Tampilkan postingan dengan label sedarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sedarah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Februari 2017

Perahu

Ayah sedang sakit. Ibu menjaganya di rumah. Tidak dibawa ke rumah sakit, karen ketiadaan uang. Untuk sementara, aku yang menggantikan ayah melaut. Ayah terus menerus batuk dan mengeluarkan darah. TBC, kata orang-orang. Aku pun menmbus kabut pagi ke tengah laut, semebari menebar jaring kecil sendirian dengan perahu milik ayah. Perahu kecil dengan cadik kesil di kedua sisinya. Aku pun berhenti sekolah.

Adikku Sutinah, mulai besok libur sekolah. Dia kelas 1 SMP, tak lagi naik ke kelas 2. Aku senang, begitu adikku Sutinah libur, berarti ada yang menolong ibu di rumah. Tapi malah adikku SUtinah ingin ikut denganku melaut. Akhirnya ibu mengizinkannya.

Matahari belum muncul. Angin masih berhembus ke laut. Kami cepat-cepat naik perahu dan mengkayuh agak ke tengah. Lalu kami pasang layar kecil. Dan perahu pun melaju ke tengah laut. Aku tingalmenjaga kemudi agar perahu lurus jalannya. Sutinah duduk di depanku dan menghadap ke arahku. Sesekali dia mempermainkan air laut yang berdesir-desir. Dia berpegangan kuat ke dinding perahu dengan kedu tangannya. Tiba-tiba ombak di depan menggelombang. Perahu kami terangkat ke atas, kemudian tehempas ke bawah. Saat itu, rok Sutinah terangkat. Akh… Sutinah, tidak memakai celana dalam. Mungkin lupa, atau mungkin celana dalamnya lagi basah. Maklum dia hanya memiliki dua buah celana dalam. Akhirnya kami sampai ke pulau kecil. Aku menabur jaring kecil berkeliling. Usai itu, ujung tali, kami tambat ke buritan, dan kami sama-sama berkayuh ke tepi pantai pulau kecil itu.Jangkar yang terbuat dari sepotong besi yang melengkung, kami jatuhkan, agar perahu tak bergerak. Kami perlahan-lahan menrik ujung tali. Tangan kami merasakan aga getar-getar kecil jauh di ujung jaring. Aku yakin, ada ikan di dalamnya. Jaring semakin mendekat. Kami pun mengangkatnya. Benar, ada pulan ikan ukuran kecil, sedang dan agak besar. Kami memasukkannya ke dala perut perahu. Saat mengangkat yang terakhir, Sutinah tepeleset. Tercebur ke laut. Untung aku masih sempat mengangkat semua jaring itu ke dalamperahu. AKu melihat Sutinah bersusah payah berenang mendekati perahu. Aku mencebur ke laut dan menangkap adikku itu. Diakugendong dan kuangkat ke dalam perahu. Saat kutolak pantatnya, terpegang oleh pantatnya yang tanpa celana dalam. Aku menyentuh buah dadanya yang mungil.

Sutinah hanya memakai baju kaos tipis dan tidak juga memakai beha. Selama ini dia hanya memakai singlet saja.. Akibat kuyup, teteknya membayang di bajunya, tanpa dia sadari. Aku terkesima dan langsug birahiku bangkit. AKu diam saja, agar tetek itu tetapmembayang di bajunya yang basah.
“Maafkan aku, Mas,” katanya ketakutan. Dia takut aku marah, karena ketidakhati-hatiannya. Aku diam saja dan membenahi jaring untuk kubuang sekali lagi. Sutinah mendekatiku dan mendekapku, sembari kembali meminta maaf. Aku kasihan padanya. Aku balas memeluknya. Kami berpelukan. Kemudian perlahan kembali mengkayuh ke tengah dan menebar jaring yang kedua kalinya. Dua puluh menit kemudian, kami kembali menariknya dan mengangkat puluhan ekor ikan yang ukuran kecil dan menengah. Kami hitung bersama, ada 62 ekor ikan, berkisar 11 kilogram. Kami pun merapatkan perahu ke pulau kecil. Sutinah kuajak ke sebuah pancuran kecil yang mengalirkan air sejuh dari puncak bukit. Kupangil Sutinah untuk mandi. Mulanya dia ragu. Kuseret tangannya. Lalu kubuka pakaiannya.
“Malu Mas” katanya.
“Kamu harus mandi dik. Nanti kamu sakit, air laut lengket di tubuhku,” kataku beralasan. AkhirnyaSutinah mamu membuka bajunya dan bertelanjang. Dia menutupi teteknya dengan sebelah tangannya dan sebelah lagi menutupi memeknya yang belum berbulu sama sekali. Aku juga membuka pakaiankua dan bertelanjang lalu sama-sama mandidi pancuran kecil itu. Aku menyuruhnya cepat, takut kalau ada nelayan lain yang datang. Kemudian aku mencuci pakaiannya yangkena air laut. Setelah memerasnya, memakaikannya kembali. Hari meulai meninggi. Kami takut, ikan kamitak laku, kami pulang ke tepian. Kami naik ke perahu.

Layarakecil, kembali kami pasang agar tak perlu mengkayuh. Kumintaagar Sutinah dekat denganku. Saat perahu berjalan perlahan, kuminta agar Sutinah naik ke pangkuanku. Lagi-lagi Sutinah ragu. Setelahkupelototi, akhirnya dia naik ke pangkuanku. Punggungnya menyender ke dadaku. Perlahan penisku naik. Perlahan celana yang hanya pakai karet tanpacelana dalam itu kupelorotkan ke bawah. Lalu kuangkat Sutinah dan kusingkap rok-nya. Jelas, penisku menempel di belahan pantatnya. Sebelah tanganku memegang kemudi dan sebelah lagi memeluknya. Kumasukkan tanganku ke sebalik baju kaosnya dan mengelus-elus buah dadanya.
“Mas… nanti…”
“Udah… diam saja,” aku setengah membentak. Perahu terus melaju menuju tepian. Menurut perkiraan, akan sampai berkisar satu jam lagi. Secepatnya jika angin kencang, 45 menit.
“Mas… geli…”
“Yah. Mas tahu, geli. Tapi neak kan? Jangan bohong,” kataku. Sutinah diam. Akhirnya Sutinah menggeliat-geliat. Ujung penisku sudah sesekali menyentuh-centuh parit memeknya. Aku merasa nimat sekali. Sutinah pun menunduk-nunduk sepertinya dia mencari-cari agar ujung penisku mengenai klentitnya. Aku mendengar sesekali dia mendesah. Kuciumi lehernya seraya terus meraba pentil teteknya yang masih kecil. Sampai akhirnya aku melepaskan spermaku.

Kami sampai di darat. Ibu sudah menunggu di tepian. Pembeli ikan naik sepeda sudah menungu juga. Akhirnya ikan kami jual. Rp. 83.000,- Ibu tersenyum.
“Rezeki kamu bagus Rin,” kata ibu.
“Ini rezeki Sutinah, Bu,” kataku. Sutinah tersenyum.
“Baguslah. Kalau begitu Besok Sutinah ikut lagi, ya” kata ibu pada Sutinah. Sutinah tersenyum dan menganguk. AKu senang.
“Sutinah harus ikut bu. Biar adatemanku dan Sutinah rezekinya bagus,” pujikupula. Ibu tersenyum.
Di rumah, aku memperbaiki jaring yang koyak dan SUtinah datang.
“Besok akuikut lagi ya, Mas,”kata Sutinah sepertai membujuk.
“Ya.. Tapi seperti tadi ya. Jangan pakai celana dalam dan pakai baju kaos saja,” kataku. Sutinah mengangguk. Aman pikirku.

Jaring kami tabur lagi dan tarik. Kami tabur lagi dan kami arik pula sampai tiga kali. Kami mendapatkan ikan lebih banyak dari kemarin. Aku mengajak Sutinah mandi ke pancuran. Aku sudah membawa sabun mandi. Kami mandi bedua bertelanjang. Sutinah seperti mulai biasa dan tidak malu lagi. Dalam tubuh kami dilamuri sabun, kami berpelukan. Kucium Sutinah, kuemut teteknya sampai Sutinah mengelinjang. Setelah puasmenciuminya, kami cepat memakai pakaian dan naik ke perahu. Perahu-perahu besar sudah lebih dahulu ke darat. Mereka ingin mendahului kami, agar ikan mereka lebih mahal. Aku justru senang, kami belakangan dari mereka. Perlahan aku memasang layar dan perahu melajur perlahan pula. Sutinah seperti tahu sendiri, dia mendatangiku dan naik ke pangkuanku. Aku justru memintanya agar dia menghadapku. Perlahan dia naik mengangkangi kedua kakiku. AKu sudah mengeluarkan penisku yang tegang.
“Pegang titit, Mas. Kenakan ke anu-mu,” perintahku. Sutinah pun memegang penisku lalu ujungnya dia tempelkan ke lubang memeknya. Perahu terus melaju dan gelombang kecil mengayun-ayunkan kami. Gesekan demi gesekan kami rasakan, membuat kami kenikmatan. Sampai akhirnya kami berpelukan dan aku melepaskan sepermaku beberapa kali ke pintu lubang memek Sutinah.
Bibir pantai sudah jelas terlihat. Aku minta Sutinah agar duduk di tengah. Perlahan diabangkit dan duduk di tengah berpegangan pada kedua sisi perahu.

Kami tiba di pantai. Ibu juga sudah menunggu. Pedagang ikan mulai berdatangan. Kebetulan harga ikan naik dan kami menjual ikan seharga Rp.118.000,- Kembali ibu tersenyum dan memuji kami. Aku tetap memuji Sutinah. Sutinah pun tersenyum dan bangga. kamipulang ke rumah setelah menambatkan perahu dan aku pun kembali memperbaiki jaring yang rusak serta memebli benang yang kurang.
Atas pertolongan penyuluh kesehatan yang memasuki desa-desa dan ABRI masuk Desa, akhirnya ayahku mendapat kesempatan untuk berobat gratis ke rumahsakit di kabupaten. Ayah dibawa naik ambulance militer dengan sirene meraung-raung. Sutinah menangis, ketia ayah dibawa naik ambulance itu. Dia memelukku. Ibu menemani ayah ke rumah sakit dengan membawa semua peralatan yang dibutuhkan. Kata mereka setidaknya

ayah harus dipname selama 4 embualn, kemudian harus makan obat teratur dan diawasi. TBC, masih bisa disembuhkan, kata mereka. Kami pun agak lega juga.

Aku dan adikku Sutinah, menyusul ayah dengan naik sepeda. Siang kami tiba di rumah sakit. Ayah dirawat. Tangannya sebelah diinfus. Hidungnya, diberi pernafasan. Kata mereka namanya oksigen. Ayah mulai lega bernafas. Ibu pun dirawat juga dengan diinjeksi dan diberi obat. Kami hanya dua jam di rumah sakity. Setelah itu, kami pulang dan tak lupa membeli peralatan untuk menempel jaring. Kami sempat makan di warung tepi jalan dan makan dengan lahapnya. Pukul 17.00, kami baru tiba di rumah. Aku langsung tidur, karean keletihan mengkayuh sepeda.

Dalam aku tertidur, aku merasakan, kemaluanku seperti dielus-elus. Aku terbangun. Kulihat adikku Sutinah sedang mengelus-elus kontolku.
“Ada apa, SU?” tanyaku.
“Tadinya titit Mas kecil. Lama-lama jadi besar?” kata adikku. Aku tersenyum saja
“Aku laga-laga ke tempikku ya Mas. Seperti di perahu itu?” kata adikku. Aku diam saja dan kembali menutup mataku. Sutinah langsung meniki tubuhku. Kedua kakinya mengangkangi tubuhku. Ditangkapnya kontolku dan dileganya ke lubang memeknya. Kedua lututnya bertumpu pada lantai.
“Tekan yang kuat, Su. Titit Mas, dimasuki ke dalam lubang tempikmu,” kataku. Adikku melakukannya.
“Ah.. Mas. Sakit,” katanya.
“Perlahan-lahan. Nanti lama-lama gak sakit lagi,” kataku. Dia melakukannya, tapi mengataan tetap sakit. Ya sudah.
“Kamu buka bajumu. Kamu telanjang saja,” kataku.
“Nanti dilihat orang,” bisiknya.
“Tak ada yangmelihat. Hanya kita beruda saja,” kataku. AKhirnya Sutinah mau dan melepas pakaiannya sampai telanjang. Aku duduk dan memangkunya. Aku mempraktekkan, bagaimana Lek Parto menjilati pentil tetek isterinya dan menjilati memek isterinya. Isteri Lek Parti menggeliat-geliat kenikmatan. AKu akan buat adikku nikmat, bisik hatiku. Aku juga melepas semua pakaianku. Aku mulai menjilati tetek Sutinah. Pentilnya yang kecil dan teteknya yang kecil. Benar. Sutinah merasa kegelian. Aku minta dia menikmatinya. Sutinah diam, mulai menikmatinya.
“Enak kan?” bisikku.
“Heemmm…” jawab Sutinah.
“Kami pigi ke belakang duku. Cebik tempikmu pakai sabun sampai bersih, gi” kataku.
“Untuk apa Mas?”
“Ikut saja apa aku bilang. Sana…” Sutinah mengikuti saranku. Aku ingin mendengar desahnya, seperti desah isteri Lek Parto. Sekembali SUtinah, aku suruh dia menelentang di lantai berlasakan tikar. Di rumah kami memang tak ada tilam. Sutinah mengikut. Aku mulai menjilati memeknya. Memek yang belum berbulu sama sekali. Memek yang masih ada satu garis dengan bibirnya yang sedikit membentuk.
“Ah…” Sutinah mulai mendesah, setelah lidahku mulai meliuk-liuk pada itilnya.
“Mas…”

“Udah diam saja… Enak kok,” kataku. Sutinah diam dan kembali mendesah-desah.
“Udah Mas. Aku mau pipis… udah,” katanya. Aku meneruskan. Tak mungkin Sutinah berani pipis di mulutku, pikirku. Aku terus menjilati memeknya. Sampai dia menjepit kepalaku dengan kedua kakinya.
“Mas aku pipissss….” Desahnya. Aku terusmenjilatinya sampai akhirnya kedua kakinya melemas.
“Udah mas. Kasihan Suti Mas,” katanya. Cairan kental meleleh di ujung lidahku. Aku memeluknya.
“Maaf Mas. Aku tadi pipis di mulut Mas,” katanya. Aku diam saja. Aku terus memeluknya dan menempelkan kontolku ke tempiknya.
“Kamu masukin titit mas ke dalam mulutmu,” kataku. Sutinah ragu.
“Ayo…” kataku. Sutinah duduk di sisiku dan memegang kontolku. Perlaha dia masukkan kontolku ke mulutnya. Kuminta dia memainkan lidahnya pada kontolku dan giginya jangan sampai mengenai kontolku. Sutinah melakukannya. Aku mengulur tarik kontolku dalam mulutnya. Sampai maniku menumpah di dalam mulutnya beberapa kali.
“Mas..” katanya.
“Kalau kamu gak mau telan, ya dibuang saja,” kataku. Suti pun meludahkan maniku dari mulutnya. Kuraih tubuhnya dan memeluknya sembari menciumi pipinya. Kami bepelukan lagi.
Tak lama Suti mengatakan nasi sudah siap dari tadi dan kami harus makan.

