sementara aku mengangkang dengan dua kakiku terangkat ke samping kiri dan kanan badan pemuda abg itu.

Ohhh, Ya Tuhan. Bagai kesetanan, Eki menggenjotku seperti yang kuperintahkan. Aku mengerang-erang, begitu juga suamiku.

“Mas, aku masturbasi kesetanan ini… pengen banget! Kamu kocok kuat-kuat yaaa… ahhhhh!!”
“Iyaah… oohhh, untung aku bawa cdmu, buat ngocok nih…. ohhhhh!!” erang suamiku.

Tak kalah hebatnya, Eki terus menggasak lobangku dengan tanpa kompromi. Badan kurusnya maju mundur secepat bor listrik. Aku mengerang-erang tidak karuan. Suara lobangku berdecit-decit karena banjir dan gesekan dengan kontol Eki.

Benar-benar gila malam ini. Aku sudah tidak ingat lagi berapa lama aku digenjot Eki. Suaraku penuh nafsu bertukar kata-kata mesra dengan suamiku. Eki seolah-olah tak pernah lelah. Tubuhnya sudah banjir keringat. Stamina mudanya benar-benar membanggakan. Keringat juga membanjiri tubuhku. Sementara suara suamiku juga meraung-raung kenikmatan, semoga kamar dia di perjalan dinas itu kamar yang kedap suara.

Beberapa saat kemudian aku kehabisan tenaga. Kuminta Eki untuk berhenti sejenak. Pemuda itu nampak terengah-engah sehabis menggenjotku habis-habisan.

Setelah itu kami melanjutkan permainan kami. Eki dengan kuatnya menggenjotku habis-habisan. Aku tak tahu lagi apa yang kecerecaukan di telepon, tapi nampaknya suamiku juga sama saja. Beberapa saat kemudian aku dan suamiku sama-sama berteriak, kami sama-sama keluar.

Aku terengah-engah mengatur nafasku. Lalu suamiku memberi salam mesra dan ciuman jarak jauh. Kami betul-betul terpuaskan malam ini. Setelah ngobrol-ngobrol singkat, suamiku menutup teleponnya.

Di kamarku, Eki masih menggenjotku pelan-pelan. Dia belum keluar rupanya. Wah, gila. Aku kawatir jepitanku mungkin sudah tidak mempan untuk kontolnya yang masih tumbuh. Kubiarkan kontol pemuda itu mengobok-obok tempikku.

Tiba-tiba kudorong Eki, sehingga lepas kontol dari lobangku. Ohhh, lenguhnya kecewa. Lalu aku tarik dia naik ke tempat tidur dan aku segera menungging di depannya. Eki tahu maksudku. Dia segera mengarahkan kontolnya ke tempikku. Tapi segera kupegang kontol itu dan kuarahkan ke lobang yang lain. Pantatku! Mungkin di sanalah kontol Eki akan dijepit dengan maksimal, pikirku tanpa pertimbangan.

Eki sadar apa yang kulakukan. Disodokkannya kontolnya ke lobang pantatku. Tapi lobang itu ternyata masih terlalu kecil bahkan buat kontol Eki. Aku berdiri dan menyuruhnya menunggu. Lalu aku turun dan mengambil jelli organik dari dalam rak obat di kamar mandi. Dengan setia Eki menunggu dengan kontol yang juga setia mengacung. Jelli itu kuoleskan ke seluruh batang Eki, dan sebagian kuusap-usapkan ke sekitar lobang pantatku. Kembali aku menunggingkan pantatku. Eki mengarahkan kotolnya kembali dan pelan-pelan lobang itu berhasil diterobosnya.

“Ohhhhh…” desisku. Sensasinya sangat luar biasa. Pelan-pelan batang kontol itu menyusup di lobang yang sempit itu.
“Aaughhh…” Eki mengerang keras. Setengah perjalanan, kontol itu berhenti. Baru separo yang masuk. Eki terengah-engah, begitu juga aku.
“Pelan-pelan, Ndun…” bisikku.

Eki memegangi bongkahan pantatku dan kembali menyodokkan kontolnya ke lobangku. Dan akhirnya seluruh batang itu masuk dalam lobang pantatku. Ohhh, Tuhan… rasanya sangat luar biasa, antara sakit dan nikmat yang tak terceritakan. Aku mengerang.

Kami berdiam beberapa menit, membiarkan lobangku terbiasa dengan batang kontol itu. Setelah itu Eki mulai memaju-mundukan pinggangnya. Rasanya luar biasa. Pengalaman baru yang membuatku ketagihan.

Beberapa saat kemudian, Eki mengerang-erang keras. Dia memaksakan menggejot pantatku dengan cepat, tapi karena sangat sempit, genjotannya jadi tidak bisa lancar. Kemudian, ohhhhhhhh…

Eki memuncratkan spermanya dalam pantatku!! Crooooott… crooooott… crooooott…

Aku tersungkur dan Eki terlentang ke belakang. Muncratannya sebagian mengenai punggungku. Kami sama-sama terengah-engah dan didera kelelahan yang luar biasa. Aku membalikkan tubuhku dan memeluk Eki yang terkapar tanpa daya. Kami berpelukan dengan telanjang bulat sepanjang malam.

Esoknya, aku bangun jam 6 pagi. Eki masih ada dalam pelukanku. Oh, Tuhan. Untung aku mengunci pintu kamar. Mbok Imah, tetangga yang biasa bantuin ngurusin anak-anak, sudah terdengar suaranya di belakang.

Oh.. apa yang sudah kulakukan tadi malam? Aku benar-benar tidak habis pikir. Kalau malam waktu itu benar-benar hanya sebuah kecelakaan. Tapi malam ini, aku dan Eki benar-benar melakukannya dengan penuh kesadaran. Apa yang kulakukan pada anak abg ini? Aku jadi gelisah memikirkannya, aku takut membuat anak ini menjadi anak yang salah jalan. Rasa bersalah itu membuatku merasa bertambah sayang pada anak kecil itu. Kurangkul kembali tubuh kecil itu dan kuciumin pipinya. Tubuh kami masih sama-sama telanjang.

Aku lihat si Eki masih nyenyak tidur. Mukanya nampak manis sekali pagi itu. Aku mengecup pipi anak itu dan membangunkannya.

“Ndun, bangun. Kamu sekolah khan?” bisikku.

Eki nampak kaget dan segera duduk.

“Oh, Bu.. maaf, aku kesiangan.” katanya gugup.
“Gak papa, Ndun, aku yang salah mengajakmu tadi malam.” Kami berpandangan.
“Maaf, Bu. Aku benar-benar tidak sopan,”
“Lho, khan bukan kamu yang mengajak kita tidur bersama. Aku yang salah, Ndun.” bisikku pelan.

Eki menatapku,

“Aku sayang sama Ibu…” katanya pelan.
“Ndun, kamu punya pacar?”
“Belum, bu,”
“Kamu janji ya jangan cerita-cerita ke siapa-siapa soal kita,”
“Iya, bu, gak mungkinlah,”
“Aku takut kamu rusak karena aku,”
“Gak kok, Bu. Aku sayang sama Ibu.”
“Kamu jangan melakukan ini ke sembarang orang ya,” kataku khawatir.
“Tidak, Bu, aku bukan cowok seperti itu. Tapi kalau sama Ibu, masih boleh kan?” katanya pelan.

Tiba-tiba aku sangat ingin memeluk anak ini.

“Aku juga sayang kamu, Ndun. Sini Ibu peluk.”

Eki mendekat dan kami berpelukan sambil berdiri. Tangannya merangkul pinggangku dan aku memegang pantatnya. Kami berpelukan lama dan saling berpandangan. Lalu bibir kami saling berpagutan. Gila, aku benar-benar serasa berpacaran dengan anak kecil ini. Mulut kami saling bergumul dengan panasnya.

Aku lihat kontol anak itu masih tegak berdiri, mungkin karena efek pagi hari. Tanganku meraih batang itu dan mengocoknya pelan-pelan. Aku berpikir cepat, karena pagi ini Eki harus sekolah, aku harus segera menuntaskan ketegangan kontol itu.

Maka aku segera membalikkan tubuhku dan berpegangan pada meja rias. Sambil melihat Eki lewat cermin, aku menyuruhnya,

“Ndun, kamu pakai jeli itu lagi. Cepat masukin lagi kontolmu ke pantat Ibu.”

Eki buru-buru melumasi batangnya. Aku menyorongkan bongkahan pantatku. Dari cermin aku dapat melihat muka dan badanku sendiri. Ohh… agak malu juga aku melihat tubuhku yang mulai membengkak di sana-sini, tapi masih penuh dengan nafsu birahi.

“Cepat, Ndun, nanti kamu terlambat sekolah,” perintahku.

Sambil memeluk perutku, Eki mendorong kontolnya masuk ke lobang pantatku. Lobang yang semalam sudah disodok-sodok itu segera menerima batang yang mengeras itu.
Segera kami sudah melakukan persetubuhan lagi. Aku dapat melihat adegan seksi itu lewat cermin, di mana mukaku terlihat sangat bernafsu dan juga muka Eki yang mengerang-erang di belakangku.

“Ayo, Ndun, sodok yang kuat!”
“I-iya, Bu..”
“Terusss… lebih cepat!”

Sodokan-sodokan Eki semakin bersemangat. Lobang pantatku semakin elastis menerima batang imutnya. Sungguh kenikmatan yang luar biasa. Tidak berapa lama kemudian kami berdua sama-sama mencapai puncak kenikmatan. Eki membiarkan cairan spermanya meluncur deras dalam pantatku. Kami sama-sama terengah-engah menikmati puncak yang barusan kami daki.

“Ohhh…” Sejenak kemudian aku lepaskan pantatku dari kontolnya.

“Udah, Ndun. Sana kamu mandi, pulang. Nanti kamu terlambat lho sekolahnya,” kataku sambil tersenyum.

Eki mencari-cari pakaiannya. Tiba-tiba kami sadar kalau celana Eki ada di ruang tamu. Aku suruh si Eki nunggu di kamar, sementara aku segera berpakaian dan keluar ke ruang tamu. Moga-moga belum ada yang menemukan celana itu. Untungnya celana itu teronggok di bawah sofa dan terselip sehingga Mbok Imah yang biasanya sibuk dulu menyiapkan sarapan belum sempat membereskan ruang tamu. Celana itu segera kuambil dan kubawa ke kamar. Si Eki yang tadinya nampak panik, kini berubah tenang.

Setelah memakai celananya, Eki kusuruh cepat-cepat keluar ke ruang tamu dan mengambil tas belajarnya yang semalam tergeletak di meja. Setelah itu dia pamit pulang.

Aku sendiri segera mandi. Di kamar mandi aku merasakan sedikit perih di bagian lobang pantatku. Baru kali ini lobang itu menjadi alat seks, itu pun justru dengan anak kecil yang belum tahu apa-apa. Ada sedikit rasa sesal, tapi segera kuguyur kepalaku untuk menghilangkan rasa gundah di dadaku.

Sorenya Eki kembali main ke rumah. Dia sudah sibuk membereskan buku-buku di gazebo kami.

Malam itu Eki tidur lagi di kamarku. Mas Prasetyo baru pulang besok harinya. Selama berjam-jam kami kembali bercinta. Kami saling berpelukan dan berbagi kasih selayaknya sepasang kekasih. Tapi sebelum jam 1, aku suruh Eki untuk segera tidur. Aku khawatir sekolahnya akan terganggu karena aktivitasku.

“Ndun, tadi kamu di sekolah gimana?” bisikku setelah kami selesai ronde ke tiga. Kami berpelukan dengan mesra di tengah ranjang.
“Biasa aja, Bu.”
“Kamu gak kelelahan atau ngantuk di sekolah?”
“Iya, Bu, sedikit. Tapi gak papa, aku tadi sempat tidur siang.”
“Aku takut menganggu sekolahmu,”
“Gak kok, Bu. Tadi aku bisa ngikutin pelajaran,”
“Okelah kalau gitu. Tapi setelah ini kamu tidur ya, gak usah diterusin dulu.”
“Iya, Bu.”
“Besok Mas Prasetyo pulang, kamu gak bisa nginap disini,”
“Iya, Bu. Tapi kapan-kapan saya siap menemani Ibu di sini,”
“Yee…. maunya. Ya, gak papa,” kataku sambil mencubit pinggangnya.
“Aku mau jadi pacar Ibu,”
“Lho, aku khan sudah bersuami?”
“Ya gak papa, jadi apa saja deh,”
“Aku justru kasihan sama kamu. Besok-besok kalau kamu udah siap, kamu cari pacar yang bener ya?”
“Iya, Bu. Aku tetap sayang sama Ibu. Mau dijadiin apa saja juga mau,”
“Idihh.. ya udah, bobok yuk!” kataku kelelahan. Kami tidur berpelukan sampai pagi.

Setelah malam itu, aku semakin sering bercinta dengan Eki. Kapan pun ada kesempatan, kami berdua akan melakukannya. Eki sangat memperhatikan bayi dalam kandunganku. Setiap ada kesempatan, dia menciumi perutku dan mengelus-elusnya. Kasihan juga aku lihat anak kecil itu sudah merasa harus jadi bapak.
Herannya, aku juga kecanduan dengan kontol kecil anak ini. Padahal aku sudah punya kontol yang jauh lebih besar dan tersedia untukku.

Bayangkan, beda usiaku dengan Eki mungkin sekitar 27 tahun. Bahkan anak itu lebih cocok menjadi adik anak-anakku. Tapi hubungan kami bertambah mesra seiring usia kehamilanku yang semakin membesar. Eki bahkan sering ikut menemaniku ke dokter tatkala suamiku sedang dinas keluar. Eki semakin perhatian padaku dan anak dalam kandunganku. Kami sangat bahagia karena bayi dalam kandunganku berada dalam kondisi sehat.

Aku selalu mengingatkan Eki untuk tetap fokus pada sekolahnya, dan jangan terlalu memikirkan anaknya. Yang paling tidak bisa dicegah adalah, Eki semakin lama semakin kecanduan lobang pantatku. Lama-lama aku juga merasakan hal yang sama. Seolah-olah lobang pantatku menjadi eksklusif milik Eki, sementara lobang-lobangku yang lain dibagi antara Eki dan suamiku. Sampai sekarang, suamiku tidak pernah tahu kalau pantatku sudah dijebol oleh Eki.
Lama-lama aku khawatir juga dengan cerita tentang hubungan kelamin lewat pantat dapat menimbulkan berbagai penyakit, termasuk AIDS. Aku akhirnya menyediakan kondom untuk Eki kalau dia minta lobang pantatku. Eki sih oke-oke saja.

Dia juga khawatir, walaupun dia sangat senang ketika masuk ke lubang pantatku.

Untung aku dan suamiku juga kadang-kadang memakai kondom, sehingga aku tidak canggung lagi membeli kondom di apotik. Bahkan aku sering mendapat kondom gratis dari kelurahan.

Mungkin karena masih masa pertumbuhan dan sering kupakai, aku melihat lama kelamaan kontol Eki juga mengalami pembesaran. Kontol yang semakin berpengalaman itu tidak lagi seperti kontol imut pada waktu pertama kali masuk ke tempikku, tapi sudah menjelma menjadi kontol dewasa dan berurat ketika tegang. Aku sadar, kalau aku adalah salah satu sebab dari pertumbuhan instant dari kontol Eki. Kekuatan kontolnya juga semakin luar biasa. Dia tidak lagi gampang keluar, bahkan kalau dipikir-pikir, dia mungkin lebih kuat dari suamiku.

Karena perutku semakin membesar, aku jadi sering memakai celana legging yang lentur dan baju kaos ketat yang berbahan sangat lentur. Kalau di rumah aku bahkan hanya pakai kaos panjang tanpa bawahan. Orang pasti mengira aku selalu pakai cd, padahal sering aku malas memakainya. Entah karena bawaan ibu hamil atau karena nafsu birahiku yang semakin gila.

Waktu ibu Eki mau naik haji, aku ikut sibuk dengan ibu-ibu kampung untuk mempersiapkan pengajian haji. Biasalah, kalau mau naik haji pasti hebohnya minta ampun. Aku termasuk dekat dengan ibu Eki. Namanya bu Masuroh, yang biasa dipanggil Bu Ro. Karena keluarga Eki termasuk keluarga yang terpandang di desa kami, maka acara pengajian itu menjadi acara yang besar-besaran. Banyak ibu-ibu yang ikut sibuk di rumah Bu Ro. Kalau aku ke sana aku lebih sering karena ingin ketemu Eki.

Acara pengajian dan keberadaan Mas Prasetyo di rumah membuat kesempatanku bertemu dengan Eki menjadi sangat terbatas. Sudah lama Eki tidak merasakan lobang pantatku. Aku sendiri bingung bagaimana mencari kesempatan untuk ketemu Eki. Walaupun aku sering pergi ke rumahnya dan kadang-kadang juga diantar Eki untuk berbelanja sesuatu untuk keperluan pengajian, tapi tetap saja kami tidak punya kesempatan untuk bercinta. Akhirnya pada saat pengajian besar itu aku mendapatkan ide.

Sorenya, segera kutelepon Eki menggunakan telepon rumah, karena aku sangat hati-hati memakai hp, apalagi untuk urusan Eki.

“Assalamu’alaikum, Bu. Ini Bu Veronika. Gimana Bu persiapan nanti malam, sudah beres semua?”
“Oh, Bu Veronika. Sudah Bu. Nanti datangnya agak sorean ya, bu. Kalau gak ada Ibu, kita bingung nih,” jawab Bu Ro.
“Iya, beres, Bu. Saya sama Bu Anjar sudah janjian setelah maghrib langsung kesitu. Eki ada, Bu Ro?”
“Ada, Bu, sebentar ya,”

Setelah Eki yang memegang telepon, aku segera bilang: “Ndun, nanti malam kamu pake celana yang bisa dibuka depannya ya,” kataku pelan.

“Iya, Bu,” jawab Eki agak bingung.
“Terus kamu pakai kondom kamu…”

Eki mengangguk lagi, dan telepon segera kututup.

Malam itu pengajian dilangsungkan dengan besar-besaran. Halaman RW kami yang luas hampir tidak bisa menampung jama’ah yang datang dari seluruh penjuru kota. Bu Ro memang tokoh yang disegani masyarakat. Aku datang bersama ibu-ibu RT. Aku memakai kerudung, dengan baju atasan longgar yang menutup sampai bawah pinggang. Bawahannya aku memakai legging ketat, karena memang lagi biasa dipakai ibu-ibu pada saat ini. Apalagi aku lagi hamil, pasti orang-orang pada maklum akan kondisiku.

Yang tidak biasa adalah bahwa aku tidak memakai apapun di balik celana leggingku. Sengaja aku tinggalkan cd-ku di rumah, karena aku punya sebuah ide untuk Eki.

Setelah semua urusan kepanitiaan beres, aku segera bergabung dengan ibu-ibu jama’ah pengajian. Tapi kemudian aku dan beberapa ibu yang lain pindah ke halaman, karena lebih bebas dan bisa berdiri. Hanya saja halaman itu sudah sangat penuh dan berdesak-desakan. Justru aku memilih tempat yang paling ramai oleh pengunjung. Di kejauhan aku melihat Eki dan memberinya kode untuk mengikutiku.

Eki beranjak menuju ke arahku, sementara aku mengajak Bu Anjar untuk ke sebuah lokasi di bawah pohon di lapangan RW. Lokasi itu agak gelap karena bayangan lampu tertutup rindangnya pohon. Walaupun demikian, banyak anggota jama’ah di situ yang berdiri berdesak-desakan.

“Kita sini aja, Bu, kalau Ibu mau. Tapi kalau ibu keberatan, silakan Ibu pindah ke sana,” kataku pada Bu Anjar.
“Gak papa, Bu, di sini lebih bebas. Bisa bolos kalau udah kemaleman, hihihi..” kata Bu Anjar.
“Iya, ya. Biasanya pengajian ginian bisa sampai jam 12 lho,”

Kami lalu bercakap-cakap dengan seru sambil mendengarkan pengajian. Ternyata di sebelah Bu Anjar adan Bu Kesti yang juara negrumpi. Kami segera terlibat pembicaraan serius sambil sekali-kali mendengarkan ceramah kalau pas ada cerita-cerita lucu. Kami berdiri agak di barisan tengah, Bu Anjar dan Bu Kesti mendapat tempat duduk di sebelahku.

“Bu, monggo kalau mau duduk,” tawarnya padaku.
“Wah, gak usah, Bu. Saya lebih suka berdiri gini aja,” jawabku. Padahal aku sedang menunggu Eki yang sedang berusaha menyibak kerumunan menuju ke arah kami.

Akhirnya Eki tiba di belakangku. Dua ibu-ibu sebelahku tidak memperhatikan kehadiran Eki, tapi aku melirik anak muda itu dan menyuruhnya berdiri tepat di belakangku. Aku bergeser berdiri sedikit di belakang bangku Bu Anjar dan
Bu Kesti. Sementara Eki dengan segera berdiri tepat di belakangku.

Dengan diam-diam aku menempelkan pantatku ke badan Eki. Eki tersenyum dan memajukan badannya. Pantatku yang semlohai segera menempel pada kontol Eki yang sudah tegang di balik celananya.

Aku berbisik pada Eki, “Buka, Ndun. Udah pakai kondom?”

Eki mengangguk dan membuka risliting celananya. Segera tersembul batangnya yang sudah mengeras. Segera kusibakkan baju panjangku ke atas dan nampaklah leggingku sudah kuberi lobang di bagian belahan pantat. Eki nampak terkejut, dan sekaligus mengerti maksudku.

Dengan pelan-pelan diarahkannya batang kerasnya ke lobang pantatku. Dan, slepppp… masuklah batang itu ke lobang favoritnya. Tangan Eki masuk ke dalam baju kurungku sambil mengelus-elus perutku. Batangnya berada di dalam lobangku sambil sesekali dimaju-mundurkan. Kami bercinta di tengah keramaian dengan tanpa ada yang menyadari. Walaupun begitu aku tetap bercakap-cakap dengan dua ibu-ibu tetanggaku, sementara di kanan kiri kami orang-orang sibuk mendengarkan ceramah dengan berdesak-desakan.

Sekitar satu jam Eki memelukku dalam gelap dari belakang. Tiba-tiba tempikku berkedut-kedut, pengen ikut disodok. Kalau dari belakang berarti aku harus lebih menunduk lagi. Pelan-pelan kutarik keluar kontol Eki dan kulepas kondomnya. Aku kembali mengarahkannya, kali ini ke lubang tempikku. Eki mengerti. Lalu, bless… dengan lancarnya kontol itu masuk ke tempikku dari arah belakang.

Ohh, enak sekali. Aku mulai tidak konsentrasi terhadap ceramah maupun obrolan dua ibu-ibu itu. Karena hanya sesekali kami bergoyang, maka adegan persetubuhan itu berlangsung cukup lama. Kepalaku sudah mulai berkunang-kunang penuh kenikmatan. Di tengkukku aku merasakan nafas Eki semakin ngos-ngosan.

Beberapa saat kemudian, aku mengalami orgasme hebat, tanganku gemetar dan langsung memegang sandaran bangku di depanku. Eki juga kemudian memuncratkan maninya dalam tempikku. Kami berdua hampir bersamaan mengalami orgasme itu.
Setelah agak reda, aku mendorong Eki dan mengeluarkan kontolnya.

Cepat-cepat Eki memasukkan kembali ke dalam celana, dan kuturunkan baju bagian belakangku. Aku dan ibu-ibu itu memutuskan untuk pulang sebelum acara selesai. Untung saja aku dan Eki sudah selesai. Dengan mengedipkan mata, aku menyuruh Eki untuk meninggalkan lokasi. Akhirnya terpuaskan juga hasrat kami setelah hari-hari yang sibuk yang memisahkan kami.

Kusetubuhi Ibu Kawanku

еngаn bеrmаin сintа ѕаmа уаng lеbih tuа mеruраkаn ѕеnѕаѕi tеrѕеndiri buаt ѕауа, kаrеnа rаѕа уаng dibеrikаn lеbih dаri ара уаng ѕауа inginkаn, Sауа mеmрunуаi ѕеоrаng tеtаnggа, ѕеkаliguѕ kаwаn bеrmаin, ѕеbut ѕаjа nаmаnуа Reno. Sауа bеrkаwаn dаn bеrѕаhаbаt dеngаn diа ѕudаh ѕеjаk kесil. Hubungаn ѕауа dеngаn Reno ѕudаh ѕереrti kаkаk bеrаdik. Kаmi selalu bеrmаin bersama, ѕауа kе rumаhnуа аtаuрun diа уаng kе rumаhku.

Mаkаn dаn tеrkаdаng tidur рun kаmi ѕеring bеrѕаmа. Reno ini аnаk tеrtuа dаri 2 bеrѕаudаrа. Aуаhnуа pergi entah kemana kеtikа diа bеrumur 12 tаhun. Reno ini mеmрunуаi ibu, nаmаnуа Maya. Mеѕkiрun Tante Maya ini ibu dаri tеmаn dеkаt ѕауa. Kаrеnа ѕауа ѕudаh tеrbiаѕа bеrgаul dеngаn kеluаrgа Tante Maya, mаkа Tante Maya mеngаnggар ѕауа ѕudаh ѕереrti аnаknуа ѕеndiri. Sеhinggа Tante Maya tidаk mеrаѕа mаlu untuk bеrtingkаh wаjаr di hаdараnku, tеrutаmа ѕеkаli diа ѕudаh tеrbiаѕа bеrраkаiаn minim, mеѕkiрun ѕауа аdа di dераnnуа.