Suti membuat nasi ke piringku dan ke piringnya bersama lauknya.
“Aku seperti ibu ya Mas. Dan Mas jadi bapak,: katanya.
“Ya. Kita main suami-isteri. AKu suaminya dan kamu isterinya?” kataku pula mengikuti ucapannya. Dia tersenyum. Lalu Suti pun menirukan kelakukan ibu kepada ayah kami. Bagaimana ibu memperhatikan ibu dan memperlakukan ayah, begitu pula Suti terhadapku. IBu kami juga memangil Mas kepada ayah dan ayah memanggil bu ne kepada ibu kami. Ketika aku panggi namanya SUti, Suti memintaku agar aku memanggilnya Bu ne, sembari tersenyum. Aku mengikutinya.
“Tapi kalau tak ada yang mendengar ya?” kataku. Suti mengangguk. Aku pun meanggilnya Bu ne. Nampaknya dia senang. Ya sudah.

Malamnya kami tidur untuk besok subuh kami harus melaut. Kami bepelukan.
Subuh Sutimembangunkan aku. Orang-orang sudah berlalu lalang mau melaut. Kami bangun, mencuci muka dan membuka pintu. Kami turun dari rumah melalui tangga. Di bawah rumah kami melepas perahu setelah mengisinya dengan jaring. Perahu memang tertambat di bawah rumah kami yang airnya lebih setinggilutut. Hampir sepinggang. Kami nak ke atas perahu.
“Bu ne, kamu jangan terlalu jauh ke depan, kataku. Dengan senyum Suti mengiikutiku dan berpindah mendekatiku ke belakang sembarimendayung. Kami mengikuti alur air menuju laut tengah. Dengan cekatan setelah berada 50meter di laut, Suti memacakkan tiang layar dan mengikat layarnya. Dia sudah cekatan nampaknya. Tali layar.dia pegang kuat dan mengulurnya sedikit jika perahu oleng. Aku memegang kemudi.
“Bu ne bersandar ke dada Mas ya?” katanya manja. Dia sudah pula menyebut dirinya dengan kata Bu ne. AKu biarkan saja. Hari masih gelap, perahu-perahu kecil berlayar plastik putih keliahatan sudah mulai banyak di tengah laut. Kami mengikutinya dengan menjaga jarak, agar mereka tidak melihat Suti bersandar padaku dengan manja.
“Kita ke tempat biasa ya Mas, “Kata Suti. Aku mengarahkan perahu ke sana. Tapi di sana sudah adadua perahu lebih dulu. Akhirnya kami mengarahkan perahu ke rimbunnya pohon-pohon bakau seperti sebuah teluk kecil. Kami mulai melepas jaring. Kemudian menariknya perlahan. Aku merasakan ikan-ikan bergetar di dalam jaring.
“Hati-hati, nampaknya ikannya banyak,” kataku. Benar saja, ikan menggelpar-gelepar di jaring. Setelah melepas ikan-ikan itu, kami menebar lagi di tempat yang sama. Kami tarik lagi. TIga kali kami menebarnya, kemudian kami keluar dari teluk itu. Kami tersenyum. Tangkapan kami hari ini, lumayan baik.
Kutarik Suti mendekatiku dan kukecup bibirnya, seperti apa yag dilakukan Lek Parto pada isterinya.
“Kamu isap lidah Mas ya. Kita bergantian mengisap lidah,” kataku. Suti menatapku.
“Kamu mau ya Bu ne…” kataku meayunya. Suti tersenyum setiap kali aku memanggilnya Bu ne. Kulurkan lidahku dan Suti mulai mengemutnya. Kami bergantian.
“Ayo sudah. Kita harus cepat ke darat. Nanti pembeli ikan pada pulang,” kataku. Kami memasang layar dan mengarahkannya pulang. Perahu melayu agak kencang, karean angin yang hidup menolak kami ke darat.
Para pembeli ikan menyerbu kami dan kami menjualnya Seorang tentara yang ikut masuk desa mengawasi kami. Pembeli ikan tak berani macam-macam. Kami mendapat uang hampir dua ratus ribu rupiah.
Perahu kami kayuhke kolong rumah dan kami naik ke atas. Aku minta Suti membeli mi goreng dua bungkus dan aku memasak nasi. Begitu nasi masak. Suti sudah pulang dari membeli Mi goreng. Kami makan nasi bercampur mi goreng. Kami makan dengan lahap.
“Kita tidur-tiduran lagi ya, Mas?” kata Suti.
“Sebentar, biar Mas betulin jaring dulu. Setelah siap kita boleh todur. Kalau tidak, nanti kita keasyikan dan lupa memperbaiki jaring,” kataku. Suti merajuk.
“Sabar dong Bu ne…” kataku merayu. Suti tersenyum dan memelukku.
“Iya mas. Bu ne ikut membantu ya?” katanya menyeret tanganku. Kami mengeluarkan jaring dari perahu dan menjemurnya, sembari memperbaikinya.
Atas pertolongan penyuluh kesehatan yang memasuki desa-desa dan ABRI masuk Desa, akhirnya ayahku mendapat kesempatan untuk berobat gratis ke rumahsakit di kabupaten. Ayah dibawa naik ambulance militer dengan sirene meraung-raung. Sutinah menangis, ketia ayah dibawa naik ambulance itu. Dia memelukku. Ibu menemani ayah ke rumah sakit dengan membawa semua peralatan yang dibutuhkan. Kata mereka setidaknya

ayah harus dipname selama 4 embualn, kemudian harus makan obat teratur dan diawasi. TBC, masih bisa disembuhkan, kata mereka. Kami pun agak lega juga.

Aku dan adikku Sutinah, menyusul ayah dengan naik sepeda. Siang kami tiba di rumah sakit. Ayah dirawat. Tangannya sebelah diinfus. Hidungnya, diberi pernafasan. Kata mereka namanya oksigen. Ayah mulai lega bernafas. Ibu pun dirawat juga dengan diinjeksi dan diberi obat. Kami hanya dua jam di rumah sakity. Setelah itu, kami pulang dan tak lupa membeli peralatan untuk menempel jaring. Kami sempat makan di warung tepi jalan dan makan dengan lahapnya. Pukul 17.00, kami baru tiba di rumah. Aku langsung tidur, karean keletihan mengkayuh sepeda.

Dalam aku tertidur, aku merasakan, kemaluanku seperti dielus-elus. Aku terbangun. Kulihat adikku Sutinah sedang mengelus-elus kontolku.
“Ada apa, SU?” tanyaku.
“Tadinya titit Mas kecil. Lama-lama jadi besar?” kata adikku. Aku tersenyum saja
“Aku laga-laga ke tempikku ya Mas. Seperti di perahu itu?” kata adikku. Aku diam saja dan kembali menutup mataku. Sutinah langsung meniki tubuhku. Kedua kakinya mengangkangi tubuhku. Ditangkapnya kontolku dan dileganya ke lubang memeknya. Kedua lututnya bertumpu pada lantai.
“Tekan yang kuat, Su. Titit Mas, dimasuki ke dalam lubang tempikmu,” kataku. Adikku melakukannya.
“Ah.. Mas. Sakit,” katanya.
“Perlahan-lahan. Nanti lama-lama gak sakit lagi,” kataku. Dia melakukannya, tapi mengataan tetap sakit. Ya sudah.
“Kamu buka bajumu. Kamu telanjang saja,” kataku.
“Nanti dilihat orang,” bisiknya.
“Tak ada yangmelihat. Hanya kita beruda saja,” kataku. AKhirnya Sutinah mau dan melepas pakaiannya sampai telanjang. Aku duduk dan memangkunya. Aku mempraktekkan, bagaimana Lek Parto menjilati pentil tetek isterinya dan menjilati memek isterinya. Isteri Lek Parti menggeliat-geliat kenikmatan. AKu akan buat adikku nikmat, bisik hatiku. Aku juga melepas semua pakaianku. Aku mulai menjilati tetek Sutinah. Pentilnya yang kecil dan teteknya yang kecil. Benar. Sutinah merasa kegelian. Aku minta dia menikmatinya. Sutinah diam, mulai menikmatinya.
“Enak kan?” bisikku.
“Heemmm…” jawab Sutinah.
“Kami pigi ke belakang duku. Cebik tempikmu pakai sabun sampai bersih, gi” kataku.
“Untuk apa Mas?”
“Ikut saja apa aku bilang. Sana…” Sutinah mengikuti saranku. Aku ingin mendengar desahnya, seperti desah isteri Lek Parto. Sekembali SUtinah, aku suruh dia menelentang di lantai berlasakan tikar. Di rumah kami memang tak ada tilam. Sutinah mengikut. Aku mulai menjilati memeknya. Memek yang belum berbulu sama sekali. Memek yang masih ada satu garis dengan bibirnya yang sedikit membentuk.
“Ah…” Sutinah mulai mendesah, setelah lidahku mulai meliuk-liuk pada itilnya.
“Mas…”
“Udah diam saja… Enak kok,” kataku. Sutinah diam dan kembali mendesah-desah.
“Udah Mas. Aku mau pipis… udah,” katanya. Aku meneruskan. Tak mungkin Sutinah berani pipis di mulutku, pikirku. Aku terus menjilati memeknya. Sampai dia menjepit kepalaku dengan kedua kakinya.
“Mas aku pipissss….” Desahnya. Aku terusmenjilatinya sampai akhirnya kedua kakinya melemas.
“Udah mas. Kasihan Suti Mas,” katanya. Cairan kental meleleh di ujung lidahku. Aku memeluknya.
“Maaf Mas. Aku tadi pipis di mulut Mas,” katanya. Aku diam saja. Aku terus memeluknya dan menempelkan kontolku ke tempiknya.
“Kamu masukin titit mas ke dalam mulutmu,” kataku. Sutinah ragu.
“Ayo…” kataku. Sutinah duduk di sisiku dan memegang kontolku. Perlaha dia masukkan kontolku ke mulutnya. Kuminta dia memainkan lidahnya pada kontolku dan giginya jangan sampai mengenai kontolku. Sutinah melakukannya. Aku mengulur tarik kontolku dalam mulutnya. Sampai maniku menumpah di dalam mulutnya beberapa kali.
“Mas..” katanya.
“Kalau kamu gak mau telan, ya dibuang saja,” kataku. Suti pun meludahkan maniku dari mulutnya. Kuraih tubuhnya dan memeluknya sembari menciumi pipinya. Kami bepelukan lagi.
Tak lama Suti mengatakan nasi sudah siap dari tadi dan kami harus makan.

Suti membuat nasi ke piringku dan ke piringnya bersama lauknya.
“Aku seperti ibu ya Mas. Dan Mas jadi bapak,: katanya.
“Ya. Kita main suami-isteri. AKu suaminya dan kamu isterinya?” kataku pula mengikuti ucapannya. Dia tersenyum. Lalu Suti pun menirukan kelakukan ibu kepada ayah kami. Bagaimana ibu memperhatikan ibu dan memperlakukan ayah, begitu pula Suti terhadapku. IBu kami juga memangil Mas kepada ayah dan ayah memanggil bu ne kepada ibu kami. Ketika aku panggi namanya SUti, Suti memintaku agar aku memanggilnya Bu ne, sembari tersenyum. Aku mengikutinya.
“Tapi kalau tak ada yang mendengar ya?” kataku. Suti mengangguk. Aku pun meanggilnya Bu ne. Nampaknya dia senang. Ya sudah.

Malamnya kami tidur untuk besok subuh kami harus melaut. Kami bepelukan.
Subuh Sutimembangunkan aku. Orang-orang sudah berlalu lalang mau melaut. Kami bangun, mencuci muka dan membuka pintu. Kami turun dari rumah melalui tangga. Di bawah rumah kami melepas perahu setelah mengisinya dengan jaring. Perahu memang tertambat di bawah rumah kami yang airnya lebih setinggilutut. Hampir sepinggang. Kami nak ke atas perahu.
“Bu ne, kamu jangan terlalu jauh ke depan, kataku. Dengan senyum Suti mengiikutiku dan berpindah mendekatiku ke belakang sembarimendayung. Kami mengikuti alur air menuju laut tengah. Dengan cekatan setelah berada 50meter di laut, Suti memacakkan tiang layar dan mengikat layarnya. Dia sudah cekatan nampaknya. Tali layar.dia pegang kuat dan mengulurnya sedikit jika perahu oleng. Aku memegang kemudi.
“Bu ne bersandar ke dada Mas ya?” katanya manja. Dia sudah pula menyebut dirinya dengan kata Bu ne. AKu biarkan saja. Hari masih gelap, perahu-perahu kecil berlayar plastik putih keliahatan sudah mulai banyak di tengah laut. Kami mengikutinya dengan menjaga jarak, agar mereka tidak melihat Suti bersandar padaku dengan manja.
“Kita ke tempat biasa ya Mas, “Kata Suti. Aku mengarahkan perahu ke sana. Tapi di sana sudah adadua perahu lebih dulu. Akhirnya kami mengarahkan perahu ke rimbunnya pohon-pohon bakau seperti sebuah teluk kecil. Kami mulai melepas jaring. Kemudian menariknya perlahan. Aku merasakan ikan-ikan bergetar di dalam jaring.
“Hati-hati, nampaknya ikannya banyak,” kataku. Benar saja, ikan menggelpar-gelepar di jaring. Setelah melepas ikan-ikan itu, kami menebar lagi di tempat yang sama. Kami tarik lagi. TIga kali kami menebarnya, kemudian kami keluar dari teluk itu. Kami tersenyum. Tangkapan kami hari ini, lumayan baik.
Kutarik Suti mendekatiku dan kukecup bibirnya, seperti apa yag dilakukan Lek Parto pada isterinya.
“Kamu isap lidah Mas ya. Kita bergantian mengisap lidah,” kataku. Suti menatapku.
“Kamu mau ya Bu ne…” kataku meayunya. Suti tersenyum setiap kali aku memanggilnya Bu ne. Kulurkan lidahku dan Suti mulai mengemutnya. Kami bergantian.
“Ayo sudah. Kita harus cepat ke darat. Nanti pembeli ikan pada pulang,” kataku. Kami memasang layar dan mengarahkannya pulang. Perahu melayu agak kencang, karean angin yang hidup menolak kami ke darat.
Para pembeli ikan menyerbu kami dan kami menjualnya Seorang tentara yang ikut masuk desa mengawasi kami. Pembeli ikan tak berani macam-macam. Kami mendapat uang hampir dua ratus ribu rupiah.
Perahu kami kayuhke kolong rumah dan kami naik ke atas. Aku minta Suti membeli mi goreng dua bungkus dan aku memasak nasi. Begitu nasi masak. Suti sudah pulang dari membeli Mi goreng. Kami makan nasi bercampur mi goreng. Kami makan dengan lahap.
“Kita tidur-tiduran lagi ya, Mas?” kata Suti.
“Sebentar, biar Mas betulin jaring dulu. Setelah siap kita boleh todur. Kalau tidak, nanti kita keasyikan dan lupa memperbaiki jaring,” kataku. Suti merajuk.
“Sabar dong Bu ne…” kataku merayu. Suti tersenyum dan memelukku.
“Iya mas. Bu ne ikut membantu ya?” katanya menyeret tanganku. Kami mengeluarkan jaring dari perahu dan menjemurnya, sembari memperbaikinya.
Sudah dua hari ayah pulang dari rumah sakit. Dia harusbanyak istirahat. Tidak boleh inum alkohol, kopi, merokok dan keluar malam. Makan obat harus terus diawasi dan dipaksa, jika ayah menolak. Demikian nasehat dokter.
Setelah seminggu ayah di rumah, ternyata aku dan adikku Suti, sudah tak tahan lagi. Malam ini, Suti meraba kemaluanku. Tentunya setelahmendengar ayah ngorok dan tertidur pulas. Tempat tidur kami, hanyaq dibatasi

oleh tirai kain. Aku meliriknya dan memeluknya. kami berciuman. Suti membuka kainnya dan menyodorkan teteknya padaku untuk aku hisap dan jilati. Aku melakukannya dan aku sudah tak tahan lagi. Aku pelorotkan celanaku sampai lepas dan Suti juga melepaskan kain sarungnya. Dengan cepat SUtimenaiki tubuhku dan menggoyangku dari atas. Kurangkul tengkuknya dan kubisikka padanya agar pelan-pelan. Jangan sampai ibu dan ayah mengetahuinya. Mulanya Suti mengikutinya, tapi nampaknya laranganku dilanggar lagi, sampai dia puas dan lemas.