Aраbilа ѕеlеѕаi mаndi, dаn kеluаr dаri kаmаr mаndi, Tante Maya tаnра mаlu-mаlu jаlаn di hаdараn ѕауа hаnуа dеngаn mеlilitkаn hаnduk di tubuhnуа. Sеhinggа dеngаn jеlаѕ ѕеkаli tеrlihаt kеmоlеkаn tubuhnуа. Wаrnа kulitnуа уаng kuning bеrѕih, dеngаn bеntuk раntаt уаng bulаt dаn ѕintаl, ѕеrtа ѕераѕаng lеngаn уаng indаh dеngаn bеbаѕnуа dараt diраndаngi, mеѕkiрun ѕауа раdа ѕааt itu mаѕih SD аtаuрun SMP, tеtарi ѕесаrа nаluri, ѕауа ѕudаh ingin jugа mеlihаt kеmоlеkаn tubuh Tante Maya.

Hubungаn dеngаn Reno tеtар bаik, mеѕkiрun ѕауа ѕudаh рindаh rumаh dаn mеѕkiрun ѕауа ѕudаh kuliаh kе lаin kоtа, hubungаn ѕауа dеngаn kеluаrgа Tante Maya jugа tеtар tidаk bеrubаh. Kаlаu ѕауа рulаng kе rumаh ѕеbulаn ѕеkаli, ѕауа ѕеlаlu ѕеmраtkаn mаin kе rumаh Reno.

Sеtеlаh ditinggal oleh suaminya, Tante Maya ѕеlаmа kurаng lеbih 6 tаhun tеtар mеnjаndа. Mеѕkiрun ѕеbеnаrnуа bаnуаk lаki-lаki уаng tеrtаrik раdаnуа, kаrеnа Tante Maya ini оrаngnуа саntik, ѕеkѕi, kulitnуа kuning, biсаrаnуа rаmаh dаn ѕuреl. Pеnаmрilаnnуа ѕеlаlu nаmраk bersih. Tеtарi ѕеmuаnуа ditоlаk, kаrеnа аlаѕаn Tante Maya раdа ѕааt itu kаtаnуа lеbih bеrkоnѕеntrаѕi untuk mеngаѕuh аnаk-аnаknуа. Tеtарi ѕеtеlаh 6 tаhun mеnjаndа dank arena alasan ekonomi, аkhirnуа diа mеnikаh dеngаn ѕеоrаng dudа tuа,уаng mеѕkiрun kауа rауа tеtарi ѕаkit-ѕаkitаn. Tеtарi реrkаwinаn ini hаnуа bеrtаhаn kurаng lеbih 1 tаhun, kаrеnа ѕuаminуа уаng bаru ini аkhirnуа jugа mеninggаl.

Sеtеlаh ѕауа Dеwаѕа, rаѕа tеrtаrik ѕауа dеngаn Tante Maya ѕеmаkin mеnggеbu. Tubuh уаng ѕеkѕi, раntаt уаng раdаt, dаn bеtiѕ уаng kесil ѕеrtа indаh ѕеlаlu mеnjаdi ѕаѕаrаn mаtа ѕауа. Tеrkаdаng ѕауа ѕеring mеnсuri раndаng dеngаn TAnte Maya, раdа ѕааt ngоbrоl dеngаn Reno dаnkеbеtulаn Tante Maya lеwаt. Aраlаgi kаlаu ѕеdаng ngоbrоl dеngаn Reno dаn Tante Maya ikut, wаh rаѕаnуа jаdi ѕеnаng ѕеkаli. Bаhkаn ѕеring ѕауа ѕеngаjа mаin kе rumаh Reno, dimаnа раdа ѕааt Reno tidаk аdа di rumаh, ѕеhinggа ѕауа dеngаn lеluаѕа dараt ngоbrоl bеrduа dеngаn Tante Maya.

Mеѕkiрun kеinginаn untuk bеrсintа dеngаn Tante Maya ѕеlаlu mеnggеbu, tеtарi ѕауа mаѕih kеѕulitаn untuk mеnсаri саrа mеmulаinуа. Tеrkаdаng rаѕа rаgu dаn mаlu ѕеlаlu mеnghаntui, tаkut kаlаu nаnti Tante Maya mеnоlаk untuk diаjаk bеrсintа. Tеtарi kаlаu kеmаuаn ѕudаh kuаt, ѕеgаlа саrа аkаn ditеmрuh dеmi tеrсараinуа kеinginаn. Hаl ini tеrjаdi ѕесаrа kеbеtulаn, kеtikа ѕuаtu ѕоrе Tante Maya mintа tоlоng ѕауа untuk mеngаntаrkаn mеlihаt rumahnya yang sedang dibangun.

Kаmi bеrduа bеrаngkаt dеngаn mеmаkаi mоbil ѕауа. Kаrеnа lоkаѕinуа mаѕih bаru dаn mаѕih dаlаm tаhар реmbаngunаn, ѕеhinggа ѕеѕаmраinуа di lоkаѕi, ѕuаѕаnаnуа tеrlihаt ѕерi, tidаk аdа ѕеоrаng рun di tеmраt itu. Kаmi bеrduа bеrkеliling-kеliling dеngаn bеrjаlаn kаki mеlihаt-lihаt rumаh-rumаh уаng bаru dibаngun. Tante Maya mengajak saya mаѕuk kе ѕаlаh ѕаtu rumаhnya уаng ѕеdаng dibаngun, уаng tеntunуа mаѕih kоѕоng, kаmi mеlihаt-lihаt kе dаlаmnуа.

Kаmi bеrjаlаn bеrdаmрingаn, dаn ѕеtеlаh mаѕuk rumаhnya уаng ѕеdаng dalam tahap finishing, dеngаn tibа-tibа ѕауа dеkар рundаknуа, ѕауа rеkаtkаn kе dаdа ѕауа, реrаѕааn ѕауа раdа ѕааt itu tidаk mеnеntu, аntаrа ѕеnаng, tаkut kаlаu-kаlаu diа mаrаh dаn mеnаmраr ѕауа, dаnреrаѕааn birаhi уаng ѕudаh ѕаngаt mеnggеbu. Tеtарi ѕуukur, tеrnуаtа diа hаnуа tеrѕеnуum mеmаndаng ѕауа. Mеlihаt tidаk аdа реnоlаkаn уаng bеrаrti, ѕауа mulаi bеrаni untuk mеnсium рiрinуа, lаgi-lаgi diа hаnуа tеrѕеnуum mаlu ѕаmbil рurа-рurа mеnjаuhkаn diri dаn ѕаmbil bеrkаtа,

“Aсh.. Dimas ini аdа-аdа ѕаjа..”
Sауа bеrkаtа, “Tante mаrаh уаа..?”

Diа hаnуа mеnjаwаb dеngаn gеlеngаn kераlа dаn ѕаmbil tеrѕеnуum tеruѕ mеnundukkаn kераlа. Mеlihаt bаhаѕа tubuh уаng mеnunjukkаn “lаmрu Hijаu”, ѕеrаngаn ѕауа ѕеmаkin bеrаni. Sауа mеngеjаrnуа dаn mеndеkарnуа, dаn аkhirnуа ѕауа bеrhаѕil mеnсium bibirnуа уаng tiрiѕ, mungil dаn bеrkilаt оlеh liрѕtiсk уаng ѕеlаlu mеnghiаѕi bibirnуа. Sаmbil ѕауа bеrѕаndаr di dinding, ѕауа dеkар dеngаn еrаt tubuh Tante Maya.

Sауа сium bibirnуа, “Uhhmm..” diа bеrgumаm dаn bаlаѕ mеmеluk dеngаn еrаt. Tеrnуаtа tаnра didugа, TAnte Maya mеmbаlаѕ сiumаn ѕауа dеngаn bеrgаirаh. Sауа kеmbаli bаlаѕ сiumаnnуа уаng ѕаngаt bеrgаirаh dеngаn реrmаinаn lidаh ѕауа. Lidаh kаmi ѕudаh mеnаri-nаri. Kеduа tаngаn ѕауа ѕudаh mеnсаri ѕаѕаrаn-ѕаѕаrаn уаng ѕеnѕitif. Bukit kеmbаrnуа уаng mungil tарi mаѕih раdаt dаn tеrlihаt ѕеkѕi mеnjаdi ѕаѕаrаn kеduа tаngаn ѕауа.

Kеduа bukit kеmbаr ini ѕudаh lаmа kuidаm-idаmkаn untuk mеnjаmаhnуа. Kаmi bеrсiumаn аgаk lаmа. Nаfаѕ Tante Maya ѕеmаkin mеmburu. Ciumаn, ѕауа аlihkаn dаri bibirnуа уаng mungil turun kе lеhеrnуа. Diа mеnеngаdаhkаn wаjаhnуа ѕаmbil mаtаnуа tеrреjаm. Mеnikmаti rаngѕаngаn kеnikmаtаn уаng ѕudаh lаmа tidаk diа rаѕаkаn.

“Uсhmm.. mm..”
mulutnуа ѕеlаlu bеrgumаm, tаndаnуа diа mеnikmаtinуа. Kеduа tаngаn ѕауа dеkарkаn kе раntаtnуа уаng bulаt dаn ѕеkѕi. Sеhinggа tubuhnуа ѕеmаkin mаrараt kе tubuh ѕауа. Dеkараn kеduа tаngаnnуа kе lеhеr ѕауа ѕеmаkin diреrkuаt, ѕеiring dеngаn lеnguhаn bibirnуа уаng ѕеmаkin раnjаng,
“Uuuссhmm.. mm.”

Bаtаng kеjаntаnаn уаng tеgаng ѕеjаk bеrаngkаt dаri rumаh Tante Maya, kini ditеkаn dеngаn kеnсаng оlеh tubuh Tante Maya уаng bеrgоуаng-gоуаng. Rаѕа nikmаt mеnjаlаr dаri bаtаng kеjаntаnаnku mеngаlir nаik kе ubun-ubun. Ciumаnku tеruѕ turun ѕеtеlаh bеbеrара lаmа ѕinggаh di lеhеrnуа, turun mеnuruni сеlаh bukit kеmbаrnуа. Kеduа BH-nуа уаng bеrwаrnа hitam, ѕеrаѕi dеngаn kulitnуа уаng lаngѕаt, ѕеmаkin mеnаmbаh indаhnуа ѕuѕu Tante Maya. Kisah Ngentot

Kisah Ngentot Kunafsui Ibu Dari Temanku – Kаrеnа tubuh Tante Maya аgаk kесil, ѕауа аgаk ѕеdikit bеrjоngkоk, аgаr mаmрu mеnсium kеduа ѕuѕunуа уаng ѕudаh mеngеrаѕ. Kеduа tаngаn ѕауа реrgunаkаn untuk mеnаhаn рunggungnуа уаng mulаi mеlеngkung аtаѕ ѕеnѕаѕi сiumаn ѕауа kе ѕuѕunуа. Dеru nаfаѕ Tante Maya ѕеmаkin mеmburu.

Gеѕеkаn tubuhnуа kе bаtаng kереrkаѕааn ѕауа ѕеmаkin сераt frеkuеnѕinуа, dаn аkhirnуа,
“Udасh ассh Dimas.. jаngаn diѕini, nggаk еnаk kаlаu nаnti kеtаhuаn..” ѕаmbil bеruѕаhа mеlераѕkаn tubuhnуа dаri dеkараn ѕауа.
“Sеbеntаr Mmmbbаk..!” jаwаb ѕауа dеngаn mulut tidаk bеrgеѕеr dаri ѕuѕunуа.
“Dimas, nаnti kitа lаnnjuttkаn di llаin ttеmmраt..” ѕurаnуа tеrрutuѕ-рutuѕ kаrеnа tеrѕеngаl оlеh nаfаѕnуа уаng mеmburu.
“Okе dесh Tante, tарi Tante hаruѕ jаnji dulu, kараn dilаnjutkаnnуа dаn dimаnа..?” tаnуаku ѕаmbil mаѕih mеndеkар dеngаn еrаt tubuh Tante Maya.
“Bеѕоk раgi ѕаjа di rumаhku. Kаrеnа kаlаu раgi rumаhku ѕерi.”
“Okе dесh, bеѕоk раgi ѕауа dаtаng lаgi.”
“Yuk kitа рulаng, аntеr аku dulu kе rumаh, аnаk nаkааll..!” рintа Tante Maya mаnjа ѕаmbil mеnсubit hidungku.
“Aku аntаr kе rumаh, tарi kаѕih dulu uаng mukа untuk bеѕоk раgi.” ѕаmbil mеngаrаhkаn сiumаn ѕауа kе bibirnуа ѕеkаli lаgi ѕеbаgаi uаng mukа untuk bеѕоk раgi.

Diа bеlum ѕеmраt tеrѕеnуum kаrеnа bibirnуа ѕudаh kukulum dеngаn mеѕrаnуа. Hаri mulаi gеlар dаn gеrimiѕ mеngiringi kерulаngаn kаmi. Kаmi bеrjаlаn рulаng kе rumаh Tante Maya, tеtарi ѕuаѕаnа dаlаm реrjаlаnаn рulаng ѕudаh jаuh bеrbеdа dеngаn ѕuаѕаnа kеtikа kаmi bеrаngkаt tаdi. Kаrеnа kеtikа kаmi bеrаngkаt tаdi, реrilаku kаmi ѕеbаgаi ѕеоrаng tаntе dеngаn “teman anaknya”, tарi ѕеkаrаng ѕudаh bеrubаh mеnjаdi реrjаlаnаn ѕеоrаng tаntе dеngаn “kееnаkаnnуа”.

Sеlаmа реrjаlаnаn, Tante Maya mеnggоdа ѕауа, “Wаduh.., tеrnуаtа ѕеlаmа ini ѕауа ѕаlаh, ѕауа kirаin Kamu itu оrаngnуа аlim, tарi tеrnуаtа..”
“Tеrnуаtа еnаk khаn..?” gоdа ѕауа ѕаmbil mеnсubit dаgunуа уаng mеnggеmаѕkаn. Kаmi bеrduа tеrtаwа bеrdеrаi.
“Kаlаu tаhu gitu, mеnding dаri dulu уаа..?” kаtа Tante Maya mеnggоdа.
“Iуа kаlаu dаri dulu, mеmеk Tante mungkin tidаk kаrаtаn уа..?” bаlаѕku mеnggоdа.
“Emаngnуа bеѕi tuа..!” jаwаb Tante Maya bеrѕungut.
“Bukаn bеѕi tuа, tарi bеѕi рuѕаkа.” jаwаb ѕауа.

Sеlаmа реrjаlаnаn, tаngаn Tante Maya tidаk hеnti-hеntinуа ѕеlаlu mеrеmаѕ tаngаn ѕауа уаng ѕеbеlаh kiri. Tаngаn ѕауа bаru dilераѕkаn kеtikа ѕауа реrgunаkаn untuk рindаh gigi ѕаjа. Sеlеbihnуа ѕеlаlu diреgаng dаn dirеmаѕ-rеmаѕ оlеh Tante Maya.

“Tante.., jаngаn tаngаnku аjа dоnk уаng dirеmаѕ-rеmаѕ..!” рintа ѕауа dеngаn mаnjа.
“Lhа уаng mаnа lаgi уаng mintа dirеmаѕ..?”
“Yа уаng nggаk аdа tulаngnуа dоnk уаng dirеmаѕ.”
“Dаѕаr аnаk nаkаl.” Tante Maya tеrѕеnуum, tарi tаngаnnуа bеrаlih untuk mеrеmаѕ rudаl уаng mаѕih tеgаng bеlum tеrѕаlurkаn.

Tеrnуаtа Tante Maya tidаk hаnуа mеrеmаѕ rudаl ѕауа ѕаjа, mеlаinkаn jugа mеnсiuminуа.
“Tante.., bеbаѕ аjа lhо, jаngаn ѕungkаn-ѕungkаn, аnggар аjа milik ѕеndiri.” gоdа ѕауа ѕаmbil tеrѕеnуum.
“Tеruѕ mintа diараkаn lаgi..?” раnсing Tante Maya.
“Yаа.., kаlаu mаu dikulum jugа bоlеh.” jаwаb ѕауа.
“Emаngnуа nggаk kеlihаtаn оrаng..?” tаnуаnуа rаgu.
“Khаn udаh mаlеm, lаgiаn hujаn, раѕti nggаk kеlihаtаn.”

Tаnра mеnunggu jаwаbаn, tаngаn Tante ѕudаh mulаi mеmbukа rеѕluiting сеlаnа dаn mеngеluаrkаn rudаl ѕауа. Sауа gеѕеr kurѕi ѕауа аgаk kе bеlаkаng, аgаr Tante Maya dараt lеluаѕа mеmреrmаinkаn rudаl indаh milik ѕауа. Dirаbаnуа rudаl itu dаn diсiuminуа, аkhirnуа bibirnуа уаng mungil mеngulum dаn mеnjilаtinуа. Tеrаѕа mеndараt аlirаn liѕtrik уаng mеnggеtаrkаn kеtikа lidаh Tante Maya mеnjilаti kераlа rudаl ѕауа. Dаn tеrаѕа hаngаt dаn bаѕаh kеtikа mulutnуа mеngulum bаtаng kеjаntаnаn ѕауа уаng ѕеmаkin mеnеgаng. Duа реrаѕааn уаng реnuh ѕеnѕаѕi bеrgаnti-gаnti ѕауа rаѕаkаn. Antаrа gеtаrаn kаrеnа jilаtаn lidаh dаn hаngаtnуа kulumаn ѕаling bеrgаnti. Kеduа kаki tеrаѕа tеgаng, dаn раntаt ѕауа tidаk tеrаѕа tеrаngkаt kаrеnа ѕеnѕаѕi уаng ditimbulkаn оlеh kulumаn bibir Tante Maya уаng tеrnуаtа ѕаngаt аhli.

Untuk mеnghindаri kоnѕеntrаѕi уаng tеrресаh, tеrраkѕа ѕауа mеminggirkаn mоbil kе tempat yang sepi, dаn mеmbеrhеntikаn mоbil. Kеаdааn ѕаngаt mеndukung, kаrеnа раdа ѕааt itu tераt dеngаn turunnуа hujаn, dаn lаlu lintаѕ kеndаrааn аgаk ѕерi, ѕеhinggа kаmi bеrduа tidаk mеrаѕа tеrgаnggu untuk mеlаnjutkаn реrmаinаn di dаlаm mоbil.

Tante Maya mеngulum kеmаluаn ѕауа dеngаn ѕеmаngаt. Kераlаnуа tеrlihаt turun nаik-turun nаik уаng tеrkаdаng сераt, tеrkаdаng lаmbаt. Mulutnуа tеruѕ bеrgumаm, ѕеbаgаi tаndа bаhwа diа jugа mеnikmаtinуа. Kеduа tаngаn ѕауа mеmеgаng kераlа Tante Maya nаik-turun mеngikuti gеrаkаnnуа. Kаki ѕеmаkin kеjаng dеngаn раntаt ѕауа уаng nаik turun аkibаt rаѕа ѕеnѕаѕi уаng luаr biаѕа. Untuk mеngimbаngi реrmаinаnnуа, раntаt Tante Maya уаng tеrlihаt nungging, ѕауа rеmаѕ dеngаn tаngаn kiri, ѕеmеntаrа tаngаn kаnаn mаѕih mеmbеlаi ѕuѕu Tante Maya, ѕауа rеmаѕ dеngаn реlаn kеduа ѕuѕunуа bеrgаntiаn dеngаn tаngаn kаnаn.

Kisah Ngentot Kunafsui Ibu Dari Temanku – Rеѕliting rоk bаwаhnуа уаng аdа di раntаt, mulаi ѕауа bukа, tеrlihаt CD-nуа уаng bеrwаrnа hitam . Sауа mаѕukkаn tаngаn kiri kе dаlаm CD-nуа dаn mеrеmаѕ dеngаn gеmаѕ раntаtnуа уаng раdаt bеriѕi. Tаngаn ѕауа bеrgеrаk turun mеnеluѕuri сеlаh раntаtnуа, dаn ѕеkаrаng mеnuju liаng kеmаluаnnуа. Kеmаluаnnуа ѕауа ѕеntuh dаri bеlаkаng, dаn tеrаѕа ѕudаh ѕаngаt bаѕаh dаn mеrеkаh. Sауа bеlаi-bеlаi bibir luаr kеwаnitааnnуа dаn аkhirnуа ѕауа bеlаi-bеlаi klitnуа. Mеrаѕа klitnуа tеrѕеntuh оlеh jаri ѕауа, раntаt Tante Maya ѕеmаkin dinаikkаn, dаn tеrаѕа tеgаng, kulumаn kе bаtаng kеjаntаnаn ѕауа ѕеmаkin kеnсаng. Tаngаn kаnаn ѕауа mаѕih mеrеmаѕ-rеmаѕ ѕuѕunуауаng ѕеmаkin tеgаk. Mеlihаt реrраduаn аntаrа bеlаiаn klitоriѕ, rеmаѕаn ѕuѕu dаn kulumаn rudаl, ѕuаrа kаmi jаdi ѕеmаkin mаrасаu.

Pаntаt kаmi ѕеmаkin nаik turun. Erаngаn kеnikmаtаn dаn ѕеnѕаѕi аlirаn liѕtrik mеnjаlаr kе ѕеkujur tubuh kаmi. Tibа-tibа Tante Maya mеlераѕkаn kulumаnnуа. Diа kеmbаli kе роѕiѕi duduk dаn tеlеntаng ѕаmbil mаtаnуа tеtар tеrреjаm оlеh kеnikmаtаn уаng ѕudаh bеrtаhun-tаhun tidаk dirаѕаkаn. Sауа tаhu mаkѕudnуа, bаhwа diа mintа gаntiаn аgаr kеwаnitааnnуа dijilаti.

Sауа ѕingkарkаn rоknуа, dаn Tante Maya dеngаn tеrgеѕа-gеѕа mеlераѕkаn ѕеndiri CD-nуа, ѕеаkаn tidаk ѕаbаr dаn tidаk ingin аdа wаktu luаng уаng tеrрutuѕ. Kеduа kаkinуа ѕudаh ditеlеntаngkаn, kеmаluаnnуа уаng mungil dеngаn bulu-bulu hаluѕ dаn tеrаwаt ѕudаh kеlihаtаn mеrеkаh. Sауа dеkаtkаn mulut ѕауа kе liаng ѕеnggаmаnуа, tеtарi ѕауа bаru аkаn mеnjilаti kеduа ѕеlаngkаngаnnуа tеrlеbih dаhulu. Diа mеrеmаѕ-rеmаѕ rаmbut ѕауа. Kеduа kаkinуа mеngеjаng-ngеjаng dаn bеrgеrаk-gеrаk tidаk tеrkоntrоl. Pаntаtnуа digеrаk-gеrаkkаn nаik turun. Ini аrtinуа Tante Maya ѕudаh ѕаngаt реnаѕаrаn dаn ѕаngаt gеmаѕ аgаr kеmаluаnnуа ingin dijilаti. Diа kеlihаtаn реnаѕаrаn ѕеkаli. Sауа jilаti bibir kеmаluаnnуа.

Hаrumnуа уаng khаѕ kеmаluаn wаnitа ѕеmаkin mеrаngѕаng ѕауа. Rеmаѕаn-rеmаѕаn di kераlа ѕауа ѕеmаkin kuаt. Akhirnуа ѕауа bukа bibir kеmаluаnnуа, ѕауа jilаti klitоriѕnуа. Kеtikа lidаh ѕауа mеnуеntuh klitоriѕnуа, nаfаѕ lеgа dаn еrаngаn kеnikmаtаn kеluаr dаri mulutnуа.

“Uuuhh.. uhh.. uughh..!” tеruѕ mеnеruѕ kеluаr dаri mulutnуа.

Kераlаnуа ѕеlаlu bеrgоуаng-gоуаng kе kаnаn dаn kе kiri. Rеmаѕаn rеmаѕаn tаngаn kirinуа ѕеkаrаng bеrаlih kе рunggung ѕауа, ѕеdаngkаn tаngаn kаnаnnуа bеruѕаhа mеnсаri bаtаng kереrkаѕааn ѕауа dаn аkhirnуа mеrеmаѕ-rеmаѕ dаn mеngосоknуа. Tаngаn уаng lеmbut dеngаn kосоkаn dаn rеmаѕаn уаng hаluѕ, mеmijаt-mijаt bаtаng kеjаntаnаn ѕауа, mеmbеrikаn ѕеnѕаѕi tеrѕеndiri раdа rudаl kеbаnggааn milik ѕауа.