Mulai aku membelaikkan tubuh. KIni aku sudah berada di atas tubuhnya. Perlahan kupompa tubuh Suti dan menindihnya dari atas, sembari menicumi bibirnya dan lidah kami berpautan. Aku sudah semakin memuncak dan aku juga tak mampu bergerakpelan. Kugenjot tubuh Suti dengan kuat sembari memeluknya. Saat itu, betisku dicubit. Aku melihatnya ke belakang. Oh.. ibu yang mencubit betisku. Tapi kenikmatanku sudah berada di atas da aku meneruskan memompa tubuh Suti, sampai kami sama-sama menikmati kepuasan. Lalu kami berpelukan dan memakai pakaian kami sembari tidur.

Ibu membangunkan aku dan Suti. Ibu mengajakku untuk sama turun ke laut. Sedang Suti, tiba waktunya harus ke sekolah. Aku mengangkat jaring dan memasukkannya ke dalam perahu. Baru saja kami mengkayuh perahu dan belum mencapai bibir laut, ibu bertanya kepadaku.
“Tadi malam kamu dan Suti ngapain? Dia kan adikmu. Sejak kapan kamu dan Suti melakukan itu,” tanya ibu. Mulanya aku diam. Ibu terus mendesak agar aku memberikan jawaban. Ibubenar-benar marah. AKu takmampu menjawab pertanyaannya.
“Sejak kapan, tole,” desak ibu.
“Sejak ibu dan ayah ke rumah sakit,” jawabku menunduk sembari terus mengkayuh. Kami pun tiba di bibir pantai. Aku memasang layar. Ibu berusia 37 tahun dan gtubuhnya yang mungil, ntapi marahnya segunung. Akhirnya ibu diam saja. Aku juga diam.

Aku membuang jaring ke laut dan ibu ikut membantunya melepas jaring-jaring itu. Hari ini, memang rezeki kami sangat mujur. TIga kali kami membuang jaring, ikan-ikan demikian banyak kami tangkap. Rata-rata ukuran sedang. Saat nelayan lain sudah pada pulang, kami masih menarik jaring.
“Kita kemana?” tany ibu, sat perahu kubawa ke tepi pulau kecil.
“Mandi Bu. JUga makan. Kita makan di sini sana, lebih teduh dan enak,” kataku. Perahu merapat ke pantai dan aku langsung menuju pancuran. Aku membuka seluruh pakaianku bertelanjang aku menadah air pancur yang sejuk di kepalaku. Aku tahu ibu datang dari belakang, tapi aku pura-pura tidak melihatnya. Ibu menunggu aku siap mandi. Gantia kami mandi di pancuran itu. Ibu pun mandi telanjang juga setelah di memintaku untuk berjaga-jaga. Aku mengintipnya. Tubuh ibuku, membuat aku nafsu sekali.
Selesai ibu mandi, kami makan bersama di tepi pancuran itu, sembari melihat perahu kami yang tertambat. Kontolku masih saja menegang dan aku secepatnya makan. Ibu juga mengikutinya, karea hari sudah pukul 07.00. Kami harus sampai pukul 08.00 di pantai agar pembeli ikan tidak keburu pulang.

Saat ibu mengangkat kakinya, dari celana pendek yang dipakai dan longgar, aku mengetahui ibu tidak memakai celana dalam. Aku melihatnya tadi waktu dia memakai celana. Kurangkul ibu dri belakang.
“Ada apa, Tole?” tanya ibu perlahan. Aku diam saja. Ibu bertanya kembali, karean pelukanku belum lepas. Perlahan kutarik ibu ke sebuah batu besar yang agar ceper. Langsung kupeluk ibu. Ibu meronta dan melawan. Dia sangat berang dan marah. Aku sudah tak perduli. Kusentap celananya sampai lepas dan aku juga dengan cepat melepas celanaku. Ku peluk ibuku dan kuciumi lehernya. Ibu tetap meronta dan menolakku. Tapi aku sudah berada di antara kedua kakinya dan kumasukkan kontolku ke memek ibu. Perlahan kudorong. Saat kuraba, memek ibu sudah basah dengan air kental. Cepat aku sadar, kalau ibu sudah nafsu juga. Kusorong pelan-pelan kontolku ke lubang memeknya dan secepat itu, kontolku lenyap di dalam memeknya. Aku molau memompanya,walau ibu terus menerus meronta bahkan mearik rambutku dengan kuat. Aku semakin tak perduli. Terus memeluknya, menciumi lehernya dan memompa tubuhnya dengan lebih cepat. Aku merasa jambakan tangan ibu di rambutku sudah melemah. Aku terusmemompanya dan menciumi lehernya. Sampai akhirnya aku memeluknya kuat dan menekan sekuat-kuatnya kontolku ke dalam dan melepaskan beberapa kali spermaku di dalamnya. Saat itu, aku merasakan ibuku balas memelukku, walau malu-malu. Saat aku mau mencabut kontolku, saat itulah ibu memelukku da menahan pantatku. Aku urung menarik kontolku. Yang kudengar mulut ibu mendesis-desis dan akhirnya dia melepas pelukannya.

“Kamu memang anak kurang ajar. Biadab sekali kamu,” bentakibu pdaku sembari menangis.
“Sudah bu, Maafkan aku,” kataku sembari memeluknya. Ibu meronta.
“Jangan!” bentak ibu. Aku membujuknya, sampai akhirnya ibu diam dan aku membimbingnya ke atas perahu.
“Jangan sampai terlang lagi!”: bentak ibu. AKudiam. Kupasang tali layar dan perlahan aku mengkayuhnya. Kumintaibu duduk dekat denganku dibelakang, agar haluan perahu terangkat sedikit dan perahu kami bisa berjalan dengan cepat. Ibu mendekat. Akhirnya tubuh ibu kukepit dengan kedua kakiku. Kontolku walau dari balik celana tertempel ke punggung ibuku. Kedua tangan ibu sengajakubimbing berada di paha kiri dan kananku. Saat perahu perlahan berlayar dan laut sepi, karena semua nelayan sudah berada di tepian pantai, aku takmampu menahan kontolku yang sudah tegang dan keras. Dengan sebelah memegang kemudi, sebelah lagi tanganku kumasukkan ke kaos ibu dari atas dan aku meremas tetek ibu dengan lembut.
“Ah.. ada apa lagi…” kata Ibu meronta, sampai perahu oleh.
“Ibu diam. Kita akan terbalik nanti,” kataku.
“Kamu ini bagaimana? Apa kamu tidakmengerti jangan diulangi lagi, Mengerti!” bentak ibu. Tapi aku terusmeremas tetek ibu. Bergantian. Aku sengata membawa perahu melalui sela-sela pohon bakau agar teduh dan sepi. Cepat kulorotkan celanaku dan melorotkan celana ibu.
“Aduh gusti, kamu ini….!!!” Aku tak perduli. Kuangkattubuh ibu ke atas pangkuanku, walau dia membelakangi tubuhku dan kami sama-sama menghadap ke depan. Aku tahu, ibu sudah berbulan-bulan tidak bersetubuh. Cepat kucelupkan kontolku ke lubang memek ibu.
“Akh… ” kata ibu. Tapi kontolku sudah berada di dalam. Perahu terus berjalan dengan santaidalam tiupan angin yang sepoi.
“Aduh.. bagaimana ini Tole,” tanya ibu padaku.
“Ibu diam saja. Kita akan cari waktu yang baik, kita ke pulau dan kita akan memuaskan diri kita dengan tenang,” katraku merayu.
“Biadab kamu !” bentaknya. Suara desau angin dan ombak-ombak kecil membuat perahu bergoyang-goyang. AKu memeluk ibu dari belakang dengan sebelah tangan dan…
“Ibu… aku mau sampai. Sebentar lagi, aku akan mencabutnya. Tenanglah…” kataku.
“Dioam kamu biadab. Coba kamu cabut. Tunggudulu,” bentak ibu. Aku diam dan memeluk erat tubuh ibu serta melepaskan spermaku.
“Sudah, Bu. Aku sudah sampai,” kataku lirih.
“Tungu. Jangan kamu cabut dulu. Kurang ajar kamu,” bentak ibu lagi. AKu diam saja. Sampai akhirnyaibumendesah dan diamencabut sendiri kiontolku yang sudahlemas. Ibu memakai kembali celananya. Aku juga. Kami terus menuju pantai. Pembeli masih ada yang menunggu kami membeli ikan. Ikan kami jual dan kami kembali ke rumah kami.
Aku segera mengangkat jaring ke bawahpohon kelapa 50 meter dari rumah dan memperbaikinya, ibu mempersiapkan makan siang untuk kami sekeluarga. 
Ibu membawakan segelas kopi panas padaku dan dua buah pisang goreng dan meletakkannya dekatku. Ibu ikut membenahi jaring-jring, agar besok kami pakai lagi. Ibu duduk di dekatku.
“Awas ya… kalau kamu bercerita kepada siapa saja. Kubunuh kamu..” ancam ibu. Aku tersenyum.
“Bukannya menjawab, malah tersenyum,” kata ibu membentak dengan suara tertahan, takut di dengar orang lain.


“Ya… pasti aku tidak bercerita apa-apa,” kataku tenang. Ibu pun tersenyum. Ayo cepat dibenahi, biar kita cari kerang dan kepiting,” kata ibu.
“Aku buatkan teh manis dyulu dan botol. Cepat masukkan jaring ke dalam perahu,” kata ibuku. Aku mengikutinya. Jaring kusimpan ke dalam perahu dan memasukkan jala serta memasyukan alat-alat penangkap kepiting juga. Saat aku melepaskan perahu dari tambatannya di bawah kolong rumah kami dan meyorongnya ke aliran air yang agak dalam. Ibu berjalan sampai ke pantai. AKu tahu, dia akan menaiki perahu di sana, karena aliran sungai kecil, masih dangkal. Aku menjalankan perahu dengan menolak galah ke dasar lumpur. Bukan mengkayuhnya.

Begitu aku tiba di tepian laut, ibu tersenyum menyambutku. Ibu cepat naik ke perahu dan ikut mengkayuh. Orang-orang maklum. Mereka tahu, kalau kami butuh banyak uang untuk menyekolahkan adikku Suti dan mengobati ayahku. Kami harus bekerja keras. Orang-orang kapung pun kagum melihat kerja keras kami. Satu jam lebih kami mengkayuh dan sambil bercerita. Ibu banyak bertanya tentang Suti dan menasehatiku, agar jangan sampai hamil. Kami akan mendapat malu sekampung, katanya. Aku setuju. Tapi aku minta ibu harus rela juga, kalau sekali seminggu, aku membawa Suti ke pulau bakau untuk menangkap kepiting. Alasanku menangkap kepiting, tapi ibu sudh mengerti maksudku, agar Suti juga mendapat giliran. Ibu diam tan membantah.

Sampai di tempat kami menjatuhkan sepuluh buah alat penangkap kepiting ke laut dengan umpan usus ayam, entah darimana ibu mendapatkannya. Aku memasang juga sepuluh buah pancing dengan umpannya dan menancapkannya ke beberapa tempat, untuk memancing ikan sembilang. Kini iabu yang turuna ke lumpur untuk meraba lumpur mendapatkan kerang. Orang-orang berseliweran. Melihat kami sudah berada di tempat memasang jerat kepiting dan mengembangkan jaring, perahu-perahu itu pun berlalu. Sesekali terdengar teriakan. Udah dapat banyak belum….? Aku menjawabnya dengan sambil lalu:” baru turun paaaakkk.” Mereka pun berlalu, bahkan banyak yang pulang, karean kosong tak dapat apa-apa. Ibu mengantarkan beberapa keranjang kecil kerang ke atas perahu. Di akar bakau, ibu mengelus kontolku. Tangannya dia masukkan dari atas karet celanaku.
“Bu, hati-hati, nanti aku jatuh, ” kataku. Ibu tersenyum. Kontolku cepat mengeras. Ibu menurunkan celanaku sampai ke mata kaki. Aku berpegangan ke pohon bakau dan menungghingkan dirinya.
“Ayo cepat… ibu sudah tak tahan. Cepat!” katanya. Aku menyodokkan kontolku perlahan ke lubang memeknya.
“Ayo.. yang dalam… dalam lagi,” katanya. Aku memeluk tubuh ibu dan mengocok kontolku dalam memeknya. Tiba-tia tersengar suara desir air. Pasti perahu yang datang. Aku mencabut kontolku dengan cepat. Menaikkan celanaku dan ibuku juga menaikan celananya dengan cepat. Dia melangkah ke atas perahu dan mengambil sebotol teh manis dan membawanya ke akar-akar pohon bakau. Saat teh tertuang ke dalam gelas, perahu kecil itu lintas. Sebuah perahu kecil.
“Suti….” panggil ibu. Ternyata yang datang ke tempat kami adalah Suti menaiki perahu tetangga tanpa cadik. Suti tersenyum dan menepi. Dia naik ke akar bakau dan membawa beberapa potong goreng sukun. Kami memakannya dengan riang. Ibu menatapku dengan tajam. Dia tandatanya, kenapa Suti harusmenyusul. Apakah Suti sudah curiga?

Setelah meneguk beberapa teguk teh manis, ibu kembali meraba lumpur berpura-pura mencari kerang dan meninggalkan, kami. Aku menyibukkan diri mendekati bebetrapa pancing yang kupasang. Ada dua pacing yang bergoyang-goyang. Aku menariknya dengan cepat. Ya… dua ekor ikan sembilang trangkat dan kulepas dari pancing serta memasukkannya ke dala perahu.
“Kapan kita berdua ke tempat ini?” tanya Suti.
“Kitabuat jadwal setiap minggu pagi dan mingu sore. Saat kamu tidak sekolah dan latiha pramuka,” kataku.
“Benar ya, Mas…” pintaSuti setengah berbisik.
“Benar..” aku janji, kataku.
“Kalau begitu Suti pulang ya…” Suti pun pulang meninggalkan tempat itu. Saat itu ibu datang setelah mencuci tubuhnya yang berlumpur dengan air laut yang bening. Dia mendatangiku ke akar bakau.
“Suti bilang apa?”
“Dia minta jatah. Kapan aku bersamanya?” kataku berterus terang. Aku menceritakan pada ibui, setiap minggu pagi dan minggu sore atau kalau SUti tidak latihan pramuka dan kalau ibu berhalangan.
“Kamu tidak bercerita apa-apa tentang kita kan?” tanya ibu. Menurutku inilah kesempatanku.
“Tidak bu. Tapi nampaknya Suti curiga. Untuk itu, dia harus dapat kesempatan. Kalau tidak dia akan membuntuti kita terus,” kataku berpura-pura. Ibu menjawabku dengan memberiku ciuman di pipiku.
“Kamu anak pintar tole…” kata ibu dan meremas kontolku lagi. Suara-suara burung bercicit-cicit di atas dahan-dahan bakau dan sesekali mereka berkejaran. Ibu melepaskan celananya dan kini dari pusat sampai ke bawah, telah telanjang. Tubuhnya masih padat dan bulukemaluannya sangat tipis membuat belahan memeknya jelas terlihat. Aku bersandar ke pohon bakau. Ibu langsung menaiki tubuhku. Aku berada di antara kedua kakinya. Ibu memasukka kontolku ke lubang memeknya sampai masuk semuanya. Aku memeluknya dan menaikkan baju kaosnya, sampai kedua teteknya tergantung. Mulutku menghisap-hisapnya. Ibu terus memutar-mutar tubuhnya, hingga terasa kontolku menyentuh-nyentuh lubang terdalam dari memeknya. Dan ibu histeris dengan lenguhannya yang kuat dan memelukku kuat sekali.
“Ibu sudah sampai,” kataku. Ibu diam saja dan terus memelukku. Kni giliranku menghenjut-henjutnya dari bawah. Sampai aku melepaskan spermaku. Kami berpelukan dan melepaskan nikmat kami. Akhirnya, kontolku lepas dari lubang memek ibu. Ibu tersenyum. Dia menaikkan celananya dan aku juga. Kami megangkati jerat-jerat kepiting. Ada beberapa yang dapat dan ada yang masih korong. Kami menjatuhkannya kembali. Jaring yang kutebar perlaha kutarik dan ada beberapa ekor ikan kecil yang dapat. Cukup utuk lauk makan kami malam ini dan untuk bekal besok subuh.