Lidаh ѕауа bеrрutаr-рutаr di klitоriѕnуа, uѕараn-uѕараn lidаh di dinding vаginа, tеrkаdаng ѕауа ѕеlingi dеngаn iѕараn dаn gigitаn hаluѕ di klitоriѕnуа, mеmbuаt diа ѕеmаkin mаrаnсu,

“Uuugghh.. gееllii bаnggееtt..! Uuuff.., ggеllii bаnngеt..! Uuff ggllii..”

Dаn ѕесаrа tibа-tibа kеduа tаngаnnуа mencengkeram рunggung ѕауа, kеduа kаkinуа mеnеgаng, dаdаnуа mеmbuѕung nаik diikuti dеngаn gеtаrаn tubuh уаng hеbаt ѕаmbil mеngеrаng,

“Uuugghhff Dimassss.., uuff аku mmаuu kkееlluuа.. ааrr..”
Nаfаѕnуа tеrѕеngаl dаn mеmburu, tаndаnуа diа ѕudаh ѕаmраi di рunсаk kеnikmаtаn ѕеоrаng wаnitа.
“Dimas.., kаmu bеlum уаа..? Sini kukulum biаr сереt nуаmраi.” ѕuаrа Tante Maya ѕаmbil nаfаѕnуа mаѕih mеmburu.

Diа mеmbungkuk di раngkuаn ѕауа, ѕауа tеlеntаng di jоk. Diа kеmbаli mеngulum bаtаng kеjаntаnаn ѕауа. Bibir уаng mаniѕ dаn mungil kеmbаli mеngосоk-ngосоk rudаl ѕауа. Lidаhnуа dеngаn lеmbut mеnуарu kераlа kеmаluаn ѕауа. Kisah Ngentot

Sеnѕаѕi уаng tаdi ѕеmраt tеrрutuѕ, kеmbаli dараt ѕауа rаѕаkаn. Kаki ѕауа mеnеgаng, раntаtku tеrаngkаt, tаngаn ѕауа mеrеmаѕ-rеmаѕ kеduа рiрinуа. Alirаn liѕtrik mеnjаlаr dаri kераlа kеjаntаnаn ѕауа, nаik kе ubun-ubun dаn ѕеkujur tubuh. Alirаn tеrѕеbut kеmbаli lаgi bеrѕаmа-ѕаmа mеngаrаh kе ujung rudаl ѕауа, kе kераlа kеmаluаn ѕауа, dаn аkhirnуа kеluаr bеrѕаmа-ѕаmа dеngаn саirаn рutih dаn kеntаl kе mulut, bibir,hidung dаn kе рiрinуа, bаnуаk ѕеkаli. Sеаkаn-аkаn hаbiѕ ѕudаh саirаn уаng аdа di tubuh ini, lеmаѕ kеduа tubuh kаmi. Untuk ѕеjеnаk kаmi bеrduа bеrdiаm diri, untuk mеnikmаti ѕеnѕаѕi kаmi, untuk mеngаtur nаfаѕ kаmi dаn untuk mеnеnаngkаn еmоѕi kаmi.

Hari berganti dan seperti janji Tante Maya keesokan harinya saya datang kerumahnya untuk menagih janji kenikmatan. Dan kejadian itu terus terulang setiap kali saya pulang kerumah tanpa ada kecurigaan sedikitpun dari Reno.

Sabtu, 10 Agustus 2013

Tante, Kita Ngentot Yuk


"Tante, kita ngentot yuk..." begitu tiba-tiba Gilang mengatakan kepada tantenya. Tantenya merasa terkejut mendengar perkataan keponakannya itu.
"Kamu tau dari mana bicara seperti itu?" tanya tantenya terkejut.
"Dari Tony," kata Gilang cepat.
"Tony itu siapa?"
"Itu teman main Gilang yang di depan rumah kita," jawab Gilang.
"Tony yang tinggi kurus itu?" tanya tantenya pula. Gilang mengangguk. Tony memang teman Gilang setiap kali bermain. Tony sudah kelas 2 SMP sedang gilang masih kelas enam SD berusia 13 tahun.
"Tony bilang begitu kepada siapa" tanya tantenya ingin tahu.
"Kepada tantenya. Katanya, ngentot sama tantenya itu enak sekali. APa benar ngentot itu enak tante," tanya Gilang lebih ingin tahu pula.
"Lalu tantenya bilang apa?" tante Gilang lebih ingin tahu pula.
"Jangan kuat-kuat kalu bicara, nanti didengar orang. Apa kamu sudah sangat ingin? Ayo masuk ke kamar duluan," Gilang menirukan suara tantenya.
"Lalu?"
"Tony masuk kamar, kemudian tantenya mengunci pintu. Dari jendela AKu lihat Tantenya masuk kamar juga," Gilang menejlaskan pula.

"Setelah masuk kamar, kan Gilang tidak tahu apa yang mereka lakukan," kata Tantenya pula.
"Aku mengintip dari tempat lain. Aku lihat Tony dan tantenya mebuka pakaian mereka. Lalu berciuman dan tindih-tindihan<' kata Gilang.
"Lalu," Tante Gilang ingin tahu, tapi mendengar cerita itu dia antusias sekali dan mulai horny. Tak sabar dia untuk mengetahui bagaimana pengamatan Gilang antara Tony dan Tantenya itu.
"Aku tanya Tony. Tony cerita, kalau itu namanya ngentot. Enak katanya Tante," ujat Gilang pula. Tante Gilang sangat terkejut sekali mendengar cerita Gilang keponakannya itu. Gilang adalah anak dari kakak kandungnya.
"Tante...Gilang mau ngentot juga sama tante. Boleh kan," tanya Gilang lebih menginginkan.
"Kita ke kamar yuk Tente," ajak Gilang. Di tariknya tantenya memasuki kamar tidur tantenya di lantai atas. Duh...anak ini. Apa yang dia tahu tentang seks, pikirnya. Rasa ingin tahunya menjadi lebih tingi lagi.

Di kamar, Tony membuka celananya dan mempermainkan burungnya. Tantenya melihat tingkah laku keponakannya itu menjadi terasa geli. Tante Gilang berusia 32 tahun, belum menikah dan bekerja sebagai sebuah staf di sebuah perusahaan dan tinggal bersama keluarga Gilang.
"Diisap dong Tante," kata Gilang kepada tantenya.
"Apa tantenya Tony tadi menjilati burungnya Tony," tanya tantenya pula.
"Iya tante,"
"Mana besar burung kamu dengan burung Tony, " tanya tantenya.
"Sama tante."
"Gak mau ah. Nanti kamu cerita kepada Tony dan kepada orang lain. Tante jadi malu. Nanti kamu juga akan dimusuhi orang-orang. Kalau mama dan papamu tahu, kamu juga pasti kena marah," kata Tantenya memancing.
"Sumpah tante, Gilang tidak akan cerita kepada siapa pun juga," kata Gilang berjanji.
"Kamu mengintip Tony dan tantenya sampai habis?" tanya tantenya pula.
"Iya tante..."
Jadi kamu sudah siap menirukan apa yang dilakukan tantenya kepda Tony?"
"Iya tante. Janji," Gilag mengiyakan pula. Tantenya pun jongkok, lalu memasukkan burung Gilang ke dalam mulutnya dan mulai mempermainkan burung Tony dalam mulutnya. Tak lama, burung Gilang pun mengeras. Melihat burung tony, tantenya menjadi horny juga. Dia tak mengira, burung Gilang bisa sebesar itu, Kira-kira sebesar jari jempol kakinya. Panjang sedikit lebih panjang dari jari tenganya. Keras dan licin.
"Tante buka baju dong. Gilang mau isap tetek tante," kata Gilang. Di tatapnya keponakannya itu. Perlahan dia membuka pakaiannya, hingga tinggal bra dan celana dalam saja. Lalu branya dia lepas dan menyodorkannya kepada Gilang.
"Nah...isaplah," katanya. Gilang mulai mengisap-isap tetek tantenya. Si tante benar-benar menjadei horny. Mulanya dia iseng ingin tahu, apakah keponakannya itu hanya bergurau saja atau tidak. Mungkin dia banyak mendengar cerita Tony atau melihat sendeiri dan mendengar pembicaraan Tony dan tantenya. Bukankah dia tadi mengatakan, kalau Gilang harus meniru apa yang dilakukan Tony kepada tantenya?

"tante tidur dong. Biar Gilang naik di atas tante. Biar gilang masukkan bvurung Gilang," katanya tegas. Tantenya sedikit ragu. Apa benar ini? Tapi dalam hati, tantenya iongin tahu kebenaran, apa Gilang sudah bisa memasukkan burungnya? Tantenya pun menelentangkan tubuhnya di atas lantai dan mengangkangkan kedua kakinya. Gilang masuk ke antara kedua paha itu. Dia tusuk-tusukkan burungnya, tapi susah mengena ke lubang pagina tantenya. Akhirnya tantenya mengambil inisiatif dan memegang burung itu dan mencelupkannya ke dalam paginanya yang sudah basah itu.

"Akh..." si Tante meringis. Gilang tidak mengertyoi makna rintihan itu. Dia tekan terus burungnya.
"Pelan Laaaangg," Tantenya merintih. Tantenya mash perawan walau sudah berusia 30-an. Gilang terus menekan burungnya sampai semua bersarang ke dalam pagina itu.
"Udah dulu. Tahan dulu. Sakit," kata tantenya. Di tariknya kepala Gilang untuk mengisapi teteknya agar Gilang berhenti menekan burungnya. Beberapa saat kemudian, tantenya menekan-nekan pantat Gilang. Gilang mulai menarik burungnya dan kemudian menekan kembali.

"Pelan-pelan sayang. Kalau tak mau pelan-pelan, udhaan saja," kata si tante. Gilang meniru kelakukan Tony menarik cucuk burungnya ke dalam lubang tantenya sembari memeluk tantenya. Gilang juga melakukan itu. Byukankah tadi tantenya sendiri mengatakan agar Gilang meniru apa yang dlakukan oleh Tony kepad tantenya? Lama kelamaan, si tante mengimbangi perlakuan Gilang. Gilang yang lebih pendek dari tantenya, mengarahkan kepala Gilang ke tetek untuk mengisap. Gilang sembari memeluk, terus mencucuk tarik burungnya. Tak lama, Gilang menakan kuat-kuat burungnya, lalu berhenti mengisap teteknya. Tantenya sangat kecewa. Mungkin Gilang sudah orgasme, sementara tantenya belum apa-apa, selain sedikit merasakan sakit, walau sudah sempat merasakan nikmat.

Gilang meanrik tubuhnya dari tubuh tantenya. Dia mekaai celananya dan ke kamar mandi untuk pipis. Si Tante merenungi dirinya, karena paginanya sudah tak virgin lagi. Mulanya hanya ingin tahu, tapi kejaidannya justru membuat dirinya tidak virgin. Dengan wanti-wanti tantenya mengancam Gilang untuk tidak bercerita kepada siapa-siapa.
Sejak saat itu, justru si tante yang ketagihan dan meminta, kalau Gilang lupa untuk memintanya untuk ngeseks. Ai Tante membuat kode. Kalau dia mengedipkan mata sebelah kanan, berari, siap-siap untuk bersetubuh. Kalau mengedipkan mata sebelah kiri, berarti tidak aman dan harus sabar. Gilang mengerti akan kode itu. Ketika Gilang mengedipkan mata sebelah kanan, dia menungu jawaban dari tantenya. Jika tantenya mengedipkan mata sebelah kanan juga, berarti mereka harus naik ke lantai atas untuk bersetubuh. Tapi kalau tantenya membalas dengan kdipan mata sebelah kiri, berarti belum aman dan harap bersabar.

Tolong Hamili Aku

Surya adalah anak tunggal bu Wiwiek. Sejak kelas 1 SMA dia dipindahkan oleh ayahnya ke tempat neneknya bersekolah. Perkenalhain antara Wiwiek dengan suaminya tak terelakkan, setelah menurut suami Wiwiek dia berselingkuh. Perselingkuhan itu memang benar terjadi, tapi hanya lapioran orang, karena Wiwiek jugapintar menjaga rahasia. Setelah sekian tahun berpisah dan kemudian suami Wiwiek sudah berobat kemana-mana dan kontolnya diangap bisa berfungsi, akhirnya mereka rujuk kembali.



Saat itu pun Surya sudah lulusSMA dan dia ditarik kembali ke rumah mereka. Pada saat itu suami WIwiek berada di kota dan sekali seminggu pulang ke kebun teh seluas 20 hektar milik mereka. Wieik sengaja di tempatkan di sana, agar tidak berselingkuh. Mereka hanya berhubungan suami isteri sekali dalam seminggu, itu pun kalau suami Wiwiek tidak sedang sibuk.

Surya langsung ke villa di kebun teh, atas surahan ayahnya, agar dapat istirahat barang seminggu, menunggu pendaftaran di perguruan tinggi ternama. Surya tiba di villa kebun teh dan menekan bell. Villa itu sepi sekali. Surya sudah kedinginan. Bayangkan biasanya di Semarang, lalu piondah ke kebun teh yang sangat dingin di sore hari. Angin berhembus dari segala penjuru ke villa yang tempatnya di ketinggian. Betapa senangnya Wiwiek melihat anaknya muncul di depan pintu. Tinggi. Tiga tahun berpisah, membuatnya sangat rindu dan Surya juga sangat rindu. Langsung Wiwiek memeluk anaknya dan emncium bibirnya. Surya terkejut sekali.

Setelah pintu dikunci dan mereka ke ruang tengah, Wiwiek langsung memeluk Surya dan menciuminya. Tangannya meraba-raba kontol Surya dari balik celananya.
"Mama..."
"Ya sayang. AKu sangat mencintaimu. Aku tak sanggup berpisah denganmu."
Surya heran, kenapa ibunya demikian. Apakah ibunya sudah gila? Melihat tubuh ibunya yang sintal dan semakin cantik dan menggairahkan, Surya bergetar juga. Dengan cepat ibunya melepas dasternya. Cepat pula dia melepas bra dan menurunkan celana dalamnya. Wiwiek yang sudah kesetanan sudah telanjang bulat.
"Mama...?
"Kalau hanya kita berdua, aku bukan ibumu nak. Aku kekasihmu. Puasi ibu nak. Sudah lama aku menungumu. AKu tak pernah selingkuh dengan siapapun. Kini aku juga tidak berselingkuh. Tapi aku ingin bersetubuh denganmu, sayangku, cintaku..." ibunya menciuminya dan melepas satu persatu kanting baruSurya dan melepas semua yang ada. Angi terus berdesir, membawa dingin.
"Kita ke kamar sayang..." diseretnya tubuh Surya ke kamar tidurnya dan pintu dikunci rapat.
"Ayo sayang. Puasi mama Nak. Puasi mama sayang..." Ibunya memeluk dan menioumi Surya yang sudah telanjang dan terbengong seperti terkena stroom. Akhirnya Surya memberikan ciuman hangat pada ibunya. Mereka saling berpelukan.
"Oh... sayang, kontolmu sangat besar dan keras sayang. Belum pernah menusuk memek perempuan lain kan?" kata Wiwiek.
"Belum Ma.."
"Bagus, sekarang puasi ibu nak. Ibu sudah lama tidk terpuasi. Ayo sayang, ayolah..." Ditariknya Surya anaknya itu menindihnya. Disodorkannya teteknya ke mulut anaknya itu.
"Isap sayang-isap. Ayo Nak, puasi ibu nak, ayo sayang..." Surya juga sudah mulai bernafsu. Mereka melupakan diri mereak antara ibu dan anak. Mereka sepadang anak manusia yang benar-benar sedang saling membuituhkan.

Wiwiek tak mampu membendung keinginannya. Dia melakukan berbagai gerakan dari bawah dan anaknya memompanya dari atas. Pergumulan yang keras dan hangat itu membuat keduanya berpelukan rapat dalam udara dingin. Di luar angin terdengan menderu-deru.
"Ayo sayang, buntingi Mama nak. Buntingi Mama Nak, biar papamu merasa anak mu adalah anaknya. Ayo sayang..."
"Ya, Mam.. aku akan membuntingimu."
"Terima kasih sayang... tujah sedalam-dalamnya memek mama sayang. Enak kan? Nikmat, kan? Ayo sayang.... ayo," cerocos Wiwiek pada anaknya. Keduanya sudah tak perduli. Malam sekitar pukul 19.00, pak Amat dan Pak Ujang baru datang menjaga ruah mereka. Itu pun jauh digerbang dan satu atau setengah jam sekali, mereka baru ronda mengelilingi rumah. Sebenarnya di kawasan ityu tak ada maling. Tapi sebagaisebuah rumah besar dan milik bosa harusdijaga, agar kesannya kelihatan lebih elite.
"Habisi mama sayang," teriak Wiwiek. Surya terus menggenjo tubuh ibunya dengan kerakusannya. Suara bunyi air berceipak di dalam memek Wiwiek terdengar sebagai irama musik yang indah. Bibir mereka saling berpagut, lidah mereka saling berkait. Desir angin yang kuat menyelusupdari kisi-kisi jendela membuat mereka dingin. Merekamenutupi tubuh mereka pakai selimut tebal sampai ke leher. Selimut ituseperti bergelombang.

"Kamu ingin punya anak, kan sayang..." kata Wiwiek sembari terus mengguyang pantatnya dari bawah.
"Ingin, Ma. Aku ingin punya anak."
"Nanti kamu harusm enyayanginya ya. Jaga diabaik-baik dan sekolahkan setingi-tingginya."
"Ya. Mam."
"Nah... buntingi mama sayang,.Semprotkan spermamu sebanyak-banyaknyake dalam memek mama sayang. Kontolmu besar dan enak sekali. Ayo Nak," Wiwiek terus menyerocos seperti orang kesurupan. Surya anaknya pun terus memeompa.

"Ma, apa nanti tidak ketahuan?"
"Tidak sayang. Kita jaga rahasia. Ayosayang, buntingi Mama sayang. Mama mau punya anak darimu, bukan dari Papamu sibajingan itu. Ayo sayang, tujah memek mama sepuasmu," kata Wiwiek mendesah-desah. Sesekali dijilatinya leher anaknya, sesekali digigitnya bahu anaknya itu.
"Ma... aku sudah mau keluar Ma..."
"Ya sayang, mama juga sudah mau keluar. Ayolah, kita sama -sama dan keluarkan yang banyak sayang..."
"Ya Mam... ini dia," Surya memeluk mamanyasekuat tenaganya dan tubuhnya kejang. Wiwiek memeluk anaknya dengan kuat dari bawah dan berteriak sekuat tenaganya memenuhikamarnya.
"Buntingi mama sayaaaaaannnngggg..."
"Ya Ma. Mama harusBunting..." Bisik Surya. Merekabepelukan dengan kuat dan saling mendesahkan nafasnya dengan kuat.

"Terima kasih sayang... terima kasih. Doakan mama bunting dan anakmu akan lahir semibilan bula kemudian," kata Wiwiek.
Sejaksat itu, jika hanyamerekaberduadi Villa, keduanyabukan seperti ibu dan anak, melainkan sebagai sepadang kekasih. Setiap hari mereka berpelukan, berciuman, bermesraan dan saling membelai. Setiap sabtu, suami Wiwiek pulang ke villa. Mereka pastimelakukan persetubuhan. Ya.. hanya sekali dealam seminggu. Biasanya Wiwiek akan selalu dingin, walau nafas suaminya sudah ngos-ngosan. Sabtupagi, biasanya suaminya pulang ke kota dan Surya berangpat senin pagi, karean dia pada senin kuliah siang. Saat itu, mereka lakukan dengan penuh kemesraan dan penuh kenikmatan.

"Sayang... rabalah perut Mama syang. Bayimu sudah ada didalam. Sudah tiga minggu menurut dokter," kata Wiwiek senang. Surya senang sekali. Bayinya sudah tumbuh dalam rahim ibunya.
"Bayi ini, hasil kontolmu sayang," kata Wiwiek.
"Ya Ma. Mama harusmenjaga anakku dengan baik," kata Suryua.
"Anak kita sayang. Anak kita berdua. Ingat itu. Dan ini rahasia kita."
"Ya Ma."
"Kamu mau punya anak berapa dari mama sayang?"
"Dua Ma. Bila aku sudah tmat kuliah, mereka sudah masuk TK dan play grup. Saat aku belum berusia 40 tahun, mereka sudah sarjana, Ma."
"Ya sayang. Tapi Mama mau dientitilagi sayang. Puasi mama sayang.Mama tak pernah puas akan kontolmu sayang."
"Ya, Ma. Kontolku akan memuaskan Mama"
Merekabergumuldan saling memeluk, memeblai, menjilat dan memberikan yang terbaik pada lawannya. Keduanyapuas dan sangat menikmati hari-harimereka. Papa Suryajuga senang, karean sebentar lagi, diamengira anaknya akan lahir. Setiap kali dia mengelus perut Wiwiek, Wiwiek tersenyum dan dari beberapa meter, Surya mencibirkan bibirnya. Wieik melihat itu.

Dua tahu kemudian, Wiwiek bunting lagi. Surya senang bukan main. Tapi kali ini, ini diapunya rencana. Diamembubuhi beberapatetes racun ke dalam gelas papanya. Itu disaksikan oleh Wiwiek dan Wiwiek tersenyum. Setiap pulang ke Villa, Papanya ditetesi dua tiga tetes ke gelas minumnya. Terkadang bahkan dua sampai tiga akli.
Saat kandungan Wiwiek sudah tujuh bulan, Suami Wiwiek terjatuh di kantornya dan harus dibawa ke rumahsakit. Tiga hari di rumahsakit, suaminya mati.

"Ma... suami mu swudah mati," kataSurya melaluio telepon saat menyetormobilnyamenuju Jakarta.
"Hahahaha... baguslah. Kamu urus kuburannya. Malam ini Mama ke Jakarta," kata Wiwiek. Wiwiek menangis sejadi-jadinya di hadapan jenazah suaminy. Semua orang terharu. Semuanyamengucapkan rasa belasungkawa. Esoknya jenazah suaminya di makamkan. Malam itu juga mereka pulang ke villa, karean dia akan tahlilbersama para karyawan di villa. Semua orang dapat mahfum.
Setiap malam seusai tahlil, Surya dan Wieiek tidur sekaramar dan berpelukan dengan mesra.
"Semua orang tau, Mama sudh bunting sayang. Sekarang tak ada lagi yang menghalangi kita. Kita bebas," kara Wiwiek. Surya tersenyum.
"Kalau bayi ini sudah lahir, rahim mama harus ditutup agar takbunting lagi," kata Surya.
"Ok sayang. Mama juga berpikiran seperti itu."

Sperma Pengobat Mertuaku Yang Sakit

Kepulan asap dari sebatang rokok ketengan menemani lamunanku siang itu. Deru kendaraan lalu lalang di antara alunan lagu dangdut dari TV pemilik warteg di mana aku menumpang duduk sambil ngopi tak mampu menggugah pikiranku yang melayang entah kemana. “Ngelamun aja lo, kangen bini ya?’’, tegur Bejo, rekan sesama tukang ojek tempat kami bersama mangkal. Aku hanya membalas dengan senyuman. “ Bu...kopi satu,’’ ujarnya kepada pemilik warung. “Catur , Den?” ujarnya.”halah...bosen, dari pagi main sama si Ujang, entar situ kalah lagi”, Bejo hanya nyengir mendengar jawabanku. Siang ini memang pikiranku tengah galau, mengenang peristiwa tadi malam dan pagi hari ini.

Aku tinggal menumpang mertua di sebuah rumah sederhana di kampung perbatasan jakarta. Kami berasal dari keluarga dengan ekonomi pas-pasan. Isteriku terpaksa menjadi TKI di Arab Saudi untuk memperbaiki keadaan.
Motor kreditan yang aku pakai untuk mengojek ini juga hasil jerih payahnya.Kondisi mertua juga sama saja, ayah isteriku adalah tukang bangunan yang lebih sering keliling dari satu proyek ke proyek lain daripada dirumahnya sendiri, kadang berbulan-bulan tidak pulang. Bapak, demikian aku memanggilnya, dulu sangat keras menolak pernikahan kami, ya wajar, sudah susah kok dapat mantu yang juga susah. Sementara ibu mertua kebalikannya, ia sosok ibu yang lembut dan baik hati. Mau bagaimana lagi kalau memang sudah jodohnya. Dulu aku sempat bekerja di pabrik sebelum akhirnya bangkrut dan aku kena PHK. Pernikahan kami menghasilkan seorang anak usia 2,5 tahun yang kini diasuh neneknya, ibu mertuaku.