“Bagaiamana? Apa kamu dapat menikmatinya?” kata ibu. Aku diam saja.
“Ya.. pasti Suti lebih nimmat, kan?” katany aketus dan cemburu. Aku diam juga.
“Kalau kamu merasa sudah longgar, ibu akan berikan yang lebih sempit dan lebih enak,” kata ibu.
“Bagaimana bisa sempit?” kataku.
“Apa kamu mau?” tanya ibu. Aku mengangguk. Ibu dengancepat menurunkan celanaku dan memasukkan kontolku ke mulutnya. Kontolku dijilatinya. Wah.. aku belum pernah merasakan nikmatnya dikulum seperti itu. Setelah kontolku keras, ibu melepas celananya dan dia menunggingkan tubuhnya dan berpegangan ke pohonbakau.
“Ayo masukkan itu mu ke lubang belakang ibu,” katanya. Aku seperti tak yakin.
“Ayo cepat. Nanti orang datang,” katanya. Aku menusukkan kontolku ke mulut lubang belakangnya. Kutusuk lubang belakang itu dengan kuat. Kepala kontolku sudah menembusnya.
“Perlahan saja. Berhenti sebentar,” kata ibu. Lalu aku menusuknya kembali. Setelah setengah kontolu masuk ke lubang belakangnya, aku merasa kontolku dipijat-pijat. Aku mearasa nikmat.
“Ayo ditusuk terus,” kata ibu. Aku menusuknya.dan mencabutnya. Bagaikan aku menusk dan mencabut di lubang memeknya.
“Kalau mau keluar, keluarkan di lubang memek ib,” pinta ibu. Aku memeluknya dari belakang sembari terus mencucuk cabut kontolku di lubang yang nikmat itu. Sebelah tangan Ibu meraba-raba memeknya.
“Bu.. aku mau keluar…”
“Cepat cabut dan masukkan ke lubang memek ibu,” katanya. Aku mencabutnya dan dengan cepat aku mencucuknya ke lubang memeknya. Aku memeluknya dan melepaskan spermaku di dalam lubang memeknya. Ibu pun kembali histeris dengan nimmatnya.
“Bagaimana… enak kan?” tanya ibu. Au tersenyum.
Kami menarik semua jerat peiting. ada yang kena ada yang kosong. Kami harus pulang, sebelum matahari terbenam. Ibu naik ke perahu dan kami sama menaikkan layar, karena angin masih dari laut ke darat. Kami berlayar dengan perasaan kami masing-masing.

“Kapan-kapan, aku boleh melihatmu bersama Suti?” tanya ibuku.
“Bagaimana caranya, Bu?”
“Kita bertiga ke bakau ini dan aku berpura-pura mencari kerang di seberang sembari meilhat orang. Kalau aku bernyanyi-nyanyi, itu pertanda ada orang. Kalau tidak kamu boleh teruskan dan ibu akan mengintip,” kata ibu. Gila pikirku. Aku diam memikirkannya.
“Tapi kalau Suti mengintip kita, boleh enggak?” tanyaku.
“Suti tak boleh tau. Bisa bahaya,” kata ibu. Aku berpikir. Ya… Suti tak boleh tau.
“Bagaimana?” tanya ibu mendesak. Sebuah desakan yang susah kujawab. Diam-diam, aku mencintai Suti adikku sendiri. Aku menyayanginya. Akhirnya aku pu setuju, kalau ibu boleh melihat aku denganSuti, supaya satu saat nanti ibu muak dan dia tak mau lagi bversetubuh denganku. AKu setuju. Ibu pun tersenyum. Kami sampai di rumah dan membawa hasil kami untuk dimasak untuk makan malam. Suti ikut membantu membersihkan ikan sembilang dan kepiting disimpan untuk besok pagi di jual. Cukup untuk membeli dua kilo beras.
Ibu sangat puas mengintip aku dan Suti berciuman mesra dan saling membelai. saling mengulurkan lidah. Aku menjilati teteknya dan megelusnya. Sutri berada di pangkuanku dan kami berpelukan dengan mesra dan saling mebelai. Aku tahu, ibu mengintipku dari belakang Suti. Aku tahu ibu berahi mengintip kami. Aku tahu ibu meraba memeknya. Ibu juga tahu, kalau aku sangat meikmati persetubuhanku dengan Suti dan sampai
akhirnya aku membuang kondom ke laut. Aku yang menjagadiri dengan SUti, kalau tidak nampaknya Suti mau nempel terus dan bermanja terus. Aku hanrus menjaga mata orang-orang kampung.

Saat Suti sekolah, aku mendengar pertengkaran kecil ibu dan ayahku.
“Kpk kamu bisa hamil, Bune…” kata ayah.
“Lho kok bisa hamil? Pertanyaanmu kok aneh. Apa kontolmu tidak mausk ke puki-ku?” tanya ibu tak kalah sengit.
“Tapi aku kan pakai kondom?” kata ayah.
“Ya enggak tau. Kita tanya saja petuigas KB,” kata ibu. Tak lama kebetulan bu Ningsih petugas KB dari kecamatan lewat di lorong rumah kami. Aku melihatnya dari atas perahu di kolong rumah. Aku mendengar percakapan mereka. Bu NIngsih mengatakan,
“Mungkin konromnya bocor, jadi bisa hamil. Kalau hamil ya sudah, soalnya kan Sutinah sudah SMP jadi sudah bisa hamil lagi,” kata bu Ningsih. Ayah pun diam. Ibu pun dengan kasar membentak ayah setelah bu Ningsih pergi.
“Tuh… jadi jangan tanya-tanya kenapa aku bisa bunting. Yang jelas yang bikin aku bunting, kontolmu sendiri,” kata ibu sangat sengit dan ketus, membuat ayah terdiam tak berkutik. Bahkan tersenyum. Ayah tau, kalau ibu ke laut , aku yang menemani. Yang ayah tak tau, kalau ibu hamil karena aku.

Ayah turun dari rumah menuju kedai kopi dan main catur di sana setelah ibu meaksanya minum obat. Saat ibu mau naik ke rumah, aku memanggilnya. Ibu datang dan naik ke perahu di kolopng rumah.
“Benar ibu hamil?” tanyaku. Ibu mengangguk.
“Ibu takut membuangnya,” jawab ibu.
“Kenapa dibuang, Bu?”
“Karena dalam perut ibu adalah anakmu. Bukan anak ayahmu,” jawab ibu berbisik. Aku diam.
“Kalau nanti harus menyanginya, karean dia anakmu. Ini rahasia,” kata ibu. Aku menganguk. Tak pernah terpikir, aku akan punya anak. Kutatap wajah ibu dan ibu menatap wajahku dengan senyum. Ibu tahu aku limbung dan tak menyangka akan punya anak.

“Tapi kau harus terus menerus menyiraminya,” kata ibu.
“Menyiram bagaimana bu?” tanyaku.
“Kita harus terus menerus ngentot, bodoh,” kata ibu ketus.
“Kenapa?”
“Kalau tidak, nanti di dalam perut anakmu sakit,” kata ibu. Aku mengangguk. Aku berpikiran, kalau orang hamil harus terus menerus disetubuhi. Aku diam. Aku haruspandai-pandai menguasai keadaan agar Suti tidak cemburu. Padahal kalau boleh, aku justru ingin punya anak dari Suti.

“Suti mana?” tanya ibu. AKu amenjelaskan, kalau Sutibaru saja pergi latihan pramuka ke sekolahnya.
“Ayo cepat. Kamu naik dari pintu belakang dan aku dari pintu depan. Kamu harus menyirami anakmu,” kata ibu. Aku cepat meningalkan perahu. Aku tak ingin anakku sakit dalam perut ibu. Cepat kututp pintu. Ibu juga menutup pintu dari depan. Ibu langsung ke dapur menemuiku dan memelukku. Aku juga memeluknya. Ibu menyumpalkan teteknya ke mulutku.
“Buat aku seperti Suti,” kata ibu. Aku mengisap-isap dan merabai tetek ibu.
“Ya.. kamu harusisap, supaya nanti air susu ibu banyak dan anakmu bisa menyusui dengan lahap dari tetek ibu,” bisik ibu. Aku mengiyakan dan melakukan apa yang dikatakan ibu.

Kedu tetek itu kuisap dan kujilati bergantian. Kuremas dan kubelai-belai. Sampai aku sudah meloighat ibu melepaskan pakaiannya. Ibu menidurkan tubuhnya di lantai. Aku melepas celanaku juga dan menindih ibu dari atas. Ku buka kedua paha ibu dan kutusukkan kontolku ke lubang memeknya. Ibu menari tengkukku dan menyedot-nyedot bibirku. Aku menjulurkan lidahku. Kami saling mengisap lidah.
“Oh… kalau dari dulu aku mengathu begini… Kenapa ayahmu tak pernah melakukannya,” kata ibu.
“Ayah hanya melakukan apa, Bu?” tanyaku.
“Ayahmu hanya tau menusuk memek ibu dan menusuk belakang ibu, kalau ibu lagi haid,” katanya. Oh….
Aku terus menggenjotnya dan terus menusuknya. Dlam dan sangat dalam sekali. Ibu menggelinjang dan memelukku dengan kuat.
“”Ayooo… toleee… diteruskan. Ibu sudah mau sampai.. terus nak…” kata ibu. Aku terus menggenjotnya dari atas. Aku menekan kuat tubuh ibu dan ibu memelukku. Kami sama-sama menikmatinya.
“Ayo… buruan… nanti ayahmu pulang…” Aku menggenjotnyaslebih cepat lagi. Leboh cepat lagi dan lebih cepat lagi. Crooottt…croootttt….crrrooooottttt…. Spermaku memenuhi lubang memek ibu dan kami berpelukan denga erat. Kii aku menyadari, bahwa aku juga sudah semakin menyayangi ibu, walau rasa sayangku lebih besar pada adikku Suti.
Kontolku keluar dari memek ibu karena mengacil. Aku bangkit. Ibu pun duduk membenahi celananya. Saat itulah terdengar ketukan di pintu depan. Ayah berteriak memanggil untuk dibukakan pintu.
“Kamu keluar dari pintu belakang langsung ke atas perhau,” kata ibu. Aku mendekati pintu dapur. Saat ibu melangkah ke depan dengan langkah yang kuat di atas lantai papan itu, aku membuka pintu dapur dan melangkahke bawah kolong dan naik ke prahu.

“Kenapa pintu dikunci? Mana anakmu?” tanya ayah.
“Di bawah membenahi jaring,” kata ibu.
“Kebnapa akutidak lihat?” tanya ayah.
“Karena matamu memang tuidak melihat,” jawab ibu ketus. Ayah turun ke korlong rumah. Dia mendapatiku tertidur didalam perahu. Saat ayah mau mendekat, aku pura-pura ngorok. Aku mendengar ayah melamgkah naik ke rumah.
“Wah… dia ngorok,” kata ayah.
“Biarkan dia ngorok. Dia letih sekali. Dia telah menggantikan kedudukanmu mencarimakan. Seharusnya kau banga pada anak laki-lakimu itu,” kata ibu.
“Ya… dia sangat muda menggantikan diriku,” kata ayah sedih. Ayahpu mengembangkan sajadah untuk melaksanakan shalatnya. Aku benar-benar tertidur saat adzan mahgrib berbunyi dari pengeras suara masjid, aku terbangun. Aku memenag letih, bukan mengakayuh perahu, tapi mengkayuh ibu agar anakkubisa aku sirami.

Sehabis makan malam, aku duduk di teras rumah. Ayah dan ibu sudah tertidur, demikian juga Suti. Tak ingin aku membangunkan Suti. AKu hanya memeluknya dan mengcup pipinya dengan sejuta sayang.
Mas kenapa tidak menyayangiku lagi, tanya Suti sepulang sekolah. Aku gagap menjawabnya. Aku jugamerasa, kalau Suti seperti tertinggal. AKu mengetahuinya, kalau Suti suka sendiri dan menyendiri.
“Mas, apa mas tidak sayang sama Suti lagi, ya?” tanyanya dengan rengekan.
“Siapa bilang Mas tidak sayang. Mas, harus kerja keras mendapatkan uang, utnuk sekolahmu, agar kamu
terus sekolah tinggi. Mas rela kerja keras untuk itu. Apa namanya itu bukan sayang?” tanyaku pula. SUti mengengguk.
“Tapi Mas sudah tidak pernah mengajakku lagi ke laut mencari ikan. Ibu saja yang mas bawa,” katanya mereajuk.
“Itu juga karena ibu sayang kamu. Dia tidak mau sekolahmu terganggu,” kataku.
“Tapi mas dan ibu tidak gituan, kan?” tanya Suti menyelidik.
“Apa kamu sudah gila SUti. Dengan ibu sendiri,” kataku pula setengah membentak. Suti diam dan menyadari kesalahannya. Suti lalu memelukku dan menyandarkan kepalanya dibahuku dengan manja. AKu memeluknya dan SUti mendongakkan kepalanya, lalu aku menciumi bibirnya dan kami berciuman mesra. Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Ibu memasuki rumah. Kami cepat-cepat berpisah. Suti turun dari pintu belakang dan aku duduk di lantai. Ibu tersenyum.
“Kedatanganku menggangu ya?” sindir ibu. Aku diam.
“Tapi ibu juga harus memberikan kesempatan kepada Suti. SUti juga butuh…” kataku. Ibu tersenyum.
“Ya.. sudah, bawa dia melaut. Hati-hati jangan sampai ketahuan orang,” kata ibu. Aku langsung turun ke bawah menemui Suti dan mengajaknya melaut, karean Sabtu sore itu, Suti tidak ke sekolah latihan Pramuka dan tidak ikut les. Suti senang sekali kuajak ke laut. Kami membawa peralatan penjerat kepiting.

Kami sama-sama mendayung perahu ke tengah laut menuju pulau kecil. Kami sama-sama berkeringat. Saat kami di tengah laut, kami berpapasan dengan nelayan lainnya.
“Sudah gelap, bakal turun hujan deras…” seorang nelayan berteriak.
“Ya.. Pak. Kami hanya memasang jerat kepiting dan akan langsung pulang. Besok pagi akan kami angkat,” jawabku dengan suara keras.