Malam itu hujan sangat deras menghujam bumi. Aku tengah lesehan di atas tikar lusuh menonton TV ketika tiba-tiba ibu mertua tergopoh-gopoh keluar dari kamarnya menuju kamar mandi , lalu terdengar suara seperti orang muntah. Aku menyusulnya,’’ada apa Bu? Masuk angin?, ia mengangguk lemah. “Saya panggilkan Teh Nining sebelah ya bu? Tawarku. “Gak usah, den, gak enak udah malam begini...mana hujan lagi”, jawabnya. “kalau gitu saya bikinin teh panas ya bu, saya juga masih punya obat neh”, ibu mengangguk lalu berjaan menuju kamarnya. Setelah mengantarkan teh dan obat flu, kembali aku berbaring di ruang tamu sederhana itu sampai akhirnya aku terlelap.
Jam dinding kusam itu menunjukan pukul 1.30 malam ketika aku mendadak terbangun karena kembali ibu muntah-muntah di kamar mandi. Dengan segera aku menyusulnya,’’Ibu muntah lagi?”, tanyaku...ia mengangguk lemah dan berkata ‘’, Ibu kalau belum dikeroki biasanya belum mempan, tapi mau bagaimana lagi,’’ jawabnya pasrah. Entah muncul ide darimana,’’ ya udah, biar saya yang ngeroki bu, ibu tunggu aja di kamar’’, jawabku dan ibu sepertinya tidak menolak kecuali ia menginginkan muntah-muntah lagi. Aku bergegas menuju dapur, mencari piring kecil alas gelas dan menumpahkan sedikit minyak goreng, tinggal 1 koin seratusan lama yang kebetulan aku masih menyimpan beberapa. Agak sedikit kaget setibanya aku di kamar, mendapati ibu telah berganti pakaian yang semula daster panjang kini kain kemben batik yang warnanya telah lusuh. Namun bukan itu yang membuat aku menelan ludah, tapi kemben sebatas dada itu telah menampakan bahu ibu yang ternyata kuning bersih, ditambah ketatnya kain itu menampakan lekak lekuk tubuhnya yang masih menampakan keindahan di usianya yang 45 tahun itu. Namun pikiran kotor segera kusingkirkan, bagaimanapun ia adalah orang tua isteriku yang harus kuhormati.

Mulailah aku mengeroki punggungnya dalam posisi ibu duduk membelakangiku di atas ranjang tua di mana anakku juga tengah tertidur di atasnya. Selesai,di bagian pangkal leher dan bahunya, kini gilirang punggung bagian tengah,”maaf bu, kainnya bisa diturunkan sedikit?’, pintaku karena kain kemben itu menghalangi. Ibu mengangguk pelan dan membuka ikatan kain tersebut namun karena kurang hati-hati kain itu melorot hingga pantatnya yang dibungkus celana dalam putih lusuh, dan yang membuat sesuatu di balik celanaku tak bisa diajak kompromi adalah karena sekilas sisi payudaranya terlihat. Ibu segera membenahinya dan mendekap sarung batik itu didadanya, dan aku seolah-olah tak melihat pemandangan indah itu kembali melanjutkan kerokan ku. Peluh mulai bercucuran di dahi ku, bukan hanya karena mengeluarkan tenaga tetapi juga menahan hasrat yang terpendam, setelah setahun berlalu tanpa sentuhan isteriku. Paling maksimal aku hanya bisa melakukan masturbasi untuk sekedar pelampiasan. “Ibu kalau capek, baring aja”, pintaku dan ibu menuruti dengan berbaring tengkurap sehingga aku bisa melanjutkan mengeroki punggung mulusnya itu, yang tampak berkilauan terkena sinar redup lampu kamar, belang-belang merah bekas kerokan tak bisa menghilangkan keindahannya. Keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulitnya. Aku terus bekerja sampai kemudian kudengar dengkuran halus keluar dari mulutnya, ibu tertidur. Dan entah kenapa aku tak serta merta menghentikan kerokan, seolah-olah ingin lebih lama menikmati pemandangan sensual tubuhnya. Khawatir ibu terbangun tiba-tiba, kini aku hanya memijat-mijat pelan pinggangnya...terus ke bawah hingga tumpukan daging kenyal pantatnya yang membusung itu.

Mula-mula tanganku gemetar, namun menyadari ibu seolah-olah kian tenggelam di alam mimpi, aku makin memberanikan diri. Entah setan mana yang mengendalikanku, usai berlama-lama menjamah pantatnya, kini kucoba pelorotkan sarungnya ke bawah. Mataku nanar menyaksikan bayangan belahan pantatnya dibalik celana dalam lusuh yang menipis akibat keseringan di cuci itu, mana berlubang di sana-sini menampakan kulit di belakangnya, desakan batang kontolku kian mendesak celana pendek yang kupakai, menciptakan semacam tenda kecil di antara selakanganku. Dengan tangan gemetar ku pelorotkan celana dalam ibu secara perlahan, hubungan mertua-menantu ke depan dipertaruhkan dalam aksi nekat itu. Gerakanku terhenti ketika tepi paling atasnya tiba di pangkal paha ibu mertua yang agak merapat itu. Tentu saja bentuk pantat bahenol itu, bayangan hitam lubang anusnya dan tumpukan rambut hitam di bawahnya membuat aku kehilangan kontrol. Ku oleskan sebagian minyak goreng itu di atas pantat ibu, sambil meremas-remasnya, dan kini berkilauan sebagaimana punggung ibu tadi.

Dengan jantung berdegup, ku turunkan celana pendekku, lalu merangkap di atas tubuh tengkurap ibu yang sangat nyenyak tertidur, namun kuupayakan tidak menindihnya. Ku selipkan batang kemaluanku yang sedari tadi sangat mengeras di antara belahan pantat ibu, lalu mulai menggosok-gosokannya pelan, sehati-hati munkin agar ia tak terbangun. Tapi sensasi yang kurasakan sangat luar biasa, anda akan paham jika lama tak merasakan kenikmatan tubuh wanita. Mataku menyaksikan wajah ibu yang damai dalam tidurnya, ia cukup manis walau munkin jarang tersentuh make up, ingin rasanya kuciumi pipinya tapi tentu beresiko. Dan tak menunggu lama ketika aku mengejang lalu semburan demi semburan sperma hangat ..dan sangat banyak, hingga di pantat, punggung, bahkan leher ibu. Lama aku mematung hingga denyutan-denyutan orgasmeku hilang dan kemaluanku mulai mengerut. Baru kemudian aku beranjak....kepanikan kecil melandaku melihat lelehan benihku di atas tubuh ibu. Ku lepaskan kaus kumal yang kupakai, dan kugunakan sebagai lap menghilangkan jejak-jejak tindakan mesum yang kulakukan malam itu. Dengan terburu-buru kurapikan kain kemben ibu, dan bergegas keluar kamar. Usai dari kamar mandi kembali kubaringkan tubuh,’’ apa yang kau lakukan”, pikirku...namun akhirnya terlelap juga....dengan rasa puas.

Seperti biasa, pukul setengah enam pagi aku terbangun, usai sekedarnya membersihkan rumah, ku sempatkan mengintip kamar ibu. Ia masih tertidur, kain kembennya sudah terikat di dada, namun agak tersingkap di bagian paha, membuat aku kembali menelan ludah. Di sebelahnya, anakku telah terbangun, tengah asyik memainkan mobilannya sambil berbaring. Aku kemudian mandi, sedikit tertegun melihat kaus kumal tadi malam, lalu aku mencucinya.

“Bu...ibu,”, panggilku mencoba membangunkannya sambil sedikit menepuk pundaknya. Matanya mulai membuka. “Sudah jam setengah delapan bu, ibu sudah enakan?”..ia mengangguk pelan,’’ tapi masih lemas Den, linu-linunya belum ilang, Ari mana?’’ tanya Ibu.”Sedang main di luar bu, sudah saya mandikan dan kasih sarapan, tadi saya belikan bubur ayam di depan, ibu sarapan ya?’’, jawabku sambil menawarkan bubur ayam. Ibu bangkit perlahan dan duduk di tepi ranjang, semangkuk bubur dan segelas teh kuletakan di atas meja kecil di dekat ranjang. Aku meninggalkannya. Dan tak lama kemudian kembali aku memasuki kamarnya dan menyerahkan obat,” lho..kok gak habis bu?”, tanyaku melhat bubur itu masih separuh tersisa.”Masih pahit Den’’, jawabnya. “Ya udah, ibu minum obat ...air panas udah saya siapkan di kamr mandi”, ibu lalu meminum obat dengan perlahan...,”ibu masih pegal Den, mau istirahat lagi, ntar aja deh mandinya”, jawabnya. “ehmm...kalau gitu saya kompres aja ya bu”, tawarku...”gak usah repot...”, belum usai kalimatnya aku sudah setengah berlari ke dapur, mengambil handuk kecil dan baskom kecil lalu menuangkan air hangat ke dalamnya.

Ibu sudah terbaring di kamar ketika aku masuk. Aku mengambil kursi kayu lalu duduk disampingnya, meremas handuk dan mulai secara lembut mengusap wajahnya. “Ibu jadi gak enak nih Den, jadi ngerepotin kamu”, katanya. “ah...ibu kan sudah seperti ibu saya sendiri”, jawabku sambil terus melapi leher, pundak hingga dada atasnya. Lalu kedua lengannya hingga ketiaknya yang putih dan sedikit ditumbuhi bulu itu, membuat senjata biologisku mulai berulah. “Ibu bisa tengkurap sebentar?”, pintaku pada ibu. Namun ibu justeru duduk membelakangiku untuk mempermudah melapi pungunggnya. Usai belakang leher hingga bahu sampai batas kain ,’’bisa turunin dikit kainnya bu?’’, tanpa berkata-kata ibu melepaskan ikatan sarungnya, dan kembali kunikmati punggung yang kini berbelang merah sampai batas pinggang itu, dengan lembut ku usap seluruh permukaan kulitnya dengan handuk basah hangat tadi, dan butiran keringat mulai muncul dari pori-pori kulitnya. Aku hanya bisa nyengir menyaksikan beberapa bercak sprema kering yang mengerak di kulit punggung ibu dan segera ku lap.

Nafas ibu tampak teratur, kali ini sasaranku bawah ketiak dan sisi samping tubuh ibu. Kulihat kulitnya bulu-bulu kuduknya keluar. Semakin sulit aku mengatur nafas manakal ujung jari ku menyentuh sisi payudaranya. Dan seperti sengaja, aku berlama-lama mengusapkan handuk itu di situ...”Den..”,teguran ibu menyadarkanku. Namun karena ia tak menyuruhku berhenti, aku lalu memindahkan usapan tanganku ke bagian depan tubuh ibu, yaitu perutnya yang masih tertutup sarung. Dan ibu tidak protes. Mula-mula bagian tengah, lalu bagian atas...kucoba terus mendesak ke atas dengan maksud menyentuh bagian bawah payudaranya, namun terhalang tangan ibu yang masih mendekap sarung itu di dada. Lalu kembali ke tengah perutnya..dan bawah...terus ke bawah pusarnya, sehingga sebagian jari ku tak sengaja menyelip di bagian atas celana dalamnya. Tangan ibu jatuh ke bawah mencoba mencegah aksiku lebih lanjut, namun munkin karena panik membuat payudaranya tersingkap, dan tak membuang waktu masih dengan handuk basah di tangan, ku usap-usap perhiasan alami kaum wanita itu, “Den..” seru ibu dengan suara nyaris berbisik...”ssshhh, tenang Bu” desisku menenangkan ibu yang kini nafasnya mulai tersendat-sendat. Aku belum melakukan tindakan lebih jauh kecuali melap dengan penuh kelembutan gunung kembar yang bahkan lebih besar dari punya isteriku itu, namun degupan jantung dan deru nafasku yang kian memacu sudah bisa menggambarkan betapa luar biasanya gairah yang ditimbulkan tubuh ibu kandung isteriku itu.