Begitu selesai memasang jerat kepiting, huja turun dengan deras disertai oleh petir. Kami cepat-cepat ke pulau kecil dan menambatkan perahu, lalu kami berlari ke dalam gubuk yang ada di pulau kecil itu. Sebuah gubuk kecil beratap rumbia dan berdindingkan anyaman daun kelapa. Kami duduk di bangku-bangku kecil yang ada di sana. Tiba-tiba petir menyabung lagi dan kilatnya menyambar-nyambar.
“Mas…aku takut,” kata Suti. Dia naik kepangkuanku dan memelukku. Aku juga memeluknya. Lama kami saling berpelukan.
“Mas… aku mau,” kata Suti berbisik.
“Kita tidak bawa kondom. Nanti kamu hamil dik. Jangan ya,” kataku.
“Jadi bagaimana dong Mas?”
“Biar Mas jilati saja ya…” bisikku. Suti diam saja. Kuangkat baju kaosnya dan kulepaskan tali bra-nya. Aku mengisap-isap perlahan teteknya. Kujilati lehernya dan kuelus-elus pantatnya dalam pangkuanku.
“Mas… aku mau. Aku mau mas…” rengeknya.
“Nanti amu hamil dik. Jangan ya,” kataku.
“Tidak mas… dua hari lagi aku akan haid. Pingangku sudah mulai sakit,” katanya. Oh… aku tidak menyadari, kalau adikku sudah pintar menandai haidnya.

Kuturunkan dia dari pangkuanku, Kulepas celananya. Hujan masih terus turun dengan derasnya. Aku juga melepaskan celanaku. Kami berdua setengah telanjang. Kuminta Suti kembali naik ke pangkuanku. Dia sudah tau tugasnya. Suti naik kepangkuanku. Perlahan dia tangkap kontolku dan memasukkannya ke memeknya. Suti menekan tubuhnya, agar kontolku tertelan oleh memeknya.
“Oh…Kandas, mas,” katanya.
“Ya.”

Kami berpelukan dan bibir kami terus menempel. Lidah kami tak hentinya berkaitan dan kami saling memeluk dan saling mengelus-elus tubuh kami berlawanan dengan sapuan-sapuan mesra.
“Mas… benar tidak melakukan ini sama ibu, kan?” tanya SUti masih mengandung curiga.
“Kamu jangan mengada-ada,” kataku.
“Kabarnya ibu hamil mas,” kata Suti.
“Ya.. kenapa kalau hamil. Kamu kan juga dengar, kalau malam itu mereka begituan juga,” kataku.

Suti Diam. Dia terus memelukku dan perlahan-lahan mengoyangkan tubuhnya. Dia memutar-mutar pinggangnya dan aku terus mengisapi teteknya yang mungil denganpentil yang kecil.
“Andaikan kita tidak bersaudara ya Mas,” kata Suti.
“Kenapa?”
“Kalau kita tidak bersaudara, kita akan pacaran. Kalau SUti tamat sekolah,. kita menikah<’ katanya.
“Hus… jangan pikirkan itu. Nanti kamu harus menikah dengan laki-laki lain,” kataku.
“Nanti kalau Suti sudah menikah dengan lak0-laki lain, kita tidak bisa seperti ini lagi,” katanya.
“Siapa bilang. Bisa dong. Kita akan buat pertemuan rahasia,” kataku meyakinkan dan Suti tersenyum sembari terus mengoyang-goyang pinggangnya.

Suti pun memeluk erat tubuh ku. Nafasnya sudah terenagh-engah. Oh…. Suti meleguh seperti lembu.
“Aku sudah sampai mas,” katanya. Aku tetap memel;uknya dan membiarkan dia berada di pangkuanku. Aku tahu, SUti sudah lemas. Kubiarkan dia diam di atas pangkuanku. Aku tetap memeluknya dan membelainya. Kontolku masih tetap tegang dan keras dalam memeknya.
“Mas… sayanag Suti, kan?” bisiknya.
“Ya.. aku tetap menyayangimu,” kataku merayunya.
“Mas jangan pernah lakukan ini pada ibu ya?” ulangnya lagi.
“Kamu jangan mengada-ada dik. Jangan mengada ada,” kataku.
“Benar ya Mas…”
“Benar. Dia ibu kita,” kataku mengandung penyesalan. Suti mencium leherku dan mendengus di sana. Terasa nafasnya hangat di leherku. Gairahku muncul. Aku memelukkan kedua tangankua ke pantatnya dan menarik maju-mundur, agar kontolku keluar masuk di memeknya.
“Terus mas… enak….” katanya. Aku meneruskannya. Suti memelukkan kedua tangannyake tengkukku dan mulai menempelkan bibirnya dan lidah kami kembali bertautan.
“Ayo mas… ayo mas. ayoooo…” katanya. Kulihat nafsunya demikian menggebu-gebu. Aku terus menggoyangnya dan terus mencucupi bibirnya dan suara hujan semakin lama semkin menderas saja. Sesekali suara petir menggema dengan didahului oleh kliat dengan lidahnya yang menyambar-nyambar. Pada suara petir yang ketiga, aku memeluknya dengan kuat dan Suti juga memelukku dengan kuat. Saat itu, aku melepaskan speermaku beberapakali ke dalam memeknya.
“Maaaasssss….ohhhh….”
Aku terus e\memeluknya dengan kuat dan membelai-belai kepalanya.
“Enggak pakai kondom lebih enak lo Mas,” katanya.
“Kenapa?”
“Entah. Rasa lendirnya lebih nikmat. Kalau gak pakai kondom, lendirnya gak terasa,” kata Suti tersenyum.
“Ya… kita haruspakai kondom, kecuali kalau kau dua hari lagi mau haid,” kataku.

Kontolku mengecil dan lepas dengan sendirinya dari memek Suti. Kuturunkan tubuh Suti, seiring dengan hujan mulai mereda. Malam sudah tiba dan langit makin hitam. Angin mulai rada juga.
“Kita pualng Mas. Aku takut,” kata Suti.
“Ya. Kita pulang”
Kami memakai pakaian kami dan mendekati perahu lalu naik ke atasnya. Aku melepaskan ikatan tali perahu dan kami mengkayuh ke darat. Di darat, kami sudahmelihat kerlipan lampu=lampu dari desa kami. Kami memacu dayungan kami. Jangan sampai hujan datang semakin deras lagi dan angin menderu-deru. Di bawah siraman hujan rintik kami mendayung dan mendayung perahu kami tanpa kenal lelah.

“Mas… aku masih mau,” kata Suti.
“Besok lagi. HUjan nanti deras dan angin nanti kencang, Kita harus segera tiba di rumah dan ganti baju, biar besok amu tidak sakit,” bujukku. Suti tersenyum dengan semangat dia mendayung perahu dengankuat dan perahu kami melaju dengan kencang.

Setiba di rumah, kami langsung mengganti pakaian kami dengan yang kering dan kami menyantap makanan yang sudah tersedia. Aku memberikan sebuah tablet obat flu, agar Sutio tidak sakit dan aku jugam enelan sebutir obat itu. 
Saat kami makan dengan lahapnya, ibu tersenyum dari sebuah sudut saat mata kami bertatapan. Aku mengerti apa arti senyumannya dan arti tatapannya. Terlebih tanpa sadar, aku menyuapkan sepotongikan ke mulut Suti dan Suti menerima dengan mulutnya, ketika aku menyodorkannya ke mulutnya. uti pun makan dengan bahagia.


Usia makan Suti mencuci piring bekas piring makan kami. Saat itu itu ibu datang mendekatiku dan berbisik.
“Kamu jangan lupa giliranmu menyirami bayi dalam kandunganku,” katanya. Aku mengangguk. Yah… sudahkepalang. Dalam perut ibu ada bayiku. Kata ibu yang sudah berpengalaman, aku harus terus menerus menyiraminya, kalau aku tak mau bayiku sakit dalam perut. Aku terkejut. Tiba-tiba saja, ibu mengelus kontolku dari balik celana. Dalam keterkejutanku, ibu malah tersenyum.
“Tadi dia sudah makan kenyang tuh,” sindir ibu. Aku mengerti maksudnya. Kontolku sudah makan kenyang dari memek Suti. Aku tersenyu kecil.
“Siapa yang kenyang, Bu,” tanya Suti menyahut dari belakang.
“Mas mu. Dia sendawa, berarti makannya kenyang,” kata ibu di dapur. Aku jelas mendengarnya.

Tiga hari setelah kejadian itu, aku didatangi ibu di dapur. Pagi itu, ayah pergi ke kecamatan. Katanya ada pertemuan partai yang mau kampanye. Ayah diundang oleh calegnya. Suti sekolah. Ibu langsung meraba kontolku dari balik celanaku. Pagi yang hangat itu, aku benar-benar jadi nafsu. Langusng kupeluk ibu dan mencium bibirnya dan aku mempermainkan lidahku dalam mulutnya. Ibu membalasnya. Kuinta ibu berjongkok.
“Untuk apa?” katanya. Aku hanya menatapnya dengan mataku aku meminta ibu mengikuti apa yang kumau. Ibu pun berjongkok. Kukeluarkan kontolku, lalu kusodorkan ke mulut ibu.
“Hisap bu,” kataku. Ibu sempat melihatku. Lalu kontolku dipegangnya, lalu dimasukkan ke dalam mulutnya.
“Aduh, Bu. Jangan kena gigi ibu, sakit,” kataku. Ibu berusaha agar gigibnya tidak mengenai kontolku. Aku merasa nikat sekali.
“Bagaimana Bu? Enak juga kan?” kataku. Ibu ku diam saja.

Ku minta ibu berlutut dan meungging. Ibu melakukannya. Kusingkap rok-nya. Ibu yang tidak memakai celana dalam kukangkangkan. Kumasukkan pelat-pelan kontolku ke lubang memeknya. Perlahan aku enusuknya dan perlahan pula aku menariknya.
“Bagaimana, Bu?” kataku.
“Enak. Teruskan,” katanya. AKu mencucuk tarik kontolku di dalam lubang memek ibu. Ibu mendesah-desah, bagaimana anjing yang baru saja usai berlari jarak jauh. Sampai akhrinya, aku melepaskan spermaku di dalam memek ibu.

Perut ibu semakin membesar. Ibu sudah tak mungkin lagi ut ke laut. Jika sore Suti tidak ikut latihan pramua atau les, Suti selalu menemaniku ke laut. Tentu dengan nasehat, hati-hati, jangan sampai Suti hamil dan jangan sampai ada yang tahu. Aku mengangguk. Aku pun melaut bersama Suti. Selalu saja, aku ketinggalan kondom. Suti juga tidak mengingatkan dan malah Suti sangat menginginkan aku tidak memakai kondom. Kami justru bersetubuh denga leluasa tanpa pengaman. Tanpa sadar, Suti hamil dalam usia 15 tahun. Aku sempat panik juga. Kalau digugurkan, bagaimana mengatakannya kepada ibu dan bagaimana mengatakannya kepad adokter yang akan menggugurkannya. AKhirnya aku dapat akal. AKu mengteahui kalau Amir suka mencuri-curi pandang kepada Suti. Dan beberapa kawan-kawan Suti suka mengolok-olok Suti dengan Amir dan Suti biasanya tertunduk malu, tapi Amir malah bangga dan senang.

AKu mulai meyakinakn SUti, kalau dia harus membawa Amir ke pulau ini, kemudian merayunya dan melakukan persetubuhan dengan Amir. Mulanya Suti tidak mau, atpi aku terus meyakinkannya, kalau kami tak mungkin menikah. Dengan perasaan berat, SUti akhirnya mau juga. Aku lebih dahulu ke pulau kecil dan mengendap di balik pohon bakau. Tak lama perahu kecil dinaiki oleh AMir dan Suti muncul. AKu sembunyi di balik pohon bakau yang lebat. AKu melihat AMir mulai merayu Suti. Usia mereka hanya selisih 4 tahun. Mereka pun berciuman. Saat itu Suti yag sudah lincah dan pintar mulai mengelus-elus kontol Amir. Amir membalas mengelus-elus memek Suti dan Amir melepaskan celananya. Perlahan pula Amir melepas celana Suti yang tidak memekai celana dalam. Perlahan Amir menindih Suti di atas perahu dan memasukkan kontolnya ke dalam memek Suti. Aku melihat dengan jelas, Amir menggenjot Suti dari atas sampai perahu terangguk angguk. Sampai akhirnya mereka merenggang dan Suti menangis. AKu mendengar Amir membujuknya dan memeluk Suti dengan tulus. Kejadian itu terulang berkali-kali atas petunjukku. Sampai akhirnya, aku meminta dikawani oleh dua orang tua mencari perahu yang dipakai Amir dan Suti. Kami mengendap-endap dari balik pohon bakau. Kami bertiga melihat Suti digenjot oleh Amir.
“Bagaimana. Kita tangkap basah,” kata salah seorang orangtua itu.
“Terserah. Tapi aku di sini saja. AKu malu,” kataku. Mereka memakluminya. AKhirnya kedua orangtua penduduk kampung kami memergoki mereka dan menyergapnya. Saat mereka menyergapnya aku puilang sendiri. Dari kejauahan aku melihat mereka membawa Suti dan Amir ke kampung dan aku sudah lebih dahulu sampai. Aku hanya tertunduak saja, saat keduanya dibawa ke rumah kepala desa. Kedua orang tua kami diundang datang dan semua diberitahukan.

Aku katakan, aku tak mau persoalan ini diperbesar-besar. Aku meinta agar mereka dinikahkan saja. Mulanya ayahku uring-uriongan. Tapi aibuku membentaknya dan aku menyetujui mereka menikah. Akhirnya, kedua orangtua Amir setuju mereka dinikahkan, karena ibu AMir sudah lama menyenangi adikku Sutinah.

Sore itu, beberapaorang di desa itu diundang, termasuk kepala sekolah Suti. Kepala desa memohon, agar Suti diperkenankan mengikuti ujian, minggudepan agar mendapat ijazah. Kepala sekolah setuju. Mereka dinikahkan dan ayahku menjadi walinya. Aku tertunduk. Saat mata Suti melirikku, aku tersenyum dan Suti tersenyum sembunyi-sembunyi.

Malam itu juga, Amir pindah ke rumah kami dan di rumah tirai pembatas di pasang. Aku tidur di dapur. Setelah sebulan, Suti mulai muntah-muntah. Hampir seluruh dengan mengathui kalau SUti hamil. Orangtua Amir sangat senang. Bahkan ada yang mengatakan,.Amir itu laki-laki perkasa. Begitu nikah langsung hamil. Tapi ada yang mengatakan. kalau Amir dan Suti diam-diam sudah lama melakukan hubungan suami isteri secara diam-diam. Semua memaklumi. Begitulah kalau des pantai.

“Ini anak Mas, Kan?” kata Suti berbisik. Aku mengangguk. Dalam hatiku, kalau setahu ini, aku akan mendapatkan dua orang anak sekali gus. Sati dari ibu dan satu dari adikku Suti.

Orang-orang kampung datang ke rumah kami, setelah tujuh hari ibu melahirkan seorang bayi laki-laki. Selamatan dibuatkan kecil-kecilan. Bacakan namanya. Ayaku senang ssekali atas kelahiran bayi mungil itu. Dalam usianya yang tua, orang brkata, kalau ayahkju masih hebat. Ayah pun dengan busung dada sangat bangga dikatakan demikian.

Duabulan setelah itu, giliran Suti melahirkan. Dia meraung-raung. Maklum anak pertama. Aku sangat gelisah akan keselamatan adikku Suti. Ada penyesalan dalam diriku. Ibu bidan desa terus menerus menemani Suti yang masih muda belia itu. Akhirnya aku mendengarkan suara tangisan bayi yang memecah hembusan angin senja. Bayi laki-laki kata ibu bidan. Aku pun lega. Ku dengar tangisan Suti langsung terhenti. Ibu pun sangat sibuk mengambil air dalam waskom. Bayi dibersihkan.

Setelah semua selesai, kami satu-persatu bergantian diberikan kesempatan m,enyalami Suti. Pertama Amir, kedua orangtuanya, ayahku dan terakhir aku. Aku mencium pipi SUti. Suti memelukku kuat dan meneteskan air mata. Aku juga.
“Selamat ya dik…” kataku.
Suti meraih tengkukku dan membisikkan ke telingaku.
“Bukan dik. Bune…” katanya berbisik.
“Aku mendekarkan mulutku ke telinganya dan megatyakan:” Selamat ya bune…”
Suti tersenyum di balik wajahnya yang masih pucat. Aku juga tersenyum. Semua menyaksikannya. Lalu ibuku angkat suara.
“Aku bahagia sekali. Anak laki-lakiku, sangat menyayangi adiknya Suti. Demikian juga Suti sangat menyayangi kang Mas-nya. Maklumlah, selama ini hanya ada mereka berdua, sebelum adik Suti laghir,” kata ibuku dengan sedikit bangga atau dibangga-banggakan.
Semua ikut memuji kami, aku dan SUti
TAMAT

Sabtu, 10 Agustus 2013

Tolong Hamili Aku

Surya adalah anak tunggal bu Wiwiek. Sejak kelas 1 SMA dia dipindahkan oleh ayahnya ke tempat neneknya bersekolah. Perkenalhain antara Wiwiek dengan suaminya tak terelakkan, setelah menurut suami Wiwiek dia berselingkuh. Perselingkuhan itu memang benar terjadi, tapi hanya lapioran orang, karena Wiwiek jugapintar menjaga rahasia. Setelah sekian tahun berpisah dan kemudian suami Wiwiek sudah berobat kemana-mana dan kontolnya diangap bisa berfungsi, akhirnya mereka rujuk kembali.



Saat itu pun Surya sudah lulusSMA dan dia ditarik kembali ke rumah mereka. Pada saat itu suami WIwiek berada di kota dan sekali seminggu pulang ke kebun teh seluas 20 hektar milik mereka. Wieik sengaja di tempatkan di sana, agar tidak berselingkuh. Mereka hanya berhubungan suami isteri sekali dalam seminggu, itu pun kalau suami Wiwiek tidak sedang sibuk.

Surya langsung ke villa di kebun teh, atas surahan ayahnya, agar dapat istirahat barang seminggu, menunggu pendaftaran di perguruan tinggi ternama. Surya tiba di villa kebun teh dan menekan bell. Villa itu sepi sekali. Surya sudah kedinginan. Bayangkan biasanya di Semarang, lalu piondah ke kebun teh yang sangat dingin di sore hari. Angin berhembus dari segala penjuru ke villa yang tempatnya di ketinggian. Betapa senangnya Wiwiek melihat anaknya muncul di depan pintu. Tinggi. Tiga tahun berpisah, membuatnya sangat rindu dan Surya juga sangat rindu. Langsung Wiwiek memeluk anaknya dan emncium bibirnya. Surya terkejut sekali.

Setelah pintu dikunci dan mereka ke ruang tengah, Wiwiek langsung memeluk Surya dan menciuminya. Tangannya meraba-raba kontol Surya dari balik celananya.
"Mama..."
"Ya sayang. AKu sangat mencintaimu. Aku tak sanggup berpisah denganmu."
Surya heran, kenapa ibunya demikian. Apakah ibunya sudah gila? Melihat tubuh ibunya yang sintal dan semakin cantik dan menggairahkan, Surya bergetar juga. Dengan cepat ibunya melepas dasternya. Cepat pula dia melepas bra dan menurunkan celana dalamnya. Wiwiek yang sudah kesetanan sudah telanjang bulat.
"Mama...?
"Kalau hanya kita berdua, aku bukan ibumu nak. Aku kekasihmu. Puasi ibu nak. Sudah lama aku menungumu. AKu tak pernah selingkuh dengan siapapun. Kini aku juga tidak berselingkuh. Tapi aku ingin bersetubuh denganmu, sayangku, cintaku..." ibunya menciuminya dan melepas satu persatu kanting baruSurya dan melepas semua yang ada. Angi terus berdesir, membawa dingin.
"Kita ke kamar sayang..." diseretnya tubuh Surya ke kamar tidurnya dan pintu dikunci rapat.
"Ayo sayang. Puasi mama Nak. Puasi mama sayang..." Ibunya memeluk dan menioumi Surya yang sudah telanjang dan terbengong seperti terkena stroom. Akhirnya Surya memberikan ciuman hangat pada ibunya. Mereka saling berpelukan.
"Oh... sayang, kontolmu sangat besar dan keras sayang. Belum pernah menusuk memek perempuan lain kan?" kata Wiwiek.
"Belum Ma.."
"Bagus, sekarang puasi ibu nak. Ibu sudah lama tidk terpuasi. Ayo sayang, ayolah..." Ditariknya Surya anaknya itu menindihnya. Disodorkannya teteknya ke mulut anaknya itu.
"Isap sayang-isap. Ayo Nak, puasi ibu nak, ayo sayang..." Surya juga sudah mulai bernafsu. Mereka melupakan diri mereak antara ibu dan anak. Mereka sepadang anak manusia yang benar-benar sedang saling membuituhkan.

Wiwiek tak mampu membendung keinginannya. Dia melakukan berbagai gerakan dari bawah dan anaknya memompanya dari atas. Pergumulan yang keras dan hangat itu membuat keduanya berpelukan rapat dalam udara dingin. Di luar angin terdengan menderu-deru.
"Ayo sayang, buntingi Mama nak. Buntingi Mama Nak, biar papamu merasa anak mu adalah anaknya. Ayo sayang..."
"Ya, Mam.. aku akan membuntingimu."
"Terima kasih sayang... tujah sedalam-dalamnya memek mama sayang. Enak kan? Nikmat, kan? Ayo sayang.... ayo," cerocos Wiwiek pada anaknya. Keduanya sudah tak perduli. Malam sekitar pukul 19.00, pak Amat dan Pak Ujang baru datang menjaga ruah mereka. Itu pun jauh digerbang dan satu atau setengah jam sekali, mereka baru ronda mengelilingi rumah. Sebenarnya di kawasan ityu tak ada maling. Tapi sebagaisebuah rumah besar dan milik bosa harusdijaga, agar kesannya kelihatan lebih elite.
"Habisi mama sayang," teriak Wiwiek. Surya terus menggenjo tubuh ibunya dengan kerakusannya. Suara bunyi air berceipak di dalam memek Wiwiek terdengar sebagai irama musik yang indah. Bibir mereka saling berpagut, lidah mereka saling berkait. Desir angin yang kuat menyelusupdari kisi-kisi jendela membuat mereka dingin. Merekamenutupi tubuh mereka pakai selimut tebal sampai ke leher. Selimut ituseperti bergelombang.

"Kamu ingin punya anak, kan sayang..." kata Wiwiek sembari terus mengguyang pantatnya dari bawah.
"Ingin, Ma. Aku ingin punya anak."
"Nanti kamu harusm enyayanginya ya. Jaga diabaik-baik dan sekolahkan setingi-tingginya."
"Ya. Mam."
"Nah... buntingi mama sayang,.Semprotkan spermamu sebanyak-banyaknyake dalam memek mama sayang. Kontolmu besar dan enak sekali. Ayo Nak," Wiwiek terus menyerocos seperti orang kesurupan. Surya anaknya pun terus memeompa.

"Ma, apa nanti tidak ketahuan?"
"Tidak sayang. Kita jaga rahasia. Ayosayang, buntingi Mama sayang. Mama mau punya anak darimu, bukan dari Papamu sibajingan itu. Ayo sayang, tujah memek mama sepuasmu," kata Wiwiek mendesah-desah. Sesekali dijilatinya leher anaknya, sesekali digigitnya bahu anaknya itu.
"Ma... aku sudah mau keluar Ma..."
"Ya sayang, mama juga sudah mau keluar. Ayolah, kita sama -sama dan keluarkan yang banyak sayang..."
"Ya Mam... ini dia," Surya memeluk mamanyasekuat tenaganya dan tubuhnya kejang. Wiwiek memeluk anaknya dengan kuat dari bawah dan berteriak sekuat tenaganya memenuhikamarnya.
"Buntingi mama sayaaaaaannnngggg..."
"Ya Ma. Mama harusBunting..." Bisik Surya. Merekabepelukan dengan kuat dan saling mendesahkan nafasnya dengan kuat.

"Terima kasih sayang... terima kasih. Doakan mama bunting dan anakmu akan lahir semibilan bula kemudian," kata Wiwiek.
Sejaksat itu, jika hanyamerekaberduadi Villa, keduanyabukan seperti ibu dan anak, melainkan sebagai sepadang kekasih. Setiap hari mereka berpelukan, berciuman, bermesraan dan saling membelai. Setiap sabtu, suami Wiwiek pulang ke villa. Mereka pastimelakukan persetubuhan. Ya.. hanya sekali dealam seminggu. Biasanya Wiwiek akan selalu dingin, walau nafas suaminya sudah ngos-ngosan. Sabtupagi, biasanya suaminya pulang ke kota dan Surya berangpat senin pagi, karean dia pada senin kuliah siang. Saat itu, mereka lakukan dengan penuh kemesraan dan penuh kenikmatan.

"Sayang... rabalah perut Mama syang. Bayimu sudah ada didalam. Sudah tiga minggu menurut dokter," kata Wiwiek senang. Surya senang sekali. Bayinya sudah tumbuh dalam rahim ibunya.
"Bayi ini, hasil kontolmu sayang," kata Wiwiek.
"Ya Ma. Mama harusmenjaga anakku dengan baik," kata Suryua.
"Anak kita sayang. Anak kita berdua. Ingat itu. Dan ini rahasia kita."
"Ya Ma."
"Kamu mau punya anak berapa dari mama sayang?"
"Dua Ma. Bila aku sudah tmat kuliah, mereka sudah masuk TK dan play grup. Saat aku belum berusia 40 tahun, mereka sudah sarjana, Ma."
"Ya sayang. Tapi Mama mau dientitilagi sayang. Puasi mama sayang.Mama tak pernah puas akan kontolmu sayang."
"Ya, Ma. Kontolku akan memuaskan Mama"
Merekabergumuldan saling memeluk, memeblai, menjilat dan memberikan yang terbaik pada lawannya. Keduanyapuas dan sangat menikmati hari-harimereka. Papa Suryajuga senang, karean sebentar lagi, diamengira anaknya akan lahir. Setiap kali dia mengelus perut Wiwiek, Wiwiek tersenyum dan dari beberapa meter, Surya mencibirkan bibirnya. Wieik melihat itu.

Dua tahu kemudian, Wiwiek bunting lagi. Surya senang bukan main. Tapi kali ini, ini diapunya rencana. Diamembubuhi beberapatetes racun ke dalam gelas papanya. Itu disaksikan oleh Wiwiek dan Wiwiek tersenyum. Setiap pulang ke Villa, Papanya ditetesi dua tiga tetes ke gelas minumnya. Terkadang bahkan dua sampai tiga akli.
Saat kandungan Wiwiek sudah tujuh bulan, Suami Wiwiek terjatuh di kantornya dan harus dibawa ke rumahsakit. Tiga hari di rumahsakit, suaminya mati.

"Ma... suami mu swudah mati," kataSurya melaluio telepon saat menyetormobilnyamenuju Jakarta.
"Hahahaha... baguslah. Kamu urus kuburannya. Malam ini Mama ke Jakarta," kata Wiwiek. Wiwiek menangis sejadi-jadinya di hadapan jenazah suaminy. Semua orang terharu. Semuanyamengucapkan rasa belasungkawa. Esoknya jenazah suaminya di makamkan. Malam itu juga mereka pulang ke villa, karean dia akan tahlilbersama para karyawan di villa. Semua orang dapat mahfum.
Setiap malam seusai tahlil, Surya dan Wieiek tidur sekaramar dan berpelukan dengan mesra.
"Semua orang tau, Mama sudh bunting sayang. Sekarang tak ada lagi yang menghalangi kita. Kita bebas," kara Wiwiek. Surya tersenyum.
"Kalau bayi ini sudah lahir, rahim mama harus ditutup agar takbunting lagi," kata Surya.
"Ok sayang. Mama juga berpikiran seperti itu."

Anakku Menjadi Suamiku Sesaat

Sudah seminggu Sandi menjadi suamiku. Dan jujur saja aku sangat menikmati kehidupan malamku selama seminggu ini. Sandi benar-benar pemuda yang sangat perkasa, selama seminggu ini liang vaginaku selalu disiramnya dengan sperma segar. Dan entah berapa kali aku menahan jeritan karena kenikmatan luar biasa yang ia berikan.

Walaupun malam sudah puas menjilat, menghisap, dan mencium sepasang payudaraku. Sandi selalu meremasnya lagi jika ingin berangkat kuliah saat pagi hari, katanya sich buat menambah semangat. Aku tak mau melarang karena aku juga menikmati semua perbuatannya itu, walau akibatnya aku harus merapikann bajuku lagi.



Malam itu sekitar jam setengah 10-an. Setelah menidurkan anakku yang paling bungsu, aku pergi kekamar mandi untuk berganti baju. Sandi meminta aku mengenakan pakaian yang biasa aku pergunakan ke sekolah. Setelah selesai berganti pakaian aku lantas keluar dan berdiri duduk di depan meja rias. Lalu berdandan seperti yang biasa aku lakukan jika ingin berangkat mengajar kesekolah.

Tak lama kudengar suara ketukan, hatiku langsung bersorak gembira tak sabar menanti permainan apa lagi yang akan dilakukan Sandi padaku.

Masuk.. Nggak dikunci, panggilku dengan suara halus.

Lalu Sandi masuk dengan menggunakan T-shirt ketat dan celana putih sependek paha.

Malam ibu… Sudah siap..? Godanya sambil medekatiku.
Sudah sayang… Jawabku sambil berdiri.

Tapi Sandi menahan pundakku lalu memintaku untuk duduk kembali sembil menghadap kecermin meja rias. Lalu ia berbisik ketelingaku dengan suara yang halus.

Bu.. Ibu mau tahu nggak dari mana biasanya saya mengintip ibu?
Memangnya lewat mana..? Tanyaku sambil membalikkan setengah badan.

Dengan lembut ia menyentuh daguku dan mengarahkan wajahku kemeja rias. Lalu sambil mengecup leherku Sandi berucap.

Dari sini bu.. Bisiknya.

Dari cermin aku melihat disela-sela kerah baju yang kukenakan agak terbuka sehingga samar-samar terlihat tali BHku yang berwarna hitam. Pantas jika sedang mengajar di depan kelas atau mengobrol dengan guru-guru pria disekolah, terkadang aku merasa pandangan mereka sedang menelanjangi aku. Rupanya pemandangan ini yang mereka saksikan saat itu.

Cerita Seks Sedarah | anakku suami ku seminggu | Tapi toh mereka cuma bisa melihat, membayangkan dan ingin menyentuhnya pikirku. Lalu tangan kanan Sandi masuk kecelah itu dan mengelus pundakku. Sementara tangan kirinya pelan-pelan membuka kancing bajuku satu persatu. Setelah terbuka semua Sandi lalu membuka bajuku tanpa melepasnya. Lalu ia meraih kedua payudaraku yang masih tertutup BH.