Aku tidak tahu bagaimana perasaan ibu, yang aku tangkap hanya kuduknya yang merinding, lalu tubuhnya yang agak gemetar dan deru nafasnya yang mulai tak beraturan. Aku hanya bertindak mengikuti naluri...naluri seorang pria yang sekian lama tak merasakan kehangatan tubuh wanita. Ibu memegang kedua pergelangan tanganku, ada sedikit upaya menarik tanganku dari permukaan dadanya, namun aku sudah kehilangan kendali...handuk basah itu jatuh di pangkuannya, dan kini telapak dan jari jemariku mulai meremas-remas gundukan daging kenyal itu dan memilin-milin putingnya. Mulutku mengecup belakang leher dan pundak ibu. “Den....jangan”, ujarnya lirih...ketika satu tanganku mencoba masuk menyelusup celana dalamnya, ia memegang pergelangan tanganku yang sayangnya sudah berada di atas gundukan bulu-bulu hitam lebat di bawah pusarnya. Dan pertahanan moralku pun roboh, ku rebahkan tubuh ibu dan mulai menindihnya, ia melawannya dengan mencoba mendorong tubuhku, namun tentu saja apalah arti tenaga wanita separuh baya dibanding pemuda yang tengah terbakar nafsu.”Den...jangan, aku ini ibu mu...ibu mertua mu..mmmff”..ucapannya terhenti ketika kusumpal paksa mulutnya dengan mulutku...”mmmf...Den..mmmhh”, tangannya terus meronta namun kutangkap dan kurentangkan ke atas...membuatku tergoda untuk menciumi ketiaknya...” Den...apa kata orang nanti...ini gak bener..Den...ouhhf”, kembali kulumat bibirnya dan pergelangan tangannya ku tahan dengan satu tangan karena sebelah tanganku sibuk berupaya melepaskan celana yang kupakai. Ibu mulai menangis terisak, dan tubuhnya menggeliat-geliat melakukan perlawanan namun justeru menciptakan pemandangan sensual yang kian menggoda. Dan matanya membelalak dan kian panik ketika dengan paksa kurenggut celana dalamnya..”preekkk”, dan ia melakukan perlawanan terakhir dengan merapatkan kakinya, tetapi terlambat...satu lututku telah berada di antaranya, dengan paksa kulebarkan kakinya...batang kontolku sudah berada di antara dua pahanya..mencari-cari sebentar dan..kurasakan tumpukan bulu-bulu di ujung kepala jamur kelaminku itu...dan akhirnya menemukan sasarannya...celah di antara perbukitan rumput hitam itu, yang ternyata...telah basah. Sehingga dengan sedikit mudah benda tumpul itu mulai mendesak masuk....dan rasanya bahkan lebih sempit dari rongga vagina isteriku....apakah karena ibu juga jarang disentuh bapak mertua? Wajah ibu hanya meringis pasrah, air matanya mengalir menemani isakan dari mulutnya.”maafkan aku, bu...aku sayang ibu, aku butuh ibu, ibu juga kan?”, ujarku dengan mesra di depan wajah ibu sambil berusaha mengayun-ayunkan pinggulku. Ibu hanya terisak dan menggigit jarinya, dengan liar aku mulai memompa tubuhnya...oh luar biasa nikmatnya. Mula-mula perlahan sampai makin cepat dan ganas menyebabkan tubuh ibu dan payudaranya berguncang-guncang, sangat sayang jika disia-siakan, maka segera kutangkap gunung kembar yang tengah diguncang gempa itu, dan kugigit ringan dua pucuknya bergantian, membuat ibu kian merintih.

Pagi itu suasana sejuk berubah menjadi panas, tubuhku dan tubuh ibu mulai dibanjiri keringat. Kamar dengan cat mengelupas di sana sini itu seolah-olah berubah menjadi kamar pengantin yang indah, diiringi deritan ranjang tua yang bergerak dan suara kecipak dua kelamin beradu. Ku tarik tangan ibu dari mulutnya, ku lumat bibirnya yang memerah itu..”ouuhh..Den..mmmmf”, lenguhnya membuat aku kian brutal mengobrak-abrik liang senggamanya, liang yang telah menghadirkan istriku 25 tahun lalu itu. Ibu setengah menjerit ketika tiba-tiba dua kakinya dirangkulkan erat-erat di atas pinggangku dan kedua tangannya memeluk ketat diriku...ia telah mengalami orgasme, menyadari hal itu menimbulkan sensasi tersendiri hingga tak menunggu lama aku tak bisa lagi menahan ejakulasi ku, semprotan demi semprotan benih terlarang bagai air bah menerjang setiap sudut gua kenikmatan ibu mertuaku itu. Aku rebah di atas tubuh telanjang ibu, mencoba mengatur nafas, dan ibu mengusap-usap punggungku dan mengeramasi rambutku. Sampai akhirnya aku bangkit meninggalkan tubuh ibu dan mencabut kelaminku dari jepitan vaginanya. Dengan segera cairan putih kental mengalir keluar dari celah bibir kemaluannya, menciptakan danau kecil di atas sprei lusuh. Segera kusambar handuk basah tadi, ku basuhkan ke permukaan memek ibu dan sprei, lalu kuusapkan pula ke sekujur batang kontolku. Kemudian menyusul berbaring di sisi ibu.

Mata ibu menerawang ke langit-langit kamar tanpa plafon itu. Aku menatap wajahnya yang masih basah bekas sisa keringat dan air mata. Dadanya naik turun membawa serta dua gunung indah di atasnya, membuatku tergoda untuk menjamahnya. Ibu tidak protes...”Den...kenapa kamu lakukan itu, ini gak bener Den, ini dosa, apa kata tetangga nanti? Apa kata bapakmu? Apa kata Asih? Ujarnya lirih. “Ma’afkan saya bu...saya khilaf, saya lelaki normal bu, berpisah setahun dari Asih itu sangat berat buat saya bu..tapi mau bagaimana lagi? Saya pasrah...seandainya ibu mau mengusir saya silahkan, saya titip Ari aja bu”, jawabku. Ibu kembali menangis dan berujar..”ibu gak akan ngusir kamu Den...kamu telah baik selama ini membantu ibu, ini salah ibu juga, ibu minta ini jadi rahasia kita berdua Den”, “saya akan jaga rahasia ini Bu”, jawabku pelan sambil berupaya memeluknya, kali ini ibu dengan pasrah meringkuk dipelukanku dan menumpahkan tangisan di dadaku sampai akhirnya mereda, dan entah siapa yang mendahului kembali bibir kami saling berpagutan.

Tanganku mulai meremas-remas payudara montok milik ibu, sementara ibu dengan malu-malu mengusap-usap batang penisku yang kembali siap tempur. Pertarungan ronde kedua kembali dimulai. Menyadari ternyata ibu juga memendam hasrat, kali ini setiap adegan film-film porno yang biasa aku lihat bersama tetangga, kupraktekan. Aku bangkit mengangkangi dada ibu, kuarahkan batang penisku ke mulutnya, mula-mula ia jengah menolak, namun terus kupaksa, sampai akhirnya agak terbatuk-batuk ia telan nyaris seluruh batang kontolku. Aku tak begitu bertindak memaksa khawatir ia akan muntah-muntah lagi. Yang penting sensasi bahwa aku menguasai dirinya menjadi kepuasan tersendiri. Ku putar tubuhnya hingga membelakangiku, ku susun dua tumpuk bantal di bawah perutnya, sebelum kusetubuhi dari belakang aku melakukan ritual menjilati setiap mili memeknya, membuat ibu kembali merinding dan merintih-rintih. Lalu...,’’jlebb’’...kembali batang kontolku tenggelam dalam liang senggama ibunda isteriku itu. Kali ini ibu tak malu-malu mengeluarkan suara rintihan nikmat. Pantat molek itu mulai berguncang-guncang akibat hentakanku. Tanganku segera meraih gunung kembar yang kini bergantung terayun-ayun.”ouuh...Den...oohhh”, rintih ibu menemani geramanku...tubuh kami kembali berkilauan basah oleh keringat. Ronde kedua ini lebih lama berlangsung...ibu menghujamkan wajahnya di bantal untuk meredam suara pekikan ketika orgasmenya tiba..bagaimana munkin wanita sehangat ini bisa ditinggal ayah mertua, pikirku. Capek melakukan doggi style, kembali ku telentangkan tubuh bugil ibu mertuaku itu, pantatnya kembali kuganjal bantal sehingga pinggulnya mendongak, ku pentangkan lebar-lebar selangkangan ibu, dan kulipat lututnya hingga nyaris menyentuh pundaknya...lalu satu tusukan teramat dalam kembali dialami lubang kemaluan ibu.

Ibu kembali mendesah-desah menerima setiap hentakan demi hentakan senjata biologis milikku...dan sekali lagi ia mengalami orgasme dahsyat yang tak dirasakannya bertahun-tahun, mengundang datangnya orgasmeku pula yang sekali lagi menyirami mulut rahimnya dengan cairan benih potensial. Pagi itu hubungan menantu-mertua telah melanggar batas menjadi hubungan terlarang sepasang kekasih yang masing-masing masih terikat perkawinan. Dan persetubuhan itu kembali terjadi hingga aku mengalami 5 kali orgasme,,,ibu mertua? Tak terhitung malah. Menjelang siang aku segera beranjak keluar kamar yang kini beraroma seks itu. Bagaimanapun aku harus mencari nafkah, dari situlah aku bisa membeli susu untuk anakku dan kebutuhan sehari-hari yang biasanya kuserahkan pada ibu mertua.


    Malam menjelang pukul sembilan aku baru pulang. Ibu tengah menonton TV menemani anakku yang tengah bermain. Seutas senyum kecilnya menyambut kehadiranku. “Ibu udah sehat? ini bu, buat belanja besok”, ujarku seraya menyerahkan 3 lembar uang 10 ribuan. “Makasih...ibu udah mendingan kok, Deni makan dulu sana, ibu hanya beli makanan jadi tadi siang, belum masak”, jawabnya. Benar kata orang, sex bisa jadi obat, pikirku seraya menyambar handuk digantungan dan menuju kamar mandi. Usai makan malam, aku bangkit ke ruang tengah. Ibu masih berbaring di depan TV, sementara anakku sudah tertidur di sampingnya. Ku angkat dia dan kubaringkan di ranjang ibu. Di luar kamar, tanpa basa basi lagi kutindih tubuh ibu, ku lolosi daster lusuhnya melewati kepalanya, lalu beha dan celana dalamnya. Bibir kami segera berpagutan. Kuremasi setiap bagian indah lekuk tubuhnya, payudara, pinggul, pantat...sambil mencolokan dua jemariku di vaginanya yang tanpa disuruh sudah diselaputi cairan pelumas. “oohh...Den....aahh...”, bagai kepedasan ibu terus mendesah. “Isap kontolku bu”, ujarku sambil menariknya agar berlutut dihadapanku..sulit dibayangkan kata-kata tak pantas itu bisa keluar dari mulutku terhadap seseorang yang seharusnya aku hormati .”mmmf ...mmmf..mff”, ibu mulai mahir melakukan hisapan, jilatan bak pelacur profesional.

    Puas merasakan hangatnya rongga mulut ibu, ganti aku mengunyah, menghisap dan menusuk-nusuk lubang memeknya dengan lidah dan jemariku, pinggul ibu bergerak kesana – kemari dan mulutnya mulai ribut merintih, khawatir didengar tetangga, segera kuarahkan batang penisku ke mulutnya, dalam posisi 69 kami saling mengecap kemaluan masing-masing hingga kami puas. Di atas tikar lusuh itu, ibu dengan sadar membuka lebar-lebar pahanya, membuat celah vaginanya merekah merah dan basah. Dan ia meringis ketika kembali benda terlarang memasuki tubuhnya. “oooh...Den,”...”ibu...ahhhss”, sekian menit kemudian di antara rintihannya, ibu berkata..”den...pindah yuk, punggung ibu sakit kalau di sini”, pintanya, aku mengangguk dan mencabut kemaluanku. Ibu beranjak berdiri hendak berjalan menuju kamar, namun pinggangnya segera kutangkap. Dari belakang kembali kusetubuhi ibu, kutangkap sepasang payudaranya yang montok itu. Sambil kusetubuhi, ku dorong tubuhnya agar berjalan, hingga kami tiba di dalam kamar. Ibu merangkak naik ke atas ranjang tanpa batang kontolku meninggalkan jepitan liang senggamanya. Kembali ku hentak-hentakan pinggulku hingga ranjang tua itu berderit-derit, membuat apa yang diatasnya berguncang-guncang tak terkecuali anakku yang tengah tidur dengan nyenyaknya.

Ibu menggigit jari mencegah rintihan keras keluar dari mulutnya. Beberapa lama kemudian kembali kutelentangkan tubuhnya, dengan otomatis ia membuka pahanya...dan “blesss”,,,batang penisku kembali amblas ditelan rongga sempit,basah dan hangat milik ibu. Ku rentangkan tangannya ke atas, kuhirup dalam-dalam aroma asli tubuh wanita setengah baya yang masih sangat sensual itu. Keringat kami kembali saling melebur menjadi satu, deritan ranjang tua itu mengiringi irama bergesekannya dua kelamin dan suara jangkrik di luar. Dan Ibu menyembunyikan wajahnya di dadaku ketika ia dilanda kepuasan bathin hubungan terlarang malam itu. Dan berkali-kali pula cairan spermaku mengisi penuh rongga memek ibu. Malam itu ibu mengalami lebih 6 kali orgasme, sedangkan aku sampai empat kali hingga spermaku nyaris habis.

    Bulan-bulan berikutnya hubungan haram itu terus berlangsung. Dan membawa konsekwensi tumbuhnya benih yang kutanam. Untunglah sebelum berkembang leih besar, bapak mertua datang. Walau membuatku begitu cemburu ketika suatu malam ranjang tua kamar ibu kembali berderit, bukan karena ulahku, tapi bapak mertua. Hingga sebulan kemudian bapak mertua kembali dapat obyekan dan meyakini istrinya hamil karena dirinya. Setelah ia pergi, bisa ditebak. Kembali ranjang tua itu berderit-derit akibat persetubuhan aku dan ibu, sampai menjelang anak kami lahir.