Inilah yang membuat saya selalu mengingat ibu sampai sekarang, Bisiknya ditelingaku sambil meremas kedua susuku yang masih kencang ini.

Lalu tangan Sandi menggapai daguku dan segera menempelkan bibir hangatnya padaku dengan penuh kasih dan emosinya. Aku tidak tinggal diam dan segera menyambut sapuan lidah Sandi dan menyedotnya dengan keras air liur Sandi, kulilitkan lidahku menyambut lidah Sandi dengan penuh getaran birahi. Kemudian tangannya yang keras mengangkat tubuhku dan membaringkannya ditengah ranjang.

Ia lalu memandang tubuh depanku yang terbuka, dari cermin aku bisa melihat BH hitam yang transparan dengan push up bra style. Sehingga memberikan kesan payudaraku hampir tumpah meluap keluar lebih sepertiganya. Untuk lebih membuat Sandi lebih panas, aku lalu mengelus-elus payudaraku yang sebelah kiri yang masih dibalut bra, sementara tangan kiriku membelai pussy yang menyembul mendesak CDku, karena saat itu aku mengenakan celana mini high cut style.

Sandi tampak terpesona melihat tingkahku, lalu ia menghampiriku dan menyambar bibirku yang lembut dan hangat dan langsung melumatnya. Sementara tangan kanan Sandi mendarat disembulan payudara sebelah kananku yang segar, dielusnya lembut, diselusupkan tangannya dalam bra yang hanya 2/3 menutupi payudaraku dan dikeluarkannya buah dadaku. Ditekan dan dicarinya puting susuku, lalu Sandi memilinnya secara halus dan menariknya perlahan. Perlakuannya itu membuatku melepas ciuman sandi dan mendesah, mendesis, menghempaskan kepalaku kekiri dan kekanan.

Selepas tautan dengan bibir hangatku, Sandi lalu menyapu dagu dan leherku, sehingga aku meracau menerima dera kenikmatan itu.

Saan… Saann… Kenapa kamu yang memberikan kenikmatan ini..

Sandi lalu menghentikan kegiatan mulutnya. Tangannya segera membuka kaitan bra yang ada di depan, dengan sekali pijitan jari telunjuk dan ibu jari sebelah kanan Sandi, Segera dua buah gunung kembarku yang masih kencang dan terawat menyembul keluar menikmati kebebasan alam yang indah. Lalu Sandi menempelkan bibir hangatnya pada buah dadaku sebelah kanan, disapu dan dijilatnya sembulan daging segar itu. Secepat itu pula merambatlah lidahnya pada puting coklat muda keras, segar menentang ke atas. Sandi mengulum putingku dengan buas, sesekali digigit halus dan ditariknya dengan gigi.

Aku hanya bisa mengerang dan mengeluh, sambil mengangkat badanku seraya melepaskan baju dan rok kerjaku beserta bra warna hitam yang telah dibuka Sandi dan kulemparkan kekursi rias. Dengan giat penuh nafsu Sandi menyedot buah dadaku yang sebelah kiri, tangan kanannya meraba dan menjalar kebawah sampai dia menyentuh CDku dan berhenti digundukan nikmat yang penuh menentang segar ke atas. Lalu Sandi merabanya ke arah vertikal, dari atas kebawah. Melihat CDku yang sudah basah lembab, ia langsung menurukannya mendororng dengan kaki kiri dan langsung membuangnya sampai jatuh ke karpet.

Adapun tangan kanan itu segera mengelus dan memberikan sentuhan rangsangan pada memekku, yang dibagian atasnya ditumbuhi bulu halus terawat adapun dibagian belahan vagina dan dibagian bawahnya bersih dan mulus tiada berambut. Rangsangan Sandi semakin tajam dan hebat sehingga aku meracau.

Saaan.. Sentuh ibu sayang, .. Saann buat.. Ibu terbaang.. Pleaase.

Sandi segera membuka gundukan tebal vagina milikku lalu mulutnya segera menjulur kebawah dan lidahnya menjulur masuk untuk menyentuh lebih dalam lagi mencari kloritasku yang semakin membesar dan mengeras. Dia menekan dengan penuh nafsu dan lidahnya bergerak liar ke atas dan kebawah. Aku menggelinjang dan teriak tak tahan menahan orgasme yang akan semakin mendesak mencuat bagaikan merapi yang ingin memuntahkan isi buminya. Dengan terengah-engah kudorong pantatku naik, seraya tanganku memegang kepala Sandi dan menekannya kebawah sambil mengerang.

Ssaann.. Aarghh..

Aku tak kuasa menahannya lagi hingga menjerit saat menerima ledakan orgasme yang pertama, magma pun meluap menyemprot ke atas hidung Sandi yang mancung.

Saan.. Ibu keluaa.. aar.. Sann.. Memekku berdenyut kencang dan mengejanglah tubuhku sambil tetap meracau.
Saan.. Kamu jago sekali memainkan lidahmu dalam memekku sayang.. Cium ibu sayang.

Sandi segera bangkit mendekap erat diatas dadaku yang dalam keadaan oleng menyambut getaran orgasme. Ia lalu mencium mulutku dengan kuatnya dan aku menyambutnya dengan tautan garang, kuserap lidah Sandi dalam rongga mulutku yang indah. Tubuhku tergolek tak berdaya sesaat, Sandipun mencumbuku dengan mesra sambil tangannya mengelus-elus seluruh tubuhku yang halus, seraya memberikan kecupan hangat didahi, pipi dan mataku yang terpejam dengan penuh cinta. Dibiarkannya aku menikmati sisa-sisa kenikmatan orgasme yang hebat. Juga memberi kesempatan menurunnya nafsu yang kurasakan.

Setelah merasa aku cukup beristirahat Sandi mulai menyentuh dan membelaiku lagi. Aku segera bangkit dan medorong belahan badan Sandi yang berada diatasku. Kudekatkan kepalaku kewajahnya lalu kucium dan kujilati pipinya, kemudian menjalar kekupingnya. Kumasukkan lidahku ke dalam lubang telinga Sandi, sehingga ia meronta menahan gairahnya. Jilatanku makin turun kebawah sampai keputing susu kiri Sandi yang berambut, Kubelai dada Sandi yang bidang berotot sedang tangan kananku memainkan puting yang sebelah kiri. Mengelinjang Sandi mendapat sentuhan yang menyengat dititik rawannya yang merambat gairahnya itu, sandipun mengerang dan mendesah.

Kegiatanku semakin memanas dengan menurunkan sapuan lidah sambil tanganku merambat keperut. Lalu kumainkan lubang pusar Sandi ditekan kebawah dfan kesamping terus kulepaskan dan kubelai perut bawah Sandi sampai akhirnya kekemaluan Sandi yang sudah membesar dan mengeras. Kuelus lembut dengan jemari lentikku batang kemaluan Sandi yang menentang ke atas, berwarna kemerahan kontras dengan kulit sandi yang putih kepalanya pun telah berbening air birahi.

Melihat keadaan yang sudah menggairahkan tersebut aku menjadi tak sabar dan segera kutempelkan bibir hangatku kekepala kontol Sandi dengan penuh gelor nafsu, kusapu kepala kontol dengan cermat, kuhisap lubang air seninya sehingga membuat Sandi memutar kepalanya kekiri dan kekanan, mendongkak-dongkakkan kepalanya menahan keikmatan yang sangat tiada tara, adapun tangannya menjambak kepalaku.

Buuu.. Dera nikmat darimu tak tertahankan.. Kuingin memilikimu seutuhnya, Sandi mengerang.

Aku tidak menjawabnya, hanya lirikan mataku sambil mengedipkannya satu ke arah Sandi yang sedang kelejotan. Sukmanya sedang terbang melayang kealam raya oleh hembusan cinta birahi yang tinggi. Adapun tanganku memijit dan mengocoknya dengan ritme yang pelan dan semakin cepat, sementara lidahku menjilati seluruh permukaan kepala kontol tersebut. Termasuk dibagian urat yang sensitif bagian atas sambil kupijat-pijat dengan penuh nafsu birahi.

Sadar akan keadaan Sandi yang semakin mendaki puncak kenikmatan dan akupun sendiri telah terangsang. Denyutan memekku telah mempengaruhi deburan darah tubuhku, kulepaskan kumulan kontol Sandi dan segera kuposisikan tubuhku diatas tubuh Sandi menghadap kekakinya. Dan kumasukkan kontol Sandi yang keras dan menengang ke dalam relung nikmatku. Segera kuputar memompanya naik turun sambil menekan dan memijat dengan otot vagina sekuat tenaga. Ritme gerakanpun kutambah sampai kecepatan maksimal.

Sandi berteriak, sementara aku pun terfokus menikmati dera kenikmatan gesekan kontol sandi yang menggesek G-spotku berulang kali sehingga menimbulkan dera kenikmatan yang indah sekali. Tangan Sandipun tak tinggal diam diremasnya pantatku yang bulat montok indah, dan dielus-elusnya anusku, sambil menikmati dera goyanganku pada kontolnya. Dan akhirnya kami berdua berteriak.

Buu Dennook.. Aku tak kuat lagi.. Berikan kenikmatan lebih lagi bu.. Denyutan diujung kontolku sudah tak tertahankan
Ibu pandai… Ibu liaarr… Ibu membuatku melayang.. Aku mau keluarr .

Lalu Sandi memintaku untuk memutar badan manghadap pada dirinya dan dibalikkannya tubuhku sehingga. Sekarang aku berada dibawah tubuhnya bersandarkan bantal tinggi, lalu Sandi menaikkan kedua kakiku kebahunya kemudian ia bersimpuh di depan memekku. Sambil mengayun dan memompa kontolnya dengan yang cepat dan kuat. Aku bisa melihat bagaimana wajah Sandi yang tak tahan lagi akan denyutan diujung kontol yang semakin mendesak seakan mau meledak.

Buu… Pleaass.. See.. Aku akaan meleedaaakkh!
Tungguu Saan.. Orgasmeku juga mauu.. Datang ssayaang.. Kita sama-sama yaa..

Akhirnya… Cret.. Cret.. Cret tak tertahankan lagi bendungan Sandi jebol memuntahkan spermanya di vaginaku. Secara bersamaan akupun mendengus dan meneriakkan erangan kenikmatan. Segera kusambar bibir sandi, kukulum dengan hangat dan kusodorkan lidahku ke dalam rongga mulut Sandi. Kudekap badan Sandi yang sama mengejang, basah badan Sandi dengan peluh menyatu dengan peluhku. Lalu ia terkulai didadaku sambil menikmati denyut vaginaku yang kencang menyambut orgasme yang nikmat yang selama ini kurindukan.

Lalu Sandi membelai rambutku dengan penuh kasih sayang kemudian mengecup keningku.

Buu.. Thank you, i love you so much.. Terus berikan kenikmatan seperti ini untukku ya.. Bisiknya lembut.

Aku hanya mengangguk perlahan, setelah memberikan ciuman selamat tidur aku memeluknya dan langsung terlelap. Karena besok aku harus masuk kerja dan masih banyak lagi petualangan penuh kenikmatan yang akan kami lalui

Selasa, 28 Mei 2013

Memuaskan Ibu Mertua Hingga Ketagihan

Cerita sex ngentot ibu mertua kesepian yang seksi dan bahenol. Skandal seks tabu selingkuh dengan mertua ini terjadi beberapa bulan yang lalu. Saya punya situasi terjadi padaku baru-baru ini, bahwa kebanyakan pria akan memberikan kacang meninggalkan mereka untuk memiliki terjadi pada mereka! Ini tanpa diragukan lagi hal yang paling menarik yang pernah terjadi padaku pula. Saya bahagia menikah dengan dua anak, istri cantik, yang mencintai hampir semua bentuk seks, saya memiliki pekerjaan yang baik, rumah yang bagus dan hampir semua pria bisa inginkan. Kecuali itu, istri tetangga saya! Beberapa tahun yang lalu, saya dan istri saya punya rumah yang bagus dibangun di negara itu. Kami seperti terisolasi cerita sex setengah baya, sampai tahun lalu ketika Joe dan Tammy membeli banyak turun dari kami dan telah dibangun rumah mereka. Kami menjadi teman yang sangat baik dengan mereka. Tammy mengoceh knock-out! Bagi saya, ia hanya memancarkan seks sebagai fenomena alam. Dia 5’6 “tall, 122 lbs, kaki panjang cantik, dan sosok yang mengambil perhatian pria segera. Jadi cukup untuk mengatakan bahwa aku punya kacang panas untuk Tammy, hampir dari hari pertama mereka pindah di pintu berikutnya.



Tammy kadang-kadang berbaring di halaman belakang mereka dan matahari dirinya dalam balutan bikini. Dari kamar belakang kami rumah kami, saya memiliki pandangan yang cukup baik dari halaman mereka. Meskipun ia tidak pernah sunned dirinya telanjang, dia sering akan meletakkan dengan halter-nya dibatalkan, dan saya akan mendapatkan sekilas dari sisi salah satu payudara yang sempurna, sekarang dan kemudian. Saya biasanya pulang dari bekerja sebelum istri saya, dan dengan anak-anak keluar bermain, aku bisa naik dan mengintip Tammy. Aku dipompa cukup banyak keluar beberapa penisku saat memata-matai, selalu berharap untuk yang satu penuh tit menembak yang tidak pernah terjadi.

Well anyway, Joe adalah seorang konsultan rekayasa untuk sebuah perusahaan besar, dan pergi selama berminggu-minggu dan bahkan berbulan-bulan, sehingga Tammy akan datang cukup sedikit dan mengunjungi istri saya atau mereka akan pergi berbelanja bersama dan sebagainya. Sekitar setahun setelah mereka pindah, Tammy hamil dengan bayi pertama mereka. Istri saya telah memuncak kegembiraan saya selama kedua dari kehamilan, jadi itu tidak berbeda dengan Tammy. Semakin besar aku melihatnya, semakin hornier aku. Istri saya sering diuntungkan oleh itu, karena saya akan mendapatkan terangsang dari melihat Tammy dan kemudian fuck kotoran hidup dari istri saya malam itu.

Baru-baru ini ada datang suatu waktu ketika Joe berada di suatu tempat di Amerika Selatan selama tiga minggu, dan istri saya mengambil anak-anak ke Florida untuk mengunjungi orangtuanya. Saya tidak bisa mendapatkan waktu off karena berada di tengah-tengah proyek di tempat kerja.

Sabtu pagi, aku terbangun setelah tidur, dan melihat ke luar jendela saya terhadap Tammy. Saya senang melihat dia duduk di kursi geladak dengan celana pendek dan atasan bersalin pada tanggal. Dia kepalanya kembali dan membiarkan matahari yang hangat kaki dan wajahnya. Saat aku mengamati, aku bermunculan keras ditiup penuh, hanya menatapnya. Lalu saat aku perlahan-lahan membelai batang saya, Tammy mulai menggosok payudaranya susu nya. Mereka harus telah menyakitinya, karena dia terus menggosok-gosok pada mereka. Aku tidak bisa mengambil melihat tangannya membelai mereka bola susu lezat penuh, dan muncrat keluar beban besar terhadap ambang jendela. Tak lama setelah Tammy menghilang ke dalam rumah.

Hari berikutnya adalah hari Minggu dan aku tidur di sampai 10 pagi. Aku akhirnya bangun, mandi dan berpakaian di kemeja “T” dan celana pendek karena itu adalah seperti keluar hari yang indah. Ketika saya keluar untuk mendapatkan kertas saya di kotak surat, Tammy keluar di kotaknya juga. Jadi aku pergi untuk berbicara dengannya dan melihat bagaimana semuanya berjalan. Dia tampak cantik seperti biasa, dan aku bisa merasakan penisku mulai aduk saat aku mencuri beberapa mengintip di celana pendek yang ketat bahwa tampaknya menguraikan celah nya. Sementara berbicara, kita pelan-pelan berjalan ke arah garasi dan berdiri di sana berbicara.

Sebuah mobil turun jalan, dan kemudian memasuki halaman rumah nya. Sopir berhenti sampai dekat dengan kita baik oleh pintu garasi yang terbuka. Sebelum saya atau Tammy menyadari apa yang sedang terjadi, pengemudi cepat keluar dan datang kepada kami. Dia di depan kita begitu cepat, bahwa itu tidak segera mendaftar, bahwa itu adalah seorang pria yang mengenakan masker ski dan menodongkan senjata ke kita. “Kalian berdua, ke garasi sekarang atau aku akan membunuh kalian berdua.”

Kami tertegun saat kita melakukan apa yang pria bersenjata yang diminta. Saat kami memasuki rumah, ia memukul tombol garasi dekat dan membawa pintu bawah. Setelah di rumah kami diarahkan ke ruang tamu dan menyuruh untuk duduk di sofa. Aku duduk di salah satu ujung sementara Tammy duduk di ujung lainnya. Dia bertanya Tammy mana tasnya itu, dan menuntut dompet saya, yang saya memberinya. Setelah mengambil uang dari dompet Tammy dan dompet saya, ia berjalan berkeliling dan menaruh beberapa hal ke dalam karung yang dibawanya dengan dia. Saya tidak punya rencana bermain pahlawan, karena saya pikir dia akan pergi secepat dia mengambil sesuatu yang berharga.

Dia mengambil sepasang borgol dan menyerahkannya kepada Tammy, dengan instruksi untuk manset tangan tangan saya di punggung saya. Setelah dia melakukan apa yang ia inginkan, ia sampai di belakang saya dan mengunci mereka turun.

Kemudian situasi mengambil nada aneh. “Seberapa jauh bersama Anda?” katanya pada Tammy.
“71 / 2 bulan” jawab Dia.
“Lepaskan atas Anda” Apakah respon berikutnya. Aku tidak percaya telinga saya juga tidak bisa Tammy, karena dia hanya duduk di sana tercengang.
“Bangunlah dan mengambil Anda dari atas, SEKARANG!”
Tammy berdiri dan mulai memohon dengan pria itu. “Tolong jangan perkosa saya, Anda akan menyakiti bayi saya, dan itu pertama saya,” ujarnya dengan air mata di matanya.
Aku menyuruhnya untuk meninggalkannya sendirian dan pergi dengan barang-barang kami, dia datang ke saya dan terjebak hak pistol di wajahku dan memberitahuku bahwa dia akan membunuh kita berdua jika dia tidak melakukan apa yang dia bertanya.

Lalu ia mundur dan dengan suara tenang berkata, “Jika Anda melakukan apa yang kukatakan, tak seorang pun akan terluka, bukan bayi baru Anda, jadi bekerjasama dan akan baik-baik saja, aku janji.”

Ini tampaknya untuk menenangkan Tammy, sambil menarik atas bersalin di atas kepala dan berdiri di sana mengenakan celana pendek dan bra. Bagian atas payudara susu yang terisi hampir tidak terkandung dalam cup bra. Meskipun situasi sedang diborgol dan memiliki pistol menunjuk kami, penisku mulai bergerak.

“Kau seorang gadis cantik dan aku tidak akan menyakiti Anda apapun, hanya tetap melakukan apa yang saya katakan Lepaskan bra..”
Tammy menembak menatapku tak berdaya saat ia meraih ke belakang dan membuka gesper dan meluncur cangkir ke depan dan mematikan. Payudara yang indah berdiri sempurna di dada, bengkak dengan susu. Para aureoles sangat besar, mereka jauh lebih besar daripada klise kuno tentang “Dollar perak.” Puting panjang dan tebal, mereka setidaknya 1 “panjang Saat aku memandangi payudara yang lezat itu, saya menjadi sangat sadar bahwa ayam saya kaku seperti di dalam batu celana pendek saya.. Saya menemukan diri saya mengantisipasi permintaan berikutnya pria bertopeng itu.
Tentu cukup. “Sekarang celana pendek.”
Tammy segera memenuhi, tampaknya telah mengundurkan diri dirinya untuk mengikuti instruksi dan mendapatkan itu berakhir. Dia berdiri di hanya sepasang celana singkat sebelum kami. Jumbai rambut vaginanya emas terjebak keluar dari legband masing-masing. Dia memiliki vagina yang sangat lebat, meskipun yang pirang, Anda bisa melihat celah cintanya melalui celana dalam.

Perhatian penembak kembali kepada saya saat dia menyuruh saya untuk berdiri. Saya berdiri dengan tidak ada cara untuk melindungi ayam keras saya karena tenda cut-off keluar jalan. Aku mengamati mata Tammy pergi ke selangkangan saya dan kemudian kembali lagi gugup. Saya mengamati bahwa pria bersenjata itu di negara yang sama gairah seperti aku. Dia memberi isyarat bagi saya untuk pergi ke Tammy. Aku berdiri menghadap dia, dan hanya dua kaki terpisah. Pesanan berikutnya Nya adalah untuk melepaskan sabuk Tammy untuk saya dan melepaskan celana pendek saya. Tammy melakukannya dan menegakkan kembali saat aku melangkah keluar dari cut-off. Berikutnya ia nya menarik celana saya turun. Ketika dia membungkuk dan meluncur mereka turun, ayam keras saya melompat ke luar dan, memukulnya di dagu.

“Ambil kemaluannya dan brengsek dia!” Apakah perintah berikutnya.
Tammy mengulurkan tangan dan membungkus tangan hangat di sekitar poros saya dan perlahan-lahan mulai membelainya.
Aku melihat dia di mata dan berbisik, “Maafkan aku.”
“Tidak apa-apa, itu bukan salahmu, jika kita melakukan apa yang dia ingin kita bisa menyingkirkannya.”
Penisku menanggapi memompa lambat dan saya harus mengakui bahwa rasanya fantastis. Itu bahkan lebih baik ketika dia memerintahkan saya untuk menghisap payudaranya. Aku punya erangan rendah darinya karena saya tertutup puting cokelat panjang di mulut saya dan mulai menyusu. Tindakan Tangannya dipercepat di penisku juga. Susu manis disemprotkan ke dalam mulut saya sebagai saya pergi dari puting ke puting susu. Saya sangat dekat dengan menembak di semua tempat.

Pengunjung kami terus berjalan di sekitar kita dan menonton aksi. Aku bisa mendengar napas Tammy menjadi compang-camping saat aku terus menghisap. Dia membuat kita berhenti dan mengatakan kepada Tammy untuk duduk di sofa. Ini membawa tingkat mata dengan penisku sakit. Ujung yang mengalir precum.

“Aku ingin kau mengisap kemaluannya.” Apakah urutan berikutnya.
Jantungku berhenti berdetak ketika aku mendengar itu! Aku hampir trans saat aku menunduk untuk melihat Tammy meraih penisku dan membimbingnya ke bibir cantik. Aku mengerang keras sambil menelan kepala. Saya pikir dia hanya akan membawa ke mulutnya dan mencoba untuk berpura-pura menjadi bertiup saya. Tapi saya terkejut dan senang, aku merasa lidahnya mulai berputar-putar di sekitar kepala, kemudian dia mengambil lebih dari saya sebagai tangannya yang bebas menangkup bola yang berat. Dia mulai memompa dan suction yang disengaja itu surga. Gadis ini bisa flat-out ayam mengisap. Dia menggulung bola saya di tangannya dan membawa saya hampir semua jalan masuk aku tidak membual di sini, tapi saya memiliki 8 “ayam yang cukup tebal Agar dia deep throat saya adalah pengalaman baru bagi saya.. Istri saya tidak pernah lebih dari setengah di mulutnya.

Napas saya mulai terengah-engah sebagai anggota saya terjebak di dalam mulut panas. Pengunjung kami bisa tahu aku tentang untuk cum juga. Ia memerintahkan dia untuk minum semua dari air mani saya dan tidak berani untuk menarik off dari penisku. Tammy mematuhi permintaannya bahkan lebih baik daripada meminta. Saat ia merasa kepala ayam saya mulai membengkak, ia menarik jalan belakang dan kemudian membawa saya ke dalam rambut kemaluan saya dalam satu gerakan cepat.

Itu itu! Aku berteriak senang saat aku merasakan semburan pertama peluncuran itu sendiri jauh di tenggorokannya. Pada saat semburan berikutnya dimulai poros saya, ia mundur lagi sampai hanya kepala itu di mulutnya. Lidahnya akan 90 mil per jam di sekitar dan sekitar. Saya menembak beban terbesar dalam hidup saya ke dalam mulutnya. Setelah menyembur kuat 4, aku merasakan napasnya meniup di sekitar penisku, dan saat aku melihat ke bawah, pengunjung kami telah memasukkan jarinya ke dalam merebut dan dia Cumming di jarinya mengganggu.

Setelah kejang saya muncrat mereda, Tammy masih perlahan-lahan terus menjilati dan mengisap, sampai dia diperintahkan untuk berhenti. Ketika ia membiarkan saya ayam plung keluar dari bibir yang indah, aku menunduk dan mengatakan padanya aku menyesal dan aku tidak bisa menahannya. Dia mendongak dan bilang baik-baik saja dan mengedipkan matanya.

Berikutnya Tammy disuruh berbaring telentang di sofa dan menyebar kakinya. Saya kemudian dipaksa, DIPAKSA? menjilati celah panas basah, sampai dia meraih kepalaku dan mencapai klimaks liar. Hal ini telah memberi saya lagi keras pasti. Vaginanya begitu lezat itu fantastis.

Selanjutnya dia harus berlutut dan menghadap ke belakang sofa. Aku diperintahkan untuk mendapatkan belakangnya. Aku berada di surga, karena aku tahu aku akan geser penisku ke dalam vagina saya hanya makan, dan yang saya telah dipompa berpikir penisku kali begitu banyak. Pengunjung kami bergerak di sekitar di depan Tammy di belakang sofa dan mengeluarkan kemaluannya. Dia pindah meneruskan meluncur ke dalam mulutnya. Dia kemudian memerintahkan saya untuk menyetubuhinya dari belakang. Sulit dengan tangan diborgol di belakang punggung saya, untuk berbaris dengan vaginanya. Setelah dua kali hilang, tangan Tammy kembali dan lancar membawaku ke dalam dirinya.

Dia tampak sangat gembira dan benar-benar masuk ke dalamnya, dia menyodorkan kembali padaku dan benar-benar memompa dan mengisap ayam di mulutnya. Itu tidak lama dan pengunjung kami mengerang dan mulai menembak cum ke dalam mulutnya. Hal ini membuatnya pergi juga, dan aku bisa merasakan klimaks saat otot-otot vaginanya pergi liar di sekitar penisku. Itu terlalu banyak bagi saya, dan membawa saya ke tepi saat aku dirilis jauh di dalam dirinya. Tammy pergi liar saat ia merasa aku kosong ke dan menarik mulutnya dari ayam dan berteriak pembebasannya. Menerima menyembur dari air mani di rambut dan wajahnya. Satu lonjakan mendekati bahunya dan memukul saya di leher, saat ia liar dipompa ayam menyembur dan terus berteriak bahwa semuanya itu baik.

Selanjutnya, saya dipaksa untuk menonton sebagai penyusup kami mengambil vaginanya dari belakang. Sekali lagi Tammy klimaks kekerasan saat ia menembak beban kedua ke dalam dirinya. Menonton yang telah membuat saya setengah tegak dan aku berharap untuk pertarungan ketiga, tetapi tamu kami membuat saya berbaring telungkup di lantai sambil membuka kunci borgol di pergelangan tangan saya.

Ia membuat kita mengikutinya sekitar ke kamar masing-masing ia merobek telepon dari jack, dan memberitahu kami bahwa jika kita mencoba untuk mengikutinya, ia akan membunuh kita. Dia mengatakan kepada kami bahwa terserah kepada kita jika kita ingin melaporkan ke polisi, tapi lebih baik kita berharap mereka menangkapnya, atau ia akan kembali dan membunuh kita dan keluarga kita.

Dia pergi sebelum salah satu dari kami menyadari hal itu. Saya mencoba untuk mendapatkan nomor lisensi, tetapi tidak mampu saat ia melesat pergi. Tammy dan aku sama-sama masih telanjang seperti yang kita bahas apa yang harus dilakukan. Dia duduk di tepi sofa sementara aku datang padanya, mengatakan padanya betapa menyesalnya aku bahwa ini terjadi.

Dia tersenyum dan berkata, “Ini bukan salahmu, dan tidak ada benar-benar ada salahnya dilakukan Kecuali Aku sangat malu, bahwa aku begitu mudah mencapai klimaks, aku mencoba untuk menahan..”

Saya meyakinkannya bahwa dia tidak bersalah dan bahwa aku mengerti dan memiliki perasaan yang sama. Aku telah menyadari saya ayam pengerasan sisa jalan saat aku berdiri di depannya, banyak di posisi yang sama seperti dia ditiup saya sebelumnya. Kemudian mata Tammy turun dari tambang ke penisku, dan dia mengulurkan tangan, membungkus tangannya di sekitar itu dan sekali lagi membawanya ke mulutnya dan memberi saya lagi blow job indah.

Kami mandi bersama dan kacau lagi sebelum aku pulang. Malam itu kami pergi keluar untuk makan malam dan sekali di rumah, saya mengosongkan payudara mereka susu seperti yang kita perlahan-lahan hancur. Kami sudah bercinta sejak itu. Setiap sekarang dan kemudian ketika istri saya rumah atau suaminya adalah rumah, kita akan bertemu di tempat parkir mal dan dia akan meniup saya ada di dalam mobil. Atau kita akan pergi ke motel dan fuck otak kita keluar. Dia seorang bayi perempuan sehat dengan cara, dan payudara feed dan saya baik setiap kali ia mendapat kesempatan.

Sudah 6 bulan sejak “Seks Paksa” kita ketika sepupu saya John, datang mengunjungi saya dari Tennessee. Dia hanya tinggal beberapa hari, meskipun, karena saya pasti tidak ingin dia mengalami Tammy. Dia mungkin bisa mengenali suaranya. Anda lihat, ide penembak bertopeng milikku, dan itu sepupuku Yohanes dengan senjata. Dia mendapat blow job gratis dan keluar bercinta cantik dari kesepakatan, dan uang tunai $ 500 untuk boot dari saya. Itu adalah $ 500 terbaik yang pernah saya menghabiskan.

Tammy dan Joe telah sejak pindah untuk perusahaan dan aku rindu vagina ekstra saya. Aku tidak pernah mengatakan yang sebenarnya, jadi jika ia pernah membaca ini, meskipun nama sebenarnya tidak Tammy, dia pasti akan mencari tahu bagaimana saya bisa mendapatkan ke dalam dirinya. Saya tidak berpikir dia akan diingat meskipun! Dalam waktu yang berarti, rumahnya dibeli oleh pasangan yang lebih tua. Istri adalah 43, tapi sangat baik tersimpan, bukan knock-out seperti Tammy, tapi masih aku ingin menidurinya kapan. Suatu ketika sepupuku Yohanes memiliki waktu untuk datang dan mengunjungi itu